
Bara membuka matanya. Pandangannya memandangi langit-langit hotel yang mewah. Jam dinding masih menunjukkan pukul empat pagi. Ia menoleh ke samping. Seorang wanita cantik terlelap di sebelahnya dengan napas yang terdengar teratur. Tidurnya terlihat sangat tenang. Bekas kemerahan masih nampak di sekitaran leher serta dada istrinya. Ia mengembangkan senyum melihat hasil karyanya sendiri.
Tubuh mulus nan polos yang hanya tertutup selembar selimut itu begitu menarik perhatiannya. Setelah semalaman melewati malam pengantin yang indah, rasanya belum puas juga ia menyentuh setiap jengkal tubuh istrinya. Keberadaan wanita itu membuat ranjangnya kembali hangat.
Semalam mereka hanya bercinta secara singkat. Ia cukup kelelahan dengan urusan pekerjaan sehingga akhirnya tumbang saat menikmati malam pertama mereka.
Diambilnya laptop dari atas nakas lalu menyalakannya. Di sela-sela masa pengantin baru, ia masih menyempatkan diri untuk bekerja. Bahkan ia harus segera menyelesaikan pekerjaan di kantor agar bisa menikmati masa bulan madu dengan tenang.
Laporan proyek yang ada di luar kota tampak sudah masuk dalam emailnya. Ia membuka pesan dari Mikola yang memberikan salinan laporan selama satu minggu. Ia membacanya secara seksama sembari mencocokkan dengan laporan yang Zack berikan.
Ia beralih mengambil ponselnya, menghubungi nomor Mikola.
"Halo ...." terdengar sahutan dari seberang telepon.
"Halo, Miko. Maaf pagi-pagi aku harus mengganggumu."
"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Ada perlu apa Anda menghubungi saya?"
__ADS_1
"Laporan mengenai biaya pembebasan lahan, surat persetujuan warga, serta berkas-berkas yang terkait dengan hal itu belum kamu kirimkan kepadaku," ucap Bara sembari meneliti kembali laporan di dalam laptopnya.
"Ah, Maaf, Pak ... Saya lupa. Ada banyak laporan yang harus saya buat sehingga lupa untuk melaporkan hal itu kepada Anda."
"Kalau begitu, tolong segera kirimkan setelah setelah kamu menyelesaikan laporannya."
"Baik, Pak."
"Ngomong-ngomong, bagaimana progres pembebasan lahan? Sudah berapa persen kemajuannya?"
"Sudah 100 persen, Pak."
"Bagus! Dengan begitu, proyek kita akan selesai tepat waktu atau bahkan lebih cepat dari perkiraan. Kamu harus terus memantaunya, Mikola. Aku sepenuhnya mempercayakan kepadamu."
"Baik, Pak. Anda bisa mengandalkan saya."
***
__ADS_1
Tiur berjalan menelusuri lantai apartemen Hans. Pagi ini mereka memiliki janji untuk bertemu. Tiur begitu penasaran dengan kabar yang sangat ingin disampaikan Hans secara pribadi kepadanya sampai harus mengundangnya langsung ke apartemen.
Ia tampak berjalan sembari memperhatikan nomor kamar yang dilaluinya. Saat melihat nomoe 432, ia berhenti dan menekan bel yang terdapat di depan pintu. Ia yaki sekali tempat itu merupakan apartemen milik Hans.
Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Hans muncul dari balik pintu. Tiur tersenyum. Lelaki itu memberinya kode untuk masuk seraya menutup kembali pintu tersebut.
Tiur terkesima melihat apartemen yang terlihat luas dengan barang mewah yang memenuhi ruangan. Baru kali ini ia menginjakkan kaki di apartemen milik Hans, manajer klab malam tempat ia pernah bekerja.
"Ada apa Pak Hans memanggil aku ke sini?" tanya Tiur dengan seulas senyum.
Plak!
Tiur membulatkan mata. Secara tiba-tiba Hans melayangkan tamparan keras ke pipi kirinya.
"Wanita s1alan!" umpat Hans dengan nada bicara meninggi. Dadanya naik turun serta wajahnya tampak murka. "Gara-gara kamu aku dipecat dari klab!"
Tiur masih mematung di tempatnya mencoba mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi. "Memangnya kenapa, Pak?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Gara-gara rencanamu waktu itu aku jadi dipecat dari klab! Kalau aku tahu kamu berurusan dengan Pak Bara, aku tidak akan mengikuti kemauanmu waktu itu!"