
Retha memandangi ruang kelas yang selama lima tahun terakhir menjadi tempatnya belajar dan mengajar. Ruang kelas yang ia hias sendiri agar anak-anak semakin betah belajar di dalamnya. Beberapa mainan yang dimodifikasi olehnya menjadi media pembelajaran masih tertata rapi di sana.
Ini akan menjadi hari terakhirnya menginjakkan kaki di kelas itu. Ada banyak kenangan bersama anak-anak yang tidak akan mungkin ia lupakan. Mendengarkan tawa riang mereka serta celotehan menggemaskan yang setiap hari ia dengar merupakan momen yang paling berharga baginya.
Tanpa terasa air mata menetes begitu saja dari pelupuk matanya. Ia yang telah terlanjur mencintai pekerjaannya, mencintai anak-anak, terpaksa harus meninggalkan semua itu demi kebaikan semua.
"Retha, kok kamu malah di sini? Ayo ke ruang multimedia!" Ester melongok dari balik pintu. Ia diperintahkan Ibu Jihan untuk mencari Retha.
Buru-buru Retha menghapus air matanya. "Iya, Miss Ester. Nanti aku ke sana. Sedang nostalgia sebentar di sini, hahaha ...." Ia menghibur dirinya dengan pura-pura tertawa.
"Kamu ini aneh! Kalau sedih meninggalkan sekolah kenapa juga harus mengundurkan diri?" Ester geleng-geleng kepala. Ia pergi dari sana memberi waktu kepada Retha untuk menata hatinya sebelum mengucapkan perpisahan dengan rekan guru dan staf yayasan.
Retha menghela napas. Ia merasa mampu untuk bertanggung jawab terhadap keputusannya. Bahkan, ia juga tidak menceritakan apa yang menimpa dirinya kepada Bara. Mungkin akan terdengar egois. Namun, ia hanya tidak ingin merepotkan orang lain.
Retha berjalan menuju ruang multimedia yang dipersiapkan pihak sekolah sebagai tempat perpisahannya. Semua diatur dengan kemurahan hati Ibu Jihan. Biasanya, jika ada yang sudah lama mengabdi di sana dan memutuskan keluar, akan dibuatkan pesta perpidahan oleh pihak sekolah.
Jika biasanya Retha menghadiri perpisahan rekan kerjanya, maka hari ini perpisahan itu ditujukan untuk dirinya.
Retha tersenyum melihat wajah-wajah yang setiap hari dilihat di sekolah. Baik dari rekan sesama guru, staf administrasi, satpam, tukang kebun, cleaning service, semua telah ia anggap seperti keluarga. Rasanya semakin berat membayangkan esok tidak bisa lagi berjumpa dengan mereka.
Ruangan multimedia telah dihias dengan sangat indah dengan perbaduan balon, kertas warna-warni, sampai bunga-bunga kertas seperti sebuah pesta ulang tahun. Meja makan penuh dengan makanan enak dan menggugah selera. Layar proyektor besar memutar momen-momen kebersamaan Retha bersama mereka yang membuat air mata seakan ingin terus keluar.
"Ayo, Retha ... kemari!" panggil Ibu Jihan.
__ADS_1
Retha berjalan ke depan menghampiri Ibu Jihan. Ia mengucapkan kata-kata perpisahannya di hadapan seluruh guru dan staf yayasan. Rasa terima kasih serta permohonan maaf dihaturkan atas hubungan yang terjalin selama lima tahun yang terasa singkat.
Retha mengatakan alasan mengundurkan diri dari yayasan karena ingin mencoba karir dalam bidang lain. Ia ingin fokus menekuni dunia usaha dan merasa tidak bisa membagi waktu dengan baik jika tetap mengajar. Perpisahan itu berlangsung sangat mengharukan. Mereka yang sudah seperti keluarga merasa kehilangan saat harus berpisah.
Usai acara yang penuh dengan kehangatan itu berakhir, Retha berpamitan kepada pihak sekolah. Ia membawa beberapa barang miliknya yang masih tersisa. Saat hendak menyalakan motornya, ada panggilan masuk dari Bara. Selama beberapa hari ini mereka memang hanya bisa berkomunikasi lewat sambungan suara. Retha mengangkat telepon tersebut dengan nada yang dibuat bersemangat.
"Kamu sedang apa?"
"Aku baru mau pulang dari sekolah. Mas Bara sedang istirahat siang?" tanyanya.
"Ya, begitulah! Tubuhku terasa pegal-pegal akibat kebanyakan kerja. Pasti enak kalau ada yang memijat."
Retha tersenyum mendengar keluhan Bara. "Tapi, Mas Bara nggak minta Pak Zack mencarikan wanita cantik untuk memijat, kan?" ledeknya.
"Oh, kamu sedang cemburu atau sedang mengujiku?"
"Listen to me ... aku tertarik kepada wanita karena orang itu adalah kamu. Seorang guru yang sebenarnya sudah mencuri perhatianku saat pertama kali aku menjemput Kenzo di sekolah."
Retha merasa senang mendengar ucapan Bara. Ia juga tertarik saat pertama tahu ada wali murid yang setampan itu di dunia ini. Ditakdirkan untuk bertemu dengan orang sebaik dan setampan Bara menurutnya sebuah anugerah.
"Aku tidak akan macam-macam di sini dan kamu tidak boleh macam-macam di sana. Kamu mengerti, kan?"
"Iya, aku mengerti."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau melanjutkan pekerjaan. Nanti malam kita sambung lagi teleponnya. I love you, Sayang."
Wajah Retha langsung memerah.
"Kok nggak dijawab?" protes Bara.
"Iya, Mas. I love you too." Retha langsung mematikan sambungan teleponnya. Jantungnya berdebar-debar hanya mendengarkan pernyataan cinta itu.
Retha mengenakan helmnya. Ia siap mengendarai motor kesayangannya menuju asrama Edis. Sudah sekitar dua minggu adiknya tidak pernah menghubunginya. Saat ia telepon balik, nomornya tidak aktif. Beberapa kali ia meminta tolong petugas asrama untuk mengecek kondisi Edis, katanya baik-baik saja. Anak itu tidak mau menerima telepon sementara karena sibuk melaksanakan ulangan.
Retha khawatir dengan kondisi adiknya. Ia tidak akan tenang sebelum melihat kondisi Edis dengan mata kepalanya sendiri. Ia tidak ingin adiknya menjadi anak yang tertutup dan akhirnya terjerumus dalam obat-obatan terlarang.
***
"Edis, kakakmu datang mencarimu. Dia menunggu di lobi," ucap Karin, teman sekamar Edis.
Sontak kabar yang baru saja didengarnya membuat Edis terkejut. Ia tidak menyangka jika kakaknya akan datang langsung menjenguknya di asrama. Padahal, ia sengaja mengganti nomor ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh kakaknya. Setiap kali penjaga asrama memberitahu ada telepon untuknya, Edis selalu menolak. Ia mencari alasan sibuk belajar saking tidak ingin berbicara dengan kakaknya sendiri.
Foto sang kakak yang sangat tidak pantas itu menjadi alasan utamanya menjadi pembenci. Ia tidak rela kakaknya bekerja di klab malam apalagi sampai jadi wanita murahan. Ia tetap ingin menghormati kakaknya sebagai orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Edis terpaksa keluar dari kamarnya untuk menemui sang kakak. Ia harus melewati tiga lantai agar bisa sampai ke bawah. Kakaknya yang duduk di salah satu sudut sofa tampak melambaikan tangan ke arahya.
Edis melihat ke sekeliling. Lagi-lagi beberapa pasang mata terus mengikuti arah geraknya. Edis tidak kuat membayangkan seberapa besar berita itu telah menyebar. Ia bingung ingin menyembunyikan wajahnya dimana jika nama kakaknya sampai tercoreng.
__ADS_1
Retha memeluk Edis dengan penuh kasih sayang. Baginya, Edis merupakan satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Sementara, ia tidak lagi terlalu peduli dengan ayahnya yang hanya bisa membuat masalah.
"Kamu kenapa sih, susah banget dihubungi. Sudah berasa mau menemui presiden saja sampai dipersulit begini," ucap Retha yang tampak senang mengdtahui Retha baik-baik saja.