
"Wah ... cantik sekali ...."
"Apakah itu ibu guru yang yang baru?"
"Masa, sih? Bukannya kata Miss Ester tidak ada guru baru lagi?"
Tiga orang anak perempuan sedang terkagum-kagum memandangi seorang wanita cantik yang baru saja turun dari mobilnya di parkiran depan gerbang sekolah. Mereka anak-anak TK teman sekelas Kenzo. Saat jam istirahat, ketiganya bermain di dekat gerbang, mengintip melalui pagar besi di halaman depan sekolah.
Wanita cantik yang baru saja mereka lihat adalah Silvia, ibu kandung Kenzo. Ia sengaja dagang sendiri untuk menjemput Kenzo.
Hari ini menjadi pertama kalinya ia hadir di sekolahan putranya. Rasa bersalah ia rasakan di dada, tiga tahun sudah ia tidak membersamai Kenzo dan putranya telah tumbuh besar dengan cepatnbahkan telah bersekolah. Ia ingin menebus waktu yang telah disia-siakannya dan kembali merawat Kenzo secara tulus.
Setelah mendulang kesuksesan sebagai seorang model, kini ia bisa berjalan tegak dengan percaya diri, tidak seperti sebelumnya. Karirnya di luar negeri dirasa sudah cukup sebagai bekal hidup di tanah air. Mungkin ia akan melanjutkan karirnya di dalam negeri atau beralih menjadi seorang pengusaha. Hal terpenting untuknya saat ini untuk berkumpul dengan anak dan suaminya.
"Halo, permisi, Pak ... saya Silvia, ibunya Kenzo Atmaja. Boleh saya masuk untuk bertemu dengan ibu kepala sekolah?" tanya Silvia kepada salah satu satpam penjaga gerbang.
Satpam tersebut membukakan pintu untuknya. Salah seorang di antaranya menawarkan diri untuk memandu Silvia menuju ruang kepala sekolah.
"Halo ...."
Silvia mrnyapa ketiga anak yang masih terbengong-bengong memandanginya di balik gerbang. Mereka tiga anak perempuan yang sangat imut dan manis membuat perasaan Silvia semakin bahagia melihat mereka.
"Mommy ...."
Dari arah lapangan bermain, Kenzo berlari kencang menghampiri ibunya. Saking kencangnya, ia hampir menabrak ibunya sendiri.
__ADS_1
"Hati-hati, Kenzo!" Silvia mengangkat tubuh Kenzo dan menggendongnya. Anak berusia lima tahun itu masih manja-manjanya kepada sang ibu. Apalagi selama tiga tahun ia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu.
Kenzo sengaja menempel pada ibunya. Ia tersenyum kepada teman-teman yang memperhatikannya, seolah memberitahu kepada mereka yang pernah mengejeknya tidak punya ibu. Kenzo bangga memiliki seorang ibu yang sangat cantik dan juga baik hati. Akhirnya doa Kenzo setiap malam terkabul, ibunya kini telah kembali.
"Di sini ruangannya," ucap saptam tersebut mempersilahkan Silvia masuk.
"Terima kasih, Pak." Silvia mengembangkan senyum.
Ia melangkahkan kaki ke dalam ruang guru. Di sana ada beberapa orang guru yang sedang sibuk di meja masing-masing, juga ibu kepala sekolah yang sedang berada di sana. Mereka memberikan tatapan keheranan saat Silvia dan Kenzo masuk ke dalam. Dengan ramahnya Silvia tersenyum kepada mereka.
"Selamat siang, Ibu Jihan," sapanya sembari menyalami kepala sekolah di tempat putranya bersekolah. "Nama saya Silvia, ibunya Kenzo," lanjutnya.
Para guru sudah tahu siapa Silvia, seorang model yang dulu juga sempat terkenal. Hanya saja, mereka baru pertama kali bisa bertemu langsung dengan Silvia, ibu dari Kenzo. Silvia tampak lebih cantik dilihat secara langsung. Tak heran mereka sampai terpana.
"Iya, Ibu. Silakan duduk." Ibu Jihan mempersilakan Silvia duduk di kursi depannya. "Suatu kehormatan bagi kami bisa menerima kehadiran Anda, Ibu Silvia."
"Tidak apa-apa, Ibu. Kami tetap menghargai orang tua yang mau berkunjung dan ikut terlibat dalam pendidikan putranya. Kenzo di sini sangat bagus perkembangannya, sudah bisa menulis dan membaca. Dia juga anak yang aktif, ceria dan terampil."
"Mommy ... Kenzo diajari menulis sama Miss Retha! Dia juga mengajari Kenzo membaca," sahut Kenzo dengan nada bicara polosnya.
"Miss Retha? Siapa yang namanya Miss Retha?" tanya Silvia kebingungan.
"Ah, Maaf, Ibu. Dia guru Kenzo yang dulu, tapi ... sekarang sudah tidak mengajar lagi di sini," jawab Ibu Jihan dengan raut wajah terlihat kaku untuk menceritakannya.
"Mom, Miss Retha itu baik, suka menemani Kenzo belajar. Kenzo suka Miss Retha."
__ADS_1
Silvia jadi penasaran dengan nama guru yang selalu dibicarakan oleh Kenzo. Bahkan, di apartemen, nama Miss Retha sesekali disebut oleh putranya. Seakan anak itu memiliki ikatan tersendiri dengan gurunya.
"Saya jadi ingin bertemu dengan Miss Retha. Sepertinya putra saya sangat menyukainya. Kalau boleh tahu, kenapa Miss Retha berhenti dari sini?"
"Itu urusan pribadi, Bu. Saya juga tidak tahu alasan pastinya." Ibu Jihan berkilah untuk menutupi cerita sebenarnya.
"Kenzo tipe anak yang sulit dekat dengan orang lain. Kalau dia sangat menyukai gurunya, berarti yang namanya Miss Retha pasti orang baik."
Ibu Jihan tersenyum. "Benar, Ibu. Miss Retha memang guru yang baik dan ramah. Anak-anaknjuga menyukainya. Seperti guru yang lain juga ramah-ramah, namun setiap anak biasanya memiliki guru favoritnya masing-masing.
"Kenzo ... kelas kita mau masuk ... apa kamu mau ikut masuk bersama Miss Ester?" tanya Miss Ester yang kebetulan berada di ruangan itu.
Kenzo menoleh, "Iya, Miss Ester ... tunggu Kenzo!" seru Kenzo. Anak itu meminta turun dari pangkuan ibunya dan berlari menggandeng tangan Miss Ester.
"Miss Ester guru yang sekarang mengajar di kelas Kenzo. Sebelumnya yang mengajar Miss Retha," kata Ibu Jihan. "Ini yang namanya Miss Retha." Ibu Jihan menunjukkan foto Miss Retha kepada Silvia.
Melihat sekilas potret wanita bernama Miss Retha itu, Silvia semakin yakin jika wanita itu memang wanita yang baik. Putranya begitu menyukainya sampai sering kali membahasnya. Sebagai seorang ibu yang pernah mengandung Kenzo selama sembilan bulan, menyusuinya hingga dua tahun, terus terang Silvia merasa iri. Ia seakan memiliki saingan di hati Kenzo. Selain dirinya, ada nama Miss Retha yang telah tertulis di hati putranya.
"Sebenarnya dulu awal-awal di sini, Kenzo termasuk anak yang pemurung. Setelah didekati oleh Miss Retha, anak itu berangsur-angsur kembali ceria."
"Apa Anda tahu dimana alamat Miss Prita? Saya benar-benar ingin bertemu dengannya."
Ibu Jihan menghela napas. Dia merupakan orang yang memecat sendiri Retha dari yayasan. Tujuannya baik, agar rumor yang ia terima dulu tidak berkembang dan membuat nama Retha menjadi buruk. Terkadang ada hal yang harus dikorbankan untuk suatu hal lainnya.
"Saya sendiri tidak tahu sekarang Miss Prita tinggal di mana. Alamat kontrakan terakhirnya sudah tidak ditempati olehnya. Sepertinya dia sudah pindah ke daerah lain."
__ADS_1
"Sayang sekali, ya. Padahal aku ingin bertemu dengan orang yang putraku sukai."
Silvia membahas banyak hal tentang Kenzo bersama Ibu Jihan. Ia ingin tahu tentang keseharian putranya selama di sekolah, lebih mengenal hal-hal yang Kenzo sukai dan tidak disukai. Silvia benar-benar bertekad untuk memperbaiki dirinya.