
Retha merebahkan tubuh Kenzo di atas ranjang dengan perlahan. Anak itu sepertinya sudah tertidur sangat lelap setelah lelah seharian bermain. Dari taman hiburan sampai kembali ke hotel, anak itu tidak terbangun dari tidurnya.
Setiap anak yang sedang tertidur memiliki wajah yang tampak polos, lugu, dan menggemaskan. Mereka seperti malaikat suci yang tidak memiliki dosa. Retha senang Kenzo bisa menjadi anak yang ceria.
"Pak ...."
Retha membulatkan mata. Secara tiba-tiba Bara melingkarkan tangan di pinggangnya, memeluknya secara erat. Bukan hanya sebatas memeluk, bibirnya yang nakal dengan kumis tipisnya menyusuri area leher. Ia sampai meremang kegelian dibuatnya.
Retha merasa tak nyaman, ia berusaha menggeliat melepaskan diri, namun Bara semakin erat memeluknya. Ciumannya terasa semakin berg4irah. Saat telinganya tak luput dari sasaran, suara des4han meluncur dari mulutnya.
"Pak, di sini ada Kenzo," lirihnya.
Lelaki itu seakan lupa diri. Setelah beberapa hari bersama, kemauannya ingin selalu dekat dengan Retha. Hidupnya terasa berwarna dan punya arti dengan kehadiran wanita itu.
"Jadi, kalau tidak ada Kenzo, saya bisa bermanja dengan kamu, kan?" rayunya sembari kembali menggigit lembut telinga Retha.
"Hentikan, Pak ... rasanya geli ...." Retha sudah berusaha menghindar dari perlakuan lelaki itu. Ada sengatan-sengatan dalam tubuhnya setiap kali Bara menjahilinya.
"Saya bisa membuatmu lebih geli dari ini," bisiknya.
Tanpa basa basi, Bara mengangkat tubuh Retha. Reflek wanita itu melingkarkan tangannya ke leher. Keduanya saling bertatapan. Bara memberikan senyuman sementara Retha hanya bisa tertunduk malu. Ia tidak tahu harus merasa senang atau tidak diperlakukan seperti itu oleh Bara. Terkadang ia sadar diri bahwa dirinya belum menjadi siapa-siapa bagi Bara. Untuk bisa bersanding dengan lelaki itu, ia rasa sangat tidak pantas karena perbedaan status sosial yang sangat jauh.
Bara membawa Retha berjalan ke arah connecting door yang terdapat pada sudut kamarnya. Ternyata ia telah memesan kamar sebelah yang terhubung dengan kamarnya.
"Saya sudah mengatakan untuk memberimu waktu berpikir. Tapi, sepertinya saya tidak sabar menunggu jawaban darimu."
Bara merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Ia mengungkung di bawahnya agar wanita itu tak bisa kemana-mana.
"Setiap hari saya selalu memikirkanmu, apalagi saat bekerja. Saya tidak bisa fokus karena ingin selalu dekat denganmu. Keberadaanmu sudah seperti candu. Apa saya tidak cukup menarik untukmu?"
__ADS_1
Pertannyaan Bara membuatnya begitu canggung. Untuk berkhayal menjadi kekasih dari lelaki seperti dirinya saja rasanya tidak pantas. Tentu saja dia tertarik dengan lelaki gagah itu, hanya ia ingin kembali pada realita yang ada.
"Pak, bukannya saya tidak mau. Tapi, apa Bapak tidak sadar siapa saya? Apa Bapak tidak akan menyesal menyukai saya?"
"Kenapa saya harus menyesal? Kamu orang baik di mata saya dan Kenzo."
"Saya orang miskin, Pak."
"Stop!"
Bara mencegah Retha lebih banyak berkata-kata. Ia tidak suka wanita itu merendahkan diri sendiri seperti yang biasa dilakukan.
"Saya ingin mencari seorang pendamping hidup, bukan mencari kekayaan dengan menikahi seseorang. Kekayaan yang saya miliki cukup untuk menghidupimu nanti."
"Saya tidak ingin disebut sebagai wanita benalu yang hanya bisa hidup menumpang pada suami."
"Apakah kamu akan peduli jika ada yang mengataimu seperti itu? Melindungi, memenuhi kebutuhan istri, membahagiakan istri, merupakan kewajiban suami. Tidak ada yang namanya wanita menumpang hidup pada lelaki. Itu sudah haknya sebagai seorang istri."
"Bagaimana dengan orang tua dan keluarga Bapak? Apa kira-kira bisa menerima saya nantinya?"
Bara terdiam sesaat mendengar pertanyaan tersebut. Ia sendiri tidak bisa menjawabnya. Sudah sangat jelas jika sang ibunda menginginkan dirinya menikah dengan Thea, wanita menyebalkan yang pernah dikenalnya. Pernikahan mereka kemungkinan tidak akan pernah terjadi. Hanya saja, Thea bisa berpura-pura tertarik padanya untuk mengganggu dan membuatnya tersiksa.
"Itu bisa diatur. Yang penting kamu mau menerima saya dulu, nanti pelan-pelan mereka pasti bisa diberi pengertian. Lagipula, untuk apa kamu mengkhawatirkan tentang mereka? Saya dan Kenzo sangat menyukaimu. Kita bisa menjadi keluarga kecil yang bahagia. Kamu tidak keberatan kan, menerima keberadaan Kenzo di antara kita?"
Retha tersenyum. "Bagaimana mungkin saya bisa keberatan dengan keberadaan Kenzo yang merupakan putra Bapak. Dia anak yang baik."
"Sebenarnya saya juga selektif dekat dengan wanita salah satu alasannya karena takut tidak bisa menerima keberadaan Kenzo. Jadi, kamu mau kan, menjadi istri saya?" Bara kembali melamar Retha.
Wanita itu memandangi sorot mata Bara dengan fokus seakan mencari kesungguhan di dalamnya. Ia membangkitkan keberanian dan keyakinan dirinya untuk memberikan keputusan terbaik.
__ADS_1
"Saya mau menikah dengan Bapak," ucap Retha dengan mantap.
Bara tersenyum lebar. Perasaannya yang akhirnya terbalas membuatnya begitu bahagia. Ia ekspresikan kebahagiaannya dengan memberikan ciuman lembut pada bibir wanita di bawahnya. Kebahagiaan memenangkan proyek masih kalah dibandingkan dengan kebahagiaannya saat ini.
"Terima kasih sudah menerima perasaan saya," ucap Bara sembari tersenyum.
"Mungkin Bapak akan sering saya repotkan ke depannya," ucap Retha malu-malu.
"Saya siap kamu repotkan kapan saja." Bara memeluk tubuh Retha, membawanya berguling-guling di atas ranjang denhan bahagianya.
"Ah! Maaf, Pak. Tidak sengaja."
Tangan Retha tanpa sengaja memegang area terlarang milik Bara. Bukannya disingkirkan, lelaki itu malah menahan tangannya di sana.
"Tidak perlu minta maaf. Aku malah berharap kamu sengaja melakukannya," goda Bara.
Wajah Retha kembali memerah. Ia benar-benar tidak sengaja memegang benda yang tampaknya keras dari balik celana itu. "Pak, jangan begini ...."
"Cuma disentuh saja rasanya enak, ya ... kayaknya saya akan nyenyal tidur kalau dipegang seperti ini terus." Bara dengan isengnya makin menarik tangan Retha agar lebih menekan miliknya. Membuat wanita itu semakin malu dengan perbuatannya.
"Tiga tahun ranjang saya dingin. Ada kamu jadi membuat saya tidak ingin membiarkanmu pergi dari sini."
"Em, Pak ... bagaimana kalau Kenzo bangun? Dia pasti akan ketakutan tidur sendirian si sebelah." Retha berusaha mencari alasan agar Bara mau melepaskannya. Sungguh, rasanya sangat memalukan berbaring berdua sembari berhadap-hadapan dengan tangan yang terus ditahan berada di bawah sana.
"Kenzo sudah berani tidur sendiri. Dia juga jarang terbangun saat malam," kilah Bara. "Kenapa kamu malah memikirkan Kenzo? Seharusnya kamu fokus pada saya, calon suami kamu."
Bara benar-benar sangat gombal, tidak sesuai dengan apa yang Retha pikirkan. Ia tidak menyangka Bara bisa berkata tentang hal-hal yang menjurus pada kemesvman.
"Saya juga butuh perhatian dan kasih sayang darimu," kata Bara. "Coba gerakkan sedikit tanganmu," lanjutnya.
__ADS_1
"Pak ...," rengek Retha.
"Berhenti memanggilku 'Pak'. Kamu bisa mulai membiasakan diri memanggil saya 'Mas' atau ... 'Sayang'."