Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Tugas Tambahan


__ADS_3

"Apa kamu tidak tertarik untuk mencoba mengecat rambutmu?" tanya Retha sembari berbaring santai di atas ranjang, sementara tangan dan kakinya sedang dilakukan perawatan oleh karyawan salon.


Hari ini Retha mengajak Citra memanjakan diri di salon. Menurutnya, meskipun sedang hamil, menjaga penampilan tetap perlu agar suami tidak tergoda dengan wanita lain.


Sebenarnya pergi ke salon bukan agenda menyenangkan untuk Citra menghabiskan akhir pekan. Namun, karena Retha yang mengajaknya, ia mau-mau saja. Ia senang dimanapun mereka berada, obrolan mereka tetap mengasyikkan bahkan di dalam salon sekalipun.


"Mengecat rambut mungkin hal yang cukup sulit karena aku berkerja di kantor," Citra.


"Ah, iya. Aku kadang lupa. Tapi, kalau kamu minta izin pada Pak Hendry, pasti dia akan mengizinkanmu mengecat rambut di kantor."


"Nanti karyawan lain bisa iri kalau hanya aku yang boleh."


"Hahaha ... Kalau iri, suruh mereka mendirikan perusahaan sendiri," canda Retha.


"Apa kamu sering pergi ke salon?" tanya Citra.


"Kalau dibilang sering juga tidak. Hanya kadang-kadang saja kalau sedang ada mood atau bosan di rumah. Kamu pasti tidak suka, ya?" tebak Retha.


Citra hanya tersenyum.


"Dulu, aku juga tidak terlalu suka merawat diri sepertimu. Tapi, karena telah menjadi istri seorang pengusaha, aku rasa menjaga penampilan merupakan salah satu tugas seorang istri demi nama baik suami."


"Soalnya mau tidak mau aku pasti akan diajak suamiku ke banyak acara yang dihadiri para pengusaha. Jangan ditanya lagi bagaimana penampilan para wanita yang ada di sana, mewah dan elegan. Kalau aku tetap dengan penampilan sederhana, pasti orang akan mengira jika aku salah tempat."


"Mungkin ada wanita-wanita yang menjaga penampilannya untuk pamer. Kalau aku sendiri, hanya sekedar menempatkan diri saja di situasi yang sesuai."


Citra belum pernah menghadiri pesta kalangan atas seperti yang Retha ceritakan. Beberapa kali Hendry memang pernah mengajaknya, namun ia menolak dengan alasan belum siap hubungan mereka terekspose.


Apa yang Retha ceritakan memberikannya gambaran dunia baru yang mungkin akan segera ia masuki. Ia harus bisa beradaptasi dengan dunianya yang sekarang menjadi istri seorang Hendry Alexander, pengusaha muda kaya raya dan populer di kalangan wanita.

__ADS_1


"Oh, iya. Kalau tidak mau mengecat rambut, mungkin kamu perlu mengubah penampilan sedikit membuat rambutmu bergelombang. Sepertinya akan cocok untukmu dari pada tampilan rambut lurus terus."


"Benarkah? Kalau begitu, aku mungkin akan mencobanya."


***


"Citra, tolong antar ini ke meja Pak CEO, ya!" pinta Indah.


Citra yang semula tengah sibuk mengetik dokumen terpaksa menjeda pekerjaannya sejenak. Ia memutar kursi menghadap ke arah Indah yang masih berdiri di sana. "Kenapa harus aku? Kamu kan bisa memberikannya sendiri?" tanya Citra dengan nada yang kesal.


Menurutnya, memberikan laporan yang diminta pimpinan adalah hal yang sepele dan bisa dilakukan sendiri. Tidak seharusnya Indah meminta dirinya yang melakukan karena sudah menjadi tugas rutin Indah saat manajer mereka tidak ada di tempat.


"Aku kapok! Kemarin baru dimarahi Pak Hendry. Ini kan juga seharusnya tugas manajer, bukan tugasku." Indah memasang wajah memelas.


Sebenarnya Citra malas ke ruangan itu. Di rumah dia sudah bertemu dengan Hendry setiap hari, di kantor juga masih harus berhubungan dengannya. Tapi, kalau ia tidak segera mengiyakan kemauan Indah, wanita itu pasti tidak akan pergi-pergi dari sana. Pekerjaannya pun akan terganggu dan semakin lama selesainya.


"Baiklah! Biar aku yang serahkan!" ucap Citra seraya bangkit dari kursinya dan mengambil dokumen yang Indah berikan.


Seruan Indah masih terdengar saat Citra mulai melangkahkan kaki keluar ruangan. Di antara para karyawan, mungkin dirinya yang paling tidak enakan menolak permintaan tolong orang. Oleh karena itu, ia lebih sering dimintai bantuan.


Tok tok tok


Setelah mengetuk pintu, ia membuka ruang kerja Hendry. Ia berusaha bersikap profesional selama berada di kantor.


Hendry cukup kaget saat melihat kedatangan Citra di sana. Ia yang sedari tadi melamun langsung berdiri dan terpaku memandangi Citra.


"Selamat siang, Pak! Saya mau menyerahkan beberap dokumen laporan dari ruang HRD."


Tanpa berbasa-basi, Citra meletakkan dokumen yang dibawanya di meja Hendry. "Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya.

__ADS_1


"Tunggu!" seru Hendry. Ia tidak terima wanita yang terus berada di pikirannya itu akan kembali pergi setelah mengagetkan dirinya.


"Apa apa, Pak?" tanya Citra heran.


"Aku ada tugas tambahan untukmu!" ucap Hendry seraya berjalan mendekat ke arah Citra.


"Tugas tambahan? Tapi, saya hanya membantu Indah untuk menyerahkan ini. Saya takut tidak akan paham dengan tugas tambahan yang Bapak maksud." Citra mulai gugup. Hendry terus memandanginya seakan ingin melahapnya.


"Kamu pasti paham ... Karena tugas tambahan ini memang hanya kamu yang bisa melakukannya," ucap Hendry sembari memegang gaya rambut baru milik istrinya.


Hendry merasa semakin hari istrinya semakin bertambah cantik. Apalagi kemarin saat Citra baru pulang setelah jalan-jalan dengan Retha. Dengan gaya rambut barunya, ia terpesona sendiri dengan istrinya.


Istrinya yang selalu berpenampilan sederhana dengan rambut lurusnya, terlihat seperti gadis polos, sekarang telah merubah penampilan seperti wanita dewasa yang elegan. Ia bahkan sebenarnya tidak rela Citra berangkat kerja atau keluar rumah, takut ada lelaki lain yang akan jatuh hati kepada istrinya.


"Pak, kita sekarang ada di kantor," kata Citra mengingatkan. Ia merasa ada gelagat yang aneh dari suaminya.


"Aku tahu. Makanya aku ingin menggunakan kekuasaanku untuk menyuruhmu melakukan tugas tambahan yang sangat mulia," goda Hendry.


"Saya masih banyak pekerjaan, lebih baik kita lanjutkan saja di rumah," jawab Citra.


Hendry menahan tangan Citra agar tidak pergi dari ruangannya. Dengan sigap ia menarik tangan Citra dan membawanya ke dalam ruangan pribadinya.


"Pak ...," protes Citra saat mereka telah berada di dalam kamar pribadi Hendry. Lelaki itu bahkan telah mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu.


"Kalau mau, kita bisa menunggu sampai di rumah. Ini masih jam kerja," tiba-tiba Citra menjadi gugup melihat Hendry melepaskan jas, dasi, serta kemejanya. Seperti biasa, lelaki itu sangat hobi memamerkan tubuh indahnya kepada Citra.


"Terlalu lama kalau kita menunggu jam pulang kantor. Aku bisa gila kalau harus menunggu lagi," ucap Hendry.


Dengan tidak sabarannya, ia meraih tengkuk sang istri dan memberikan ciuman agresifnya. Wanita itu seharian mengisi pikirannya, ia tidak bisa konsentrasi kerja dan sangat ingin merengkuhnya.

__ADS_1


Citra tak sempat menolak. Ia hanya bisa berusaha mengimbangi ciuman brutal yang membuat napasnya terengah-engah. Hendry cukup serakah seolah ingin menguasai dirinya.


Sejak hubungan pertama mereka, setiap malam Hendry tak pernah absen meminta jatahnya kepada Citra. Sekarang, di kantorpun Hendry masih memberikan tugas tambahan untuknya.


__ADS_2