
"Tumben kamu tidak merokok?" sindir Bara saat melihat Hendry sudah beberapa kali mengambil permen dari toples di atas mejanya. Permen itu memang sengaja Bara siapkan untuk dirinya sendiri. Sejak berhenti merokok, ia mengalihkan keinginannya dengan memakan permen.
"Istriku juga sedang hamil, aku pelan-pelan sedang belajar untuk berhenti," jawab Hendry sembari memasukkan permen kopi itu ke dalam mulutnya.
"Ya! Tapi kalau kamu kebanyakan makan permen, bisa ganti kena penyakit diabetes, Hen!"
Bara telah mendengarkan cerita secara langsung dari Hendry, bagaimana temannya itu akhirnya menikah dengan Citra. Ia kira Hendry yang kegilaannya hampir sama seperti Zack telah menghamili seorang wanita. Ternyata, semua gara-gara program inseminasi salah sasaran.
"Mau bagaimana lagi? Mulutku terasa pahit kalau seharian tidak merokok. Apalagi seluruh stok rokok di rumahku sudah dibuang oleh istriku."
Sesekali muncul rasa kesal mengingat rokok yang telah Citra buang. Selain harus membelinya di luar negeri, ia memang perlu mengeluarkan cukup banyak uang untuk mendapatkan stok rokok beberapa bulan. Berkat Citra, tempat tinggalnya bebas dari sebatang rokokpun.
"Hahaha ... Impresive juga dia. Tinggal kamu minta ganti ruginya, kan ... Kalau ingin merokok, ajak istrimu berciuman. Awal-awal berhenti aku juga melakukan hal itu. Bahkan sering berakhir di atas ranjang. Tapi, ampuh juga untuk berhenti merokok."
Hendry berdecak. "Boro-boro bisa seperti itu ...."
"Memangnya kenapa? Kalian kan sudah suami istri. Bukannya pengobatanmu juga sudah berhasil?" tanya Bara.
"Kok kamu tahu?" tanya Hendry penasaran.
"Dokter Aiman yang menanganimu kan temannya Zack. Aku tahu dari Zack. Kamu tahu sendiri dia seperti apa, kan? Tanpa kita minta juga sudah cerita duluan."
"Wah, dasar Zack sialan. Awas saja kalau bertemu dengannya lagi!" gerutu Hendry.
Awalnya Hendry dan Tatiana berkonsultasi dengan Dokter Ester. Lalu, Dokter Ester merekomendasikan kepada seorang dokter androlog bernama Aiman yang dianggap lebih paham tentang masalah disfungsi ereksi. Hendry memang pernah bertemu dengan Zack saat berkonsultasi dengan Dokter Aiman.
"Kamu belum mencobanya lagi? Istri barumu belum kamu sentuh, ya?" tanya Bara dengan begitu tenangnya. Memang, mereka sudah sama-sama se-frekuensi sampai bahasan seperti itu dianggap biasa.
"Boro-boro seperti itu, Bar! Aku dekati saja dia takut!"
"Uhuk! Uhuk!" Bara sampai tersedak saat minum. Ia ingin menertawakan Hendry. "Hahaha ... Kamu memang menyeramkan. Aku setuju dengannya. Wajar Citra takut padamu," ledeknya.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Hendry.
"Tumben tidak kamu paksa. Seperti bukan Hendry yang biasanya," ledek Bara lagi. Lelaki yang selalu over percaya diri itu tiba-tiba tidak bisa menakhlukkan wanita yang baru saja dinikahi. Seakan kharisma seorang Hendry tidak mampu mempesona seorang Citra.
"Masalahnya dia punya trauma. Apalagi dia sedang hamil. Aku jadi tidak tega," ucap Hendry.
"Hebat kamu bisa menahannya. Apa punyamu tidak kepenuhan setelah berfungsi kembali? Kasihan nganggur lagi. Hahaha ...." Hari ini Bara terlihat sangat bahagia. Akhirnya ia bisa sepuas hati menistakan Hendry.
Hendry yang kesal hanya bisa menyalurkan amarahnya dengan memakan kembali permen kopi di meja Bara.
"Ngomong-ngomong, dia punya trauma apa sampai tidak mau disentuh lelaki? Bukannya dia juga sudah pernah menikah?" tanya Bara penasaran.
"Dia diselingkuhi suaminya."
Bara tercengang mendengar jawaban dari Hendry. Ia hanya mangguk-mangguk saja. "Berat juga masalahmu. Kalau begitu, aku hanya memberimu saran untuk sedia banyak permen di rumah. Kasihan sekali nasibmu. Ish ish ish ...."
Hendry membulatkan mata menatap Bara. Temannya itu merasa kasihan tapi masih sempat-sempatnya meledek.
"Jangan sampai Zack tahu masalahmu, bisa habis kamu dibahas olehnya terus setiap hari. Hahaha ...." Bara tertawa lepas membayangkan jika Zack ada di sana.
"Hahaha ... Tapi, untuk membuat istrimu bisa luluh, mungkin kamu bisa mencobanya pelan-pelan. Mungkin berusaha menjadi temannya dulu sampai dia merasa nyaman denganmu. Tiba-tiba menikah denganmu pasti sangat mengagetkan untuknya, kan ... Apalagi kalian harus hidup bersama dengam wakru pendekatan yang singkat."
"Sebenarnya kami sudah saling kenal sejak SMA."
"Hm, seharusnya bisa lebih mudah mengambil hatinya."
Hendry hanya bisa menggaruk kepala. Mungkin salahnya dulu menjadi pemuda yang terlalu menyebalkan sampai Citra membencinya. Bahkan sampainterbawa hingga sekarang kebenciannya itu. Jadi, sebaik apapun usaha yang Hendry lakukan, akan tetap terlihat buruk di mata Citra.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Tak berapa lama Retha muncul dari balik pintu dengan seulas senyuman. "Mas, aku sudah selesai membuat donat dibantu Citra. Kita makan di rooftop, yuk!" ajak Retha.
__ADS_1
"Oke, ayo kita ke sana!" jawab Bara. Ia mengajak Hendry agar mengikuti dua wanita itu ke arah rooftop.
Citra terkagum-kagum saat menapaki area rooftop yang cukup luas. Di sana ada Kenzo yang masih asyik berenang bersama pelampungnya. Ruangan itu merupakan bagian teratas Tower Nakula yang langsung berhadapan dengan langit.
Selain kolam renang, masih terdapat space yang luas cocok untuk pesta barbeque di tempat terbuka. Sepanjang tepian dipasangi kaca tebal yang berfungsi sebagai tembok pembatas. Sekaligus untuk memandangi suasana kota dari tempat tertinggi. Pemandangan dari atas sana sangat indah.
"Kenzo Sayang, Mama membuatkan donat untukmu! Ayo kita makan bersama!" panggil Retha.
Kenzo yang mendengar nama makanan kesukaannya disebut langsung berenang ke tepian. Seperti biasa, ia harus menjadi orang pertama yang memilih donat kesukaannya. Kenzo memilih donut dengan hiasan coklat putih dan kacang almond.
Citra masih terpana dengan keindahan suasana di tempat itu.
"Apa kamu juga menginginkan tempat tinggal seperti ini?" bisik Hendry secara tiba-tiba.
Citra sampai agak merinding saat hembusan napas Hendry mengen telinganya. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. "Aku rasa setiap orang pasti menginginkan tempat tinggal seperti ini," ucap Citra.
"Kalau kamu yang menginginkannya, akan aku belikan untukmu," kata Hendry.
Citra tersenyum-senyum. "Harganya dua kali lipat lebih dari apartemen yang kita tempati."
"Harga tidak masalah. Asal kamu nyaman, akan aku berikan padamu."
Citra terdiam. Padahal ia hanya bercanda tetapi Hendry sepertinya menanggapi dengan serius.
Mereka ikut memakan donat yang telah terhidang di sana sembari menyaksikan keuwuan pasangan Bara dan Retha di sana. Dua orang itu seakan lupa jika di sana ada tetangga yang mereka undang untuk datang.
Hendry menggenggam tangan Citra secara tiba-tiba. Membuat wanita itu langsung menoleh heran kepadanya. Dengan percaya dirinya Hendry mencium tangan itu. Citra tak bisa melawan meskipun risih. Ia tidak enak hati jika terlihat tidak harmonis di hadapan orang lain. Untung saja Kenzo sudah kembali berenang membawa sepiring donat pilihannya.
***
Sambil menunggi update berikutnya, silakan mampir ke karya-karya author yang lain 😘
__ADS_1