Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Pentingnya Pemanasan


__ADS_3

Citra duduk di bangku tunggu klinik dokter kandungan menunggu gilirannya diperiksa. Awalnya ia ragu untuk datang ke sana. Namun, jika dia tidak memeriksakannya sendiri hatinya tidak akan tenang.


Citra harus mengetahui keadaan tubuhnya sendiri, apakah memang ada yang tidak beres dengan rahimnya sampai tiga tahun menikah belum juga hamil. Apapun hasilnya nanti, ia akan berusaha tegar. Sekalipun ibu mertua akan menyingkirkannya jika terbukti mandul, mungkin ia akan perlahan menerima kondisi dirinya sendiri.


Citra tidak memberi tahu suaminya kemana ia pergi. Ia hanya mengatakan ada urusan dengan Lilis sehingga akan pulang malam. Kalau dia mengatakan kepada Yoga, mungkin dia akan marah. Yoga tidak ingin dirinya terlalu memikirkan tentang anak karena hal itu bukan masalah untuknya. Yoga akan tetap mencintainya sekalipun Citra tidak bisa hamil.


"Ibu Citra," panggil perawat yang berjaga di depan pintu ruang periksa. Setelah pasien sebelumnya selesai, giliran dirinya sekarang yang masuk.


Citra berpapasan dengan pasien hamil yang baru keluar dari ruangan. Perut buncitnya membuat dia merasa iri. Apalagi sang suami yang mendampingi terlihat begitu bahagia dengan kondisi kehamilan istrinya. Ia membayangkan dirinya sedang hamil, suaminya pasti akan sangat bahagia.


"Silakan duduk, Bu." Dokter Ester mempersilahkan Citra duduk di hadapannya.


"Terima kasih, Dok."


"Ada keluhan apa?" tanya Dokter Ester dengan nada ramah.


Citra bingung ingin mengutarakan permasalahannya. Rata-rata pasien yang datang bersamanya merupakan ibu hamil, sementara dirinya datang karena merasa bermasalah akibat tidak kunjung hamil.


"Em, Dokter ... saya ingin hamil," ucap Citra.


"Sudah menikah?" tanya sang dokter.


Citra mengangguk.


"Sudah berapa lama menikah?"


"Tiga tahun, Dok."


Dokter Ester tampak mengangguk. "Pernah menggunakan alat kontrasepsi?"


Citra menggeleng. "Sejak awal menikah, saya dan suami tidak pernah memakai alat kontrasepsi."


"Kenapa tidak datang bersama suaminya, Bu?"


"Hah? Memangnya kenapa harus dengan suami, Dok?" tanya Citra heran. Ia pikir jika akan periksa kesuburan, karena dia yang akan diperiksa maka tidak perlu mengajak suaminya. Lagipula, mungkin Yoga akan marah jika tahu dia berniat ingin cek kesuburan.

__ADS_1


"Perencanaan memiliki anak itu merupakan keputusan bersama, Bu. Tidak mungkin kan, Ibu Citra bisa hamil sendiri tanpa suami? Nanti seperti Siti Maryam ceritanya," gurau Dokter Ester.


"Hahaha ... Dokter bisa saja."


"Kalau Ibu Citra datang bersama suami kan enak, nanti kalian berdua bisa saling sama-sama tahu kondisi pasangan masing-masing. Bukan hanya Ibu saja yang perlu dicek kesuburannya, pihak suami juga."


Citra memasang mode serius untuk mendengarkan penjelasan dari dokter. "Jadi, suami juga harus dicek ya, Dok?"


"Tentu saja, Ibu ... memangnya kalau wanita tidak hamil-hamil itu kesalahan wanita? Bisa ada yang tidak beres dengan pihak lelaki."


"Maksudnya bagaimana, Dok? Saya kurang begitu paham." Citra semakin ingin lebih banyak tahu. Dalam kehidupan masyarakat, sudah lazimnya pihak wanita yang selalu dipersalahkan jika tak kunjung memiliki anak.


"Jadi begini, Ibu ... dalam tubuh wanita ada sel telur yang kelak akan menjadi calon bayi. Namun, butuh adanya sp3rma pria agar bisa membuahi sel telur sehingga bisa berkembang menjadi janin. "


"Pada beberapa lelaki, terkadang ditemukan kualitas sp3rma yang buruk sehingga tidak bisa membuahi sel telur dengan baik. Akibatnya, sang istri tidak kunjung hamil."


Citra baru mengerti tentang hal itu saat ini. Ia jadi ingin sekali mengajak suaminya datang bersama dan melakukan pengecekan kesuburan juga. Ia hanya bingung cara menyampaikannya. Jika ia mengutarakan secara gamblang, bisa jadi Citra dituduh telah menganggapnya mandul.


"Bagaimana frekuensi hubungan kalian? Rutin atau jarang? Atau kalian LDR?"


"Bagaimana dengan siklus menstruasinya?"


"Sejauh ini masih lancar, Dok."


Dokter Ester bertanya sembari mendengarkan keterangan yang didapat dari pasien lalu mencatatnya sebagai arsip rekam medis yang sewaktu-waktu mungkin akan berguna jika Citra memeriksakan kembali kondisinya kepada dirinya.


"Dokter ...."


"Iya?" Dokter Ester berhenti menulis dan memberikan perhatian prnuh kepada Citra yang sepertinya ingin bicara.


"Apakah normal kalau merasa sakit saat berhubungan?" tanyanya dengan nada ragu-ragu namun tetap ia utarakan.


Dokter Ester membulatkan mata. "Tiga tahun masih terasa sakit?" tanyanya penasaran.


"Iya, Dok. Sebenarnya saya kurang menyukai aktivitas seperti itu. Kalau suami mengajak, saya lebih baik suami cepat-cepat supaya segera selesai."

__ADS_1


Dokter Ester masih terheran-heran dengan cerita yang disampaikan pelanggannya. Ia kira semua pasangan pasti akan menyukai momen-momen kemesraan di antara mereka. Bagaimana bisa mereka memiliki anak jika tidak menikmati hubungan int1m yang menjadi penentu keharmonisan sebuah rumah tangga.


"Memangnya sebelum melakukan kalian tidak pemanasan dulu?" tanya sang dokter.


Citra mengernyitkan dahi. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang sang dokter bicarakan. "Pemanasan itu apa, Dok? Apa kami butuh olahraga dulu sebelum melakukannya?" tanya Citra polos.


Dokter Ester menutupi mulutnya karena menahan tawa. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang pasien yang masih lugu setelah tiga tahun menikah. Dalam pikirannya pasti sang suami tidak mengajarkan hal yang aneh-aneh untuk istrinya.


Citra sendiri tidak begitu tertarik mencari tahu seputar hubungan suami istri. Menurutnya, apa yang ia lakukan sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang istri. Dia sangat berayukur jika sang suami tidak menyentuhnya, saking ia tidak suka dengan rasa sakit yang harus dirasakan setiap berhubungan.


"Pemanasan itu, maksud saya sebelum kalian bercinta bisa didahului dengan saling berpelukan dan berciuman sampai kedua pihak merasa siap melakukannya. Bukan yang langsung main asal masuk tanpa menunggu kesiapan wanita."


Citra tiba-tiba menunduk. Sepertinya apa yang baru saja dokter sampaikan merupakan salah satu masalah dalam keluarganya. "Suami saya selalu melakukannya dalam tempo yang cepat, Dok."


Dokter Ester menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia sampai menahan napas saat mendengar cerita Citra. "Ah ... kalau begitu, menurut saya kalian harus mendiskusikannya berdua terlebih dahulu. Ibu Citra jangan ragu-ragu untuk mengungkapkan rasa ketidaknyamanan kepada suami. Kalau Ibu hanya diam, suami tidak akan paham. Ibu Citra sendiri yang bisa menilai seperti apa posisi yang nyaman dalam melakukan hubungan."


"Jadi, menurut sokter, cara yang selama ini kami lakukan itu salah ya, Dok?"


"Tentu saja. Kalau ada salah satu pihak yang merasa tidak nyaman, artinya harus ada yang dirubah."


Citra mulai merenungkan tentang dirinya dan suaminya. Pengetahuannya akan *3** dalam pernikahan nol besar.


"Ibu bukan patung yang hanya bisa pasrah dimainkan suami. Kalau ada yang tidak nyaman, segera utarakan."


"Iya, Bu." Meskipun Citra menjawab demikian, belum tentu juga ia berani mengatakannya pada sang suami. Bisa jadi Yoga malah curiga kepadanya.


***


Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘


Judul: Tanpa Perpisahan


Author: Tie Tik


__ADS_1


__ADS_2