
"Sengketa lahan sudah ditangani dengan baik, Bar. Proyek kita tinggal fokus melanjutkan pembangunannya. Para pecundang yang berusaha menggagalkan proyek sudah dijebloskan ke dalam penjara." Zack duduk di hadapan Bara membawa setumpuk berkas perkembangan pembangunan proyek kerjasama perusahaan mereka. Jabatan Zack sudah dinaikkan oleh sang ayah sehingga saat ini ia yang bertanggung jawab penuh sebagai perwakilan perusahaan.
Bara membac secara teliti hasil laporan Zack. Sejauh ini ia belum menemukan kejanggalan yang dilaporkan. Ia juga telah mempelajari data yang diberikan oleh asistennya dan hasilnya sama. Artinya, Zack memang bisa diandalkan sekarang.
"Kamu sekarang sudah lebih serius bekerja aku rasa, Zack," puji Bara.
"Kalau aku tidak becus bekerja, ayahku akan menurunkan jabatanku lagi. Terpaksa aku bekerja keras untuk mempertahankan apa yang sudah aku dapatkan."
"Bagaimana dengan waktu bersenang-senangmu? Apa tidak mengganggu jadwal clubbing atau tidur dengan wanita yang berbeda-beda?" sindir Bara.
"Itu sudah jauh aku kurangi. Untunglah ada Emili."
Bara melayangkan pandangan ke arah Zack. "Kamu masih bersamanya?" tanyanya heran. Zack hampir tidak pernah bertahan dengan wanita yang sama untuk jangka waktu lama. Bahkan ia tak pernah setia, bisa dalam satu waktu berkencan dengan beberapa wanita sekaligus.
"Ya ... dia menyenangkan dan patut dipertahankan."
Bara tertawa kecil. "Ayolah cepat nikahi dia, jangan hanya kamu jadikan sekedar teman tidur saja."
"Kalau itu masih aku pikir-pikir."
Kelakuan Zack masih belum juga berubah. Ia sepertinya belum berniat serius menjalin hubungan dengan seseorang.
"Apalagi yang masih kamu tunggu? Kalau dia membuatmu nyaman, jadikan dia pendamping hidup. Ayahmu juga pasti akan senang kalau kamu mau menikah."
"Emili nyaman untuk sekedar diajak berteman. Tapi, untuk jadi istri ... kayaknya aku nunggu yang seperti Retha saja."
Bara langsung menatap tajam ke arah sahabatnya mendengar nama istrinya disebut.
"Ngomong-ngomong, sekarang dia dimana? Kayaknya setelah waktu itu aku tidak pernah bertemu dia lagi. Bahkan di tempat Tante Sukma katanya Retha tidak ada. Padahal aku ingin sekali lebih dekat dengannya. Semua gara-gara kamu merebut dia dariku!" gerutu Zack. "Aku yang susah payah menemukannya, kamu yang enak mendapatkan pelayanannya. Sialan!"
"Jangan mencari dia lagi!"
Zack terkejut dengan ucapan Bara. Baru kali ini Bara terlihat serius membahas seorang wanita. "Memangnya kenapa, Bar? Kamu bapaknya?" Ia terkekeh.
__ADS_1
"Sudahlah, kalau aku bilang jangan ya jangan." Bara memang belum memberitahukan tentang pernikahannya dengan Retha. Bahkan liburan dua minggu di Italia ia memberi alasan karena alasan pekerjaan. Hanya keluarga Retha yang tahu. Keluarganya sendiri maupun orang-orsng terdekatnya tidak ada yang tahu.
"Aku mau dia. Nanti aku hubungi Tante Sukma lagi untuk mrncarinya." Zack belum menyerah untuk Retha.
"Dia sudah menandatangani kontrak denganku seumur hidup."
Zack tercengang mendengarnya. "Apa nih? Jangan-jangan kamu yang menyembunyikan Retha, ya? Wah ... gila sih temanku yang alim ini sekarang jadi model lelaki yang nggak ada akhlak! Aku laporin Tante Ratih ya." Zack merasa Bara memang tertarik kepada Retha.
"Cari wanita lain, jangan Retha. Dia milikku!" Bara menegaskan kepemilikannya.
Klek!
Pintu ruangan terbuka. Tampak Silvia yang menggendong Kenzo membuka pintu tersebut. Mereka seketika mematung karena terkejut, apalagi Zack.
"Loh! Silvia?" seru Zack.
"Hai, Zack." Silvia berjalan menghampiri Zack.
"Halo, Uncle Zack," sapa Kenzo.
Kenzo mengangguk.
"Kamu ... kapan pulang, Sil? Aku sampai tidak tahu." Zack benar-benar kaget istri Bara akhirnya kembali. Wanita itu tampak cantik seperti dulu.
"Sekitar seminggu yang lalu, Zack."
"Syukurlah kalau kamu belum lupa jalan pulang. Aku kira kamu sudah menghilang," sindir Zack. "Bar, kenapa kamu tidak memberitahu kalau Silvia sudah pulang?" Kini Zack bertanya pada Bara.
Bara tampak membuang muka. Ia masih malas bertemu Silvia, apalagi kalau harus ditanya-tanya oleh Zack.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Bara dengan ketus.
"Kenzo mau aku ajak makan siang, tapi dia maunya mengajakmu makan bersama juga."
__ADS_1
Zack kegirangan merasa punya bahan candaan baru untuk meledek Bara. Ia sangat paham kalau temannya sudah hampir mati rasa gara-gara kepergian Silvia dulu.
"Cie ... keluarga udah utuh lagi nih, Bar. Selamat, ya ... jangan galak-galak sama Silvia, nanti dia kabur lagi kamu nangis-nangis," ledek Zack.
Bara tak tahu harus bagaimana. Ingin sekali rasanya ia menjitak kepala Zack.
"Sil, jangan kabur-kabur lagi, ya! Kasihan temanku yang satu itu, stres berat ditinggal olehmu." Zack mengerlingkan mata dengan genit kenarah Silvia.
"Lebih baik kamu pergi, Zack. Urusanmu di sini sudah selesai," usir Bara.
"Ah, tentu saja ... aku akan pergi sekarang. Kalian pasti perlu waktu untuk quality time sebagai keluarga, kan?" Zack mendekat ke arah Bara, "Selamat, Bar, Silvia sudah pulang. Giliranku mencari Retha dan menjadikanny istriku," bisiknya dengan senyuman nakal.
Bara tanpa ragu meraih dasi milik Zack dan menariknya. "Berani mendekati Retha, urusanmu denganku, Zack!" Bara tidak terima istrinya ingin didekati oleh Zack.
Dengan tenangnya Zack melepaskan cengkraman tangan Bara darinya. Ia kembali tersenyum meledek ke arah Bara seakan ia telah memenangkan sesuatu yang berharga.
"Kenzo, Uncle Zack pulang dulu, ya ... selamat bersenang-senang dengan Daddy dan Mommy." Zack meneluk kepala Kenzo sebelum ia keluar dari ruangan Bara.
"Bagaimana, Mas? Kita langsung makan siang sekarang, ya! Kamu sebentar lagi juga akan istirahat," ujar Silvia.
Bara masih tertunduk sembari memijit kepalanya. Ia sudah mengatakan ingin makan siang dengan Retha. Tapi, Silvia dan Kenzo justru lebih dulu menghampirinya di kantor.
"Daddy ... ayo!" ajak Kenzo tidak sabaran.
"Iya, Sayang. Tunggu Daddy sebentar lagi," jawab Bara dengan senyuman manis kepada putranya.
"Kantormu masih sama seperti dulu, ya, Mas. Tapi yang sekarang lebih bagus dan mewah dari pada dulu," ucap Silvia sembari melayangkan pandangan ke sekeliling. Ruangan Bara yang sekarang juga jauh lebih luas dari yang dulu.
"Mungkin itu berkat kepergianmu. Aku tidak perlu pusing memikirkan jatah bulanan dan fokus memperbaiki kondisi perusahaan," sindir Bara.
Silvia langsung merasa tersindir. Ia tahu seperti apa dirinya saat itu. "Aku minta maaf atas kejadian yang dulu, Mas. Pikirannya memang masih labil," ucapnya dengan nada merasa bersalah. "Sekarang, aku tidak akan merepotkanmu lagi, Mas. Aku sudah punya segalanya dan hanya perlu menjadi istrimu yang patuh saja. Aku janji tidak akan menuntut nafkah sebanyak dulu. Aku akan menjadi istri yang bisa memahami suaminya."
"Simpan kata-katamu untuk dirimu sendiri. Aku tidak merasa tertarik mendengarnya."
__ADS_1
Silvia merasa syok dengan sikap Bara. Lelaki itu sepertinya sudah sangat membenci dirinya. Ia akan mencari cara agar Bara kembali luluh kepadanya.