
"Tolong! Tolong! Ada ibu hamil pendarahan! Itu di mobil juga ada bayinya!"
Satpam yang melihat kondisi Citra langsung panik. Ia berteriak memanggil bantuan, twk berapa lama perawat yang bertugas di UGD segera membawakan bed untuk mengangkut Citra. Salah seorang di antaranya juga mendekat ke arah mobil mengamankan bayi yang menangis di kursi penumpang depan.
"Tolong bayinya ... Ibunya diculik di daerah jalan XXX," ucap Citra dengan nada lemas. Ia masih berusaha berbicara dengan dua orang petugas yang mendorong ranjangnya memasuki ruangan UGD.
Dua petugas yang diajak Citra bicara hanya saling pandang dan menganggap mungkin saja Citra hanya mengigau.
Seorang dokter kandungan buru-buru masuk ke dalam ruang UGD setelah menerima pesan darurat dari salah satu perawat. Ia mengecek kondisi Citra yang tampak lemah.
"Dokter, perut saya sakit ... Tadi saya jatuh waktu menghadapi penjahat. Apa bayi saya bisa tertolong? Rasanya saya mau melahirkan ...."
Citra merasa khawatir. Air matanya menetes di pipi membayangkan nasib anak yang ada di dalam kandungannya.
"Dia datang bersama seorang bayi. Katanya ibu si bayi diculik di daerah XXX," ucap si perawat yang mendengar perkataan Citra sebelumnya.
Baik dokter dan perawat yang menangani Citra keheranan. "Coba kamu cari tahu atau hubungi polisi untuk mencari tahu!" perintah sang dokter kepada perawat tersebut.
"Baik, Pak!" perawat tersebut segera melaksanakan apa yang dokter perintahkan.
Sementara, sang dokter mulai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Citra. Ia menduga Citra mengalami solusio plasenta.
"Dokter, tolong selamatkan bayi saya," ucap Citra dengan isakan.
Dokter belum tega mengatakan kondisi yang dialami Citra. Mendengar cerita singkatnya, sang dokter merasa wanita itu baru saja menghadapi masalah yang berat.
__ADS_1
"Ibu, apa ada nomor keluarga yang bisa dihubungi?" tanya dokter.
Citra merogoh ponsel yang ada di dalam saku bajunya. Ia membuka kunci ponsel tersebut dan menghubungi nomor Hendry.
Dokter tersebut membawa ponsel Citra agak menjauh. Beberapa detik kemudian, telepon tersebut tersambung.
"Halo, Sayang? Aku sebentar lagi pulang!"
Terdengar suara dari seberang telepon. Hendry pasti mengira orang yang menelepon adalah istrinya.
"Selamat siang, Bapak. Saya Dokter Gabriel, istri Anda sedang berada di Rumah Sakit Citra Mandiri karena mengalami komplikasi kehamilan."
Suara dari seberang sana sejenak hening. "Memangnya istri saya kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa ada di rumah sakit?"
"Saya tidak bisa memberikan penjelasan panjang. Tapi, istri Anda mengalami solusio plasenta, Pak. Secara sederhana, plasenta bayi dalam rahim sudah putus lebih dulu. Ini butuh tindakan operasi segera agar bisa menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Apa sekiranya Bapak setuju?"
"Saya ingin melihat kondisi istri saya!" pi ta Hendry.
Dokter Gabriel segera membawa ponsel tersebut ke arah Citra yang sedang menangis sembari menahan sakit. Setelah melihat Citra secara langsung, Hendry menjadi panik.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Hendry.
"Sakit ... Sakit sekali ... Hiks hiks!" Citra hanya bisa menangis menerima panggilan video tersebut. Tidak bisa berpikir apapun selain rasa sakit dan kondisi kandungannya.
"Sayang, tenanglah! Kamu pasti baik-baik saja. Aku akan segera datang ke sana." raut wajah Hendry juga ikut terlihat panik.
__ADS_1
"Dokter ...," panggil Hendry.
"Iya, Pak?" Dokter Gabriel kembali bertatapan dengan Hendry lewat layar ponsel.
"Tolong, selamatkan istri dan anak saya. Lakukan apapun agar mereka selamat, Dokter! Saya akan segera ke sana. Saya percayakan semuanya kepada Dokter!" ucap Hendry pasrah.
Dokter Gabriel mengangguk. "Baik, Pak! Kami pasti akan berusaha melakukan penanganan yang terbaik!" ucapnya.
Sambungan telepon berakhir.
"Kita akan melakukan operasi caesar, cito!" seru sang dokter.
Mendengar perkataan dokter, perawat dan tim segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk tindakan operasi.
Citra hanya bisa pasrah menyerahkan takdirnya kepada Tuhan lewat dokter dan tenaga medis yang ada. Ia berharap suaminya bisa segera datang menemani dirinya dalam kondisi yang mengkhawatirkan itu.
***
Dengan tergopoh-gopoh Hendry berlari memasuki area lobi rumah sakit. Ia menanyakan keberadaan istrinya kepada petugas jaga di sana. Ia diberi tahu bahwa istrinya masih menjalani operasi. Ia segera berlari kembali menuju ruang operasi.
Pintu tertutup. Hendry tidak bisa melihat kondisi istrinya. Bara yang kebetulan ada bersamanya mengurus jenazah Mikola, turut serta menemanu Hendry ke rumah sakit. Ia menepuk pundak Hendry agar bersabar dan tabah dengan situasi yang terjadi.
"Oh, Ya Tuhan ...."
Hendry rasanya begitu lemas sampai tidak kuat berdiri. Ia berjongkok di depan ruang operasi dengan perasaan yang kacau balau. Hari ini ia sudah dikejutkan dengan kematian Mikola yang mendadak, sekarang berganti istrinya sendiri yang sedang mengalami kondisi gawat darurat.
__ADS_1
***
Sorry for slow update 🙏🏻