
Tatiana mengambil buket bunga yang Hendry jatuhkan. Bunga itu merupakan bunga kesukaannya. Aroma yang dikeluarkan juga menjadi favoritnya. Tak jauh dari buket bunga besar itu, ada sebuah kotak perhiasan berwarna merah senada yang ikut terjatuh. Ia buka kotak tersebut secara perlahan. Kilauan berlian yang terpancar dari dalam kotak tersebut begitu indah. Hendry hendak memberikan kalung berlian yang indah itu kepadanya.
Jun berjalan mendekati Tatiana. Ia turut sedih dengan apa yang baru saja terjadi. Mungkin Hendry telah salah paham dengan apa yang dilihatnya. Ia tak bermaksud untuk menggoda Tatiana dengan memeluknya. Ia hanya berniat menenangkan Tatiana yang sedang dilanda keresahan.
"Jun ... Bagaimana ini?" Tatiana kembali menangis.
Jun selalu tidak tega melihat wanita itu menangis. Ia kembali merengkuhnya, meminjamkan tubuhnya sebagai tempat bersandar.
"Pasti Hendry akan sangat membenciku, Jun ... Dia tidak akan memaafkanku. Huhuhu ...."
"Besok, kita sama-sama mendatangi Hendry di hotelnya. Biar nanti aku yang bicara padanya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi."
"Jun ...."
"Sudahlah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku jamin apa yang kamu cemaskan tidak akan terjadi. Hendry bukan orang yang pendendam."
"Aku tahu. Justru karena dia terlalu baik, aku semakin merasa terbebani. Seakan selama ini aku telah berbuat kejam kepadanya."
"Kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri, Tatiana. Jangan pernah mencoba untuk membahagiakan semua orang karena kamu tidak akan sanggup dengan hal itu."
"Bagaimana kalau Hendry tidak mau memaafkan aku?" Tatiana menyandarkan punggungnya di dinding. Ia melamun sembari menatap langit-langit ruangan.
"Sudah aku bilang, biarkan aku yang menggantikanmu berbicara pada Hendry."
***
Aku tunggu kamu di Hotel XXX kamar 509
Satu pesan yang datang dari Hendry membuat Tatiana merasa sedikit lega. Setidaknya Hendry masih mau berbicara dengannya. Entah nanti apa yang akan terjadi, ia akan menghadapinya dan memberikan penjelasan terbaik agar Hendry bisa mengerti.
Tatiana memulaskan riasan di wajah. Rambutnya telah tertata rapi, sengaja ia gerai agar terlihat menawan. Setelah selesai berdandan, ia menyambar tas Ermes warna coklat yang senada dengan pakaiannya.
Pagi ini ia akan pergi menemui Hendry sendiri, tanpa sepengetahuan Jun, manajernya. Bisa dikatakan ia kabur karena seharusnya pagi ini ada jadwal pemotretan. Ia harus menyelesaikan urusannya dengan Hendry.
__ADS_1
Hotel Hendry tak jauh dari tempat ia menginap. Dengan menaiki taksi, lima menit ia sudah sampai di tempat yang Hendry katakan. Tsnpa ragu ia langsung menuju ke kamar yang disebutkan.
"Masuklah!" pinta Hendry usai membukakan pintu untuk Tatiana.
Lelaki itu masih mengenakan handuk kinomo. Sepertinya ia baru selesai mandi.
Tatiana merasa canggung, tak berani berbicara kepada Hendry. Ia menyadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan kepada Hendry.
"Duduk!" Hendry mempersilakan Tatiana duduk di sofa ruang tengah. Lelaki itu juga turut duduk di sana.
Tanpa berucap banyak hal, Hendry menyerahkan map coklat kepada Tatiana.
Tentu saja hal tersebut membuat Tatiana terkejut. "Apa ini?" tanyanya.
"Ayo kita bercerai!" ucap Hendry.
Jantung Tatiana bagaikan disambar petir. Hendry menginginkan perceraian darinya. "Hendry ... Aku ...." tangan Tatiana yang memegang amplop berisi berkas tersebut sampai bergetar. Dadanya bergemuruh seakan ada badai besar yang menghantamnya. Matanya berkaca-kaca. "Apa yang kamu lihat kemarin bukan seperti yang kamu kira. Aku dan Jun tidak ...."
"Aku tahu!" Hendry menyela ucapan Tatiana. "Aku tahu kalau kalian tidak memiliki hubungan di belakangku."
Hendry terdiam. Semalam ia tidak bisa tidur karena merenungkan ucapan Tatiana. Dia memang sempat marah dan kecewa. Namun, ia juga menyadari kekurangan dirinya. Tidak seharusnya ia memaksa Tatiana bertahan dengan kondisi dirinya.
Sebenarnya, surat perceraian itu telah lama ia persiapkan. Ia juga tidak tahan dengan dirinya sendiri yang tidak bisa membahagiakan istrinya. Namun, selalu urung ia ungkapkan kepada Tatiana melihat wanita itu selalu tulus mencintainya. Ia kira Tatiana bensr-benar kuat. Jika ia tahu wanita itu menahan siksaan yang berat, mungkin sudah sejak lama ia akan melepaskannya.
Pengobatan yang dijalani seakan tak menghasilkan perkembangan. Penyebab yang tak bisa ia hilangkan, kecemasan yang berlebihan jika tidak mampu memenuhi ekspektasi pasangannya. Ternyata selama ini Tatiana menyembunyikan kekecewaan di belakangnya.
"Aku tidak marah, Tatiana ... Aku hanya ingin kita sama-sama bahagia. Kamu bisa menemukan lelaki lain yang lebih bisa membahagiakanmu."
"Honey ... Tapi kita sedang merencanakan untuk memiliki bayi, kan?"
"Aku akan membatalkan program bayi kita. Kamu bisa fokus pada pekerjaanmu dan juga kebahagiaanmu. Kamu harus berani mengambil keputusan, Tatiana."
Tatiana menatap dalam-dalam mata lelaki yang ada di hadapannya. "Bukankah kamu merasa kalau aku wanita yang sangat jahat? Aku istri tidak tahu diri yang tega meninggalkan suaminya." Tatiana menahan isakannya.
__ADS_1
Hendry mengusap kepala Tatiana. "Tidak ada yang jahat di sini. Kamu berhak menentukan hidupmu sendiri. Aku rasa perpisahan merupakan jalan yang terbaik untuk kita berdua."
Tatiana melabuhkan pelukan pada Hendry. Ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Ia juga tidak yakin bisa melepaskan Hendry, tapi dia juga tidak sanggup menjalani hari-hari pernikahan yang hampa.
Usai tangisannya mereda, Tatiana masih menyandarkan kepalanya pada bahu Hendry. Perasaannya masih ragu. "Sebenarnya aku ingin tinggal di luar negeri."
"Lalu, kenapa kamu setuju untuk pulang ke tanah air waktu itu?"
"Aku tidak tahu. Mungkin karena aku tidak mau mengecewakanmu."
Hendry menyunggingkan senyum. "Lain kali, katakan saja isi hatimu. Tidak perlu berusaha menyenangkan orang lain terus. Kamu tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika dirimu sendiri todak bahagia."
"Kamu tidak akan mengadukan aku kepada orang tua kita, kan?"
"Kita katakan saja kalau kita pisah secara baik-baik. Mereka pasti akan mengerti."
***
Arjun Ferzasky (32 tahun), manajer sekaligus bodyguard Tatiana Esperanza. Biasanya dipanggil Jun. Sudah menjadi pendamping Tatiana sejak awal karirnya. Berawal dari pengawal pribadi keluarga Tatiana, ia diperintahkan untuk menjadi pendamping Tatiana.
Tatiana Ernesta (30 tahun), seorang model dari keluarga kaya. Terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan juga merupakan tipikal wanita yang manja. Menikah dengan Hendry karena perjodohan oleh kedua orang tuanya.
Hendry Adrian Alexander (31 tahun), pengusaha muda yang sedang membangun bisnisnya di tanah air. Karena suatu alasan, ia menggunakan Bara sebagai CEO bayangan menggantikan dirinya. Hendry orang yang humoris dan juga terlalu percaya diri. Orang yang tidak terlalu mengenalnya akan menganggap dirinya tipe lelaki yang sombong dan angkuh.
Citra Mariana (29 tahun), wanita sederhana yang menjalani kehidupannya di panti asuhan. Baik penampilan maupun sikapnya mencerminkan kelembutan dan kesabaran yang luar biasa. Bahkan, ketika mendapatkan suami dan mertua yang kurang baik, ia mencoba sekuat tenaga bertahan.
__ADS_1
***
Catatan: ada perubahan visual, semoga semakin memperlancar halu kalian 😘