
Citra menggendong putrinya dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. Bisa memegang dan memeluk seorang bayi yang terlahir dari rahimnya sendiri merupakan sebuah keajaiban. Di usianya yang ke-30, akhirnya ia memiliki seorang anak perempuan yang cantik.
Selama lima hari Citra tidak sadarkan diri usai melahirkan anaknya. Ia begitu bahagia mengetahui bayinya terlahir sehat dan selamat. Butiran air mata haru meleleh di pipi sebagai wujud rasa syukur yang tiada tara.
Hendry memeluk istrinya dari belakang. Ia juga turut senang kedua makhluk cantik itu bisa dipeluknya secara bersamaan. Kehidupannya serasa lengkap memiliki istri yang cantik dan anak yang sama cantiknya dengan sang ibu.
"Saat dia lahir tubuhnya sangat mungil, warnanya merah dan terlihat ringkih. Aku bahkan tidak berani menggendongnya. Bayi kita tinggal di dalam box kaca dengan lampu penghangat yang menemaninya. Persis seperti anak ayam yang baru menetas. Sekarang, ia sudah tumbuh lebih besar dan mendekati ukuran normal bayi pada umumnya."
"Ck! Tega-teganya kamu menyamakan anak kita dengan ayam," protes Citra. Ia kesal anaknya dikatakan seperti anak ayam.
"Siapa yang menyamakan? Itukan hanya perumpamaan, Sayang." Hendry melabuhkan sebuah ciuman di pipi Citra. "Kita beri nama siapa malaikat cantik ini, Sayang? Apa kamu sudah ada ide?" tanyanya.
Hendry mencolek pipi merah putrinya. Bayi mungil itu masih tetap tertidur dalam gendongan sang ibu.
"Bagaimana kalau kita menamainya Cheryl? Aku sudah memikirkannya sejak dia empat bulan dalam kandunganku," kata Citra.
Hendry berpikir sejenak menimbang-nimbang apakah nama itu akan sesuai untuk putrinya. "Kenapa harus Cheryl? Apa karena wajahnya kebule-bulean? Aku malah lebih suka kalau kita memberinya nama seperti orang-orang lokal. Contohnya namamu, Citra."
Citra tersenyum mendengar ucapan Hendry. "Aku tidak tahu juga kalau dia akan berwajah bule seperti ini. Tapi, menurutku Cheryl nama yang cocok untuknya. Cheryl artinya anak perempuan yang dicintai. Aku ingin dia dicintai oleh semua orang. Aku ingin dia hidup dengan dipenuhi cinta. Di nama itu juga ada perpaduan huruf C dan H, singkatan dari nama kita, Citra dan Hendry. Aku harap dia bisa selalu mengingat bahwa kita adalah orang tua yang sangat menyayanginya."
Perkataan Citra membuat Hendry terharu. Sekali lagi ia melabuhkan pelukan serta mencium istri dan anaknya. "Kalau begitu, mulai hari ini bayi kita akan memiliki nama Cheryl Putri Alexander."
__ADS_1
Klek!
Pintu ruangan terbuka. Perhatian Hendry dan Citra beralih ke sana. Tampak dua orang berwajah bule, sepasang pria dan wanita yang telah berumur muncul dari balik pintu. Si wanita membawa sebuah buket bunga berwarna merah mengembangkan senyum.
"Mommy, Daddy ...," sapa Hendry. Ia berjalan menyambut kehadiran orang tuanya yang tanpa disangka mau datang ke sana.
Citra tertegun. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua Hendry secara langsung. Sekilas ia pernah bertemu saat masa SMA dulu. Mereka tampak berkelas meskipun telah tua. Perasaannya sedikit gugup bertemu dengan mertuanya. Ada rasa takut jika mereka datang untuk memarahinya karena telah berani menerima lamaran Hendry.
Semakin mereka mendekat, semakin besar ketakutan Citra. Ia menundukkan kempala sembari sesekali menggoyangkan badan agar putrinya tetap tertidur lelap di gendongannya.
"Citra ...," sapa wanita itu.
Citra memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap ibu mertuanya. Wajah wanita itu terlihat ramah dan penuh senyum. Namun, ia tetap takut dan canggung.
"Citra, maafkan kami yang baru sempat datang menemui kalian," sahut sang ayah mertua dengan nada yang penuh wibawa.
Citra benar-benar heran apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Ia kira akan terjadi pertemuan yang sangat dramatis, orang tua Hendry akan menyuruhnya agar meninggalkan Hendry dan bayinya. Ternyata, apa yang pernah dikatakan Hendry benar. Orang tua Hendry terlihat ramah dan bisa menerima dirinya. Ia tahu Hendry pasti sudah menceritakan banyak hal tentang dirinya kepada orang tuanya.
"Kenapa menantu kita malah diam saja, Honey?" tanya Tom.
"Citra pasti masih kaget dengan kedatangan Mommy dan Daddy," kata Hendry sembari merangkul pinggang istrinya.
__ADS_1
Citra tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum dan semakin kikuk di hadapan sang mertua. "Terima kasih atas kedatangannya ke sini," ucapnya canggung.
Hendry menyuruh Citra menidurkan Cheryl di box bayi dan mengajak kedua orang tuanya untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar perawatan VVIP tersebut.
"Sekali lagi kami meminta maaf karena baru sempat datang berkunjung. Sebenarnya kami kira Hendry hanya bercanda saat mengabarkan ingin menikah lagi," kata Eve.
"Apalagi waktu Hendry bilang akan segera punya anak!" sambung Tom.
"Ya, itu benar. Kamu juga pasti sudah tahu, Citra. Di pernikahan pertama Hendry selama lima tahun saja sampai dia bercerai tidak bisa memiliki anak. Makanya kami tidak percaya saat dia bilang mau punya anak." Eve hanya geleng-geleng mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Kalau saja Hendry tidak mendadak memberitahu tentang pernikahannya, kami pasti akan mengadakan pesta pernikahan yang layak untuk kalian. Aku dengar Hendry hanya mencatatkan pernikahan kalian saja. Anak ini benar-benar tidak bisa menyenangkan hati wanita!" Tom memasang wajah kesal seolah marah karena Hendry tidak melangsungkan pernikahan secara layak.
"Yang penting sah, Dad! Citra juga tidak keberatan dan aku jadi suami yang bertanggung jawab." Hendry mencoba membela diri. Ia memeluk istrinya seakan ingin memperlihatkan kemesraan di antara keduanya.
"Bagaimanapun juga kamu tetap harus mengenalkannya sebagai istrimu, Hendry!" pinta Tom.
"Kalian adakan pesta pernikahan saja mumpung kami masih ada di sini!" desak Eve mendukung suaminya.
"Pesta pernikahan apa? Bayi kami sudah lahir, Mom!" Hendry tidak habis pikir dengan pemikiran kedua orang tuanya.
"Memangnya kenapa? Banyak juga yang menunda pesta pernikahan, bahkan ada yang baru melaksanakan setelah anaknya berusia lebib dari satu tahun." Eve kekeh dengan pendapatnya.
__ADS_1
"Em, saya rasa itu tidak perlu." Citra angkat bicara setelah mengumpulkan keberanian untuk menyela. Ketiga orang yang sejak tadi berdebat langsung diam saat Citra bicara. "Saya juga pernah menikah sebelumnya, dirayakan dengan pesta megah. Pada akhirnya saya mengalami perceraian seperti yang dialami Hendry. Jadi, menurut saya pesta pernikahan itu bukan sesuatu yang penting. Asalkan bisa saling menjaga komitmen, saya yakin pernikahan akan langgeng."
"Dengar sendiri, kan? Citra memang tidak mau ada pesta-pesta semacam itu. Untuk kalangan terbatas, nanti akan aku buat acara syukuran sederhana atas kelahiran Cheryl sekaligus mengenalkan Citra sebagai istriku," ucap Hendry.