
Manajer Hans berlutut di hadapan Bara sembari menundukkan pandangannya. Ia tak menyangka jika wanita yang sudah ditipunya untuk tetap bekerja di dalam klab malam miliknya merupakan kekasih Bara, pelanggan tetap di tempatnya.
Kantornya sudah diobrak-abrik oleh anak buah Bara. Ia bahkan diseret untuk menghadap Bara di dalam kamar yang semalam Bara pakai. Hans telah berurusan dengan orang yang salah. Ia tak bisa mengelak atau membela diri, ia harus mengatakan semua dengan kejujuran.
"Jadi kamu yang sudah memberikan minuman bercampur obat untuk kekasihku?" tanya Bara dengan raut wajah penuh emosi.
"Maafkan saya, Tuan Bara. Saya tidak tahu kalau Retha kekasih Anda."
"Kalau dia bukan kekasihku, berarti kamu tetap memberikan obat itu kepada wanita tersebut?"
Hans tidak bisa menjawab pertanyaan Bara. Ia seakan berada di tepi jurang saat dihadang harimau tepat di hadapannya.
"Ada masalah apa kamu dengan Retha? Dia ingin berhenti karena aku yang menyuruhnya."
"Saya yang salah, bukan Nona Retha." Tiba-tiba Hans menjadi ramah menyebut Retha. "Sebenarnya ini kemauan Zoy. Dia yang sudah lama mengincar Nona Retha."
Retha yang mendengarkan percakapan mereka dari atas ranjang terkejut mendengar nama Zoy disebut. Ternyata pelanggan menyusahkan itu yang selalu mengincarnya. Memang, sudah beberapa kali lelaki itu mencoba merayunya. Ia tidak menyangka Zoy akan bertindak selicik itu.
"Siapa Zoy?" tanya Bara penasaran.
"CEO perusahaan XXX yang bergerak di bidang agensi model dan iklan."
Bara akan mengingat nama tersebut dan merencanakan sesuatu sebagai pelajaran untuknya. Ia tidak rela wanitanya diganggu oleh lelaki lain. Apalagi Retha memang berniat ingin ia nikahi secepatnya.
"Lain kali, jangan pernah coba-coba untuk menipu orang. Kalau aku menemukan kasus semacam ini lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan bisnismu ini!" tegas Bara.
"Baik, Tuan Bara. Maafkan atas kekhilafan saya."
"Silakan keluar dari ini!" perintah Bara.
Hans pamit keluar dari ruangan tersebut. Bara menghampiri Retha yang masih terduduk di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Sayang, kita pulang sekarang, ya!" ajak Bara. Ia mengangkat tubuh Retha ke dalam gendongannya.
"Mas, aku malu," lirih Retha sembari menyembunyikan wajahnya pada bahu Bara.
"Kenapa harus malu? Ini memang pertama kalinya untukmu. Wajar kalau masih kesulitan jalan. Kalau sudah biasa juga nanti langsung bisa salto dan kayang kalau mau," gurau Bara.
Retha semakin malu dengan perkataan yang Bara ucapkan. Apalagi di sana ada beberapa anak buah Bara yang standby menjaga.
Bara memperlakukan Retha bak seorang putri. Ia penuh kehati-hatian menggendong wanitanya. Perasaannya masih berbunga-bunga sejak semalam. Ia jadi semakin tidak sabar untuk menikahinya.
Di dalam mobil, Bara masih mencuri-curi peluang untuk berciuman dengan Retha. Momen pertemuan pertama setelah berpisah seakan tak juga cukup untuk melepas kerinduan.
"Mas, tubuhku sudah sakit semua. Nanti jangan ulangi lagi di apartemen. Pokoknya Mas Bara tidak boleh menyentuhku sebelum kita menikah," tegas Retha.
"Tapi pegang ini masih boleh, kan?" tanpa sungkan Bara memegang dada Retha. Wanita itu segera menyingkirkan tangannya. "Ini juga tidak boleh! Hanya boleh ciuman sampai kita menikah."
Bara memasang wajah cemberut. "Ini tidak adil. Bagaimana bisa aku tahan selama itu? Kamu sudah sekali membuatku ketagihan dan sepertinya aku tidak akan bisa berhenti. Itu sama saja dengan menyiksaku." Tentu saja Bara mengeluh. Setelah sekian lama akhirnya bisa mencicipi lagi yang namanya org4sme, ia disuruh puasa lagj sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Itu hal yang sangat tidak mungkin. Sekarang saja hanya berdekatan dengan retha miliknya sudah terus-terusan menegang. Juniornya seakan tak kenal lelah dan tak kenal kata puas.
"Baiklah, kalau kamu ingin secepatnya kita menikah, setidaknya aku ingin menemui ayahmu," ucap Bara.
Retha agak bingung menjawabnya. "Permasalahannya, ayahku bukan seperti ayah-ayah pada umumnya. Mungkin dia akan meminta sejumlah uang kepadamu, Mas."
Bara menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa. Sejak awal aku sudah mengetahui tentang kondisimu dan keluargamu. Aku punya banyak uang, tidak masalah kalau ayahmu meminta ganti rugi biaya telah merawatmu sebagai wanita yang akan aku nikahi."
"Bahkan jika kamu mau memerasku secara terang-terangan, asalkan kamu selalu berada di sisiku, aku akan membiarkannya," ucap Bara.
Bara menggenggam tangan Retha. Ia menarik kepala kekasihnya agar bersandar padanya. "Aku merasa akan bahagia hidup bersamamu, Sayang."
"Mas ...."
"Hm?"
__ADS_1
"Bagaimana dengan keluarga Mas Bara sendiri? Mana mungkin mereka mengizinkan Mas Bara menikahi wanita sepertiku."
"Kamu tenang saja, aku yang menentukan keputusan hidupku sendiri." Bara memang tidak akan bisa memberi kepastian tentang tanggapan keluarganya nanti. Ketika memutuskan untuk menikah dengan Silvia juga sudah pernah ditentang.
"Kenzo bagaimana?" Ada banyak hal yang membali Retha pikirkan.
"Kenapa dengan Kenzo? Dia sangat menyayangimu, bahkan melebihi ayahnya sendiri."
"Tapi, aku rasa rasa sayang Kenzo berbeda bentuknya. Ia hanya sekedar menyayangiku sebagai seorang guru."
Bara menepuk pelan kepala Retha. "Pelan-pelan Kenzo juga pasti akan menyayangimu."
Retha bukannya ingin pesta pernikahannya dilangsungkan dengan meriah dan dihadiri banyak tamu. Setidaknya kedua keluarga saling setuju dengan pernikahan mereka. Namun, kalau memang pernikahan mereka memang sementara harus dirahasiakan, ia akan mencoba menerimanya. Bara mengatakan hanya akan mencatatkan pernikahannya tanpa ada pesta apa-apa.
***
Edis berdiri dengan gusar memandangi gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Apartemen Two Tower, tempat tinggal Angga. Setelah merenung semalaman, Edis akhirnya memutuskan untuk menjenguk kakak kelasnya itu. Ia ingin tahu saja kenapa sampai dua hari lelaki yang suka mengganggunya tiba-tiba tidak masuk sekolah.
Ia sampai diam-diam mengecek data di bagian administrasi untuk mengetahui alamat tempat tinggal Angga. Apartemen Two Tower, lantai 20 nomor 137.
Edis melewati resepsionis, menuliskan identitas dan status pengunjung dengan pemilik apartemen. Setelah itu, ia menaiki lift yang akan membawanya naik ke lantai 20.
Edis kembali grogi saat berada di depan sebuah pintu bertuliskan 137. Ia menghela napas sebelum menekan bel.
Ting tong ... ting tong ....
Edis sudah menekan bel, namun tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Setelah ia mengulanginya sampai tiga kali, Angga belum juga muncul membukakan pintu. Edis semakin khawatir. Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya, menghubungi nomor Angga yang masih tersimpan di dalamnya.
"Halo, Edis ...." suara Angga di seberang telepon terdengar parau seperti orang yang sedang sakit.
"Kak Angga, apa Kakak ada di rumah? Aku sudah ada di depan pintu."
__ADS_1
"Ah, jadi kamu yang menekan bel. Aku minta maaf tidak bisa membukakan pintu. Kamu masuk saja dengan password kamarku, 2200120." Suara Angga benar-benar lemas.