
Citra menahan kesakitan di area selangkangannya. Semalam sangat menyakitkan untuk dirinya. Yoga benar-benar melakukan dengan kasar seperti orang kesetanan. Memang, biasanya ia juga selalu kesakitan, tapi tidak sekasar semalam.
Ia menjaga langkah kakinya agar tidak membuat orang bertanya-tanya, terutama Lilis. Citra belum siap diwawancarai oleh teman baiknya itu. Suasana kantor saat itu cukup lengang, sepertinya ia berangkat terlalu pagi.
Yoga sudah meminta maaf kepadanya karena hal semalam. Namun, Citra belum sepenuhnya ingin memaafkan lelaki itu. Saat Yoga mengantarnya ke kantor, ia terus memilih diam. Entah apa yang terjadi dengan suaminya sampai perangainya begitu berubah.
"Ah! Tunggu!" seru Citra ketika pintu lift hampir tertutup. Ia berlari dan berhasil mencegah pintu lift tertutup. Selangkangannya kembali terasa sakit akibat dibawa berlari. Ia menggigit bibir menahan sensasi sakit yang dirasakannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang lelaki dengan suara baritonnya.
Citra hampir lupa jika ada orang lain di dalam lift. "Saya tidak apa-apa." Ia berusaha bersikap biasa.
Ditatapnya sosok lelaki yang kini berada dalam lift yang sama dengannya. Dari sepatunya yang berkilau, celana hitam dengan jas rapi yang tampak mahal. Tubuhnya menjulang tinggi dan gagah. Saat matanya menatap wajah lelaki itu, Citra menelan ludahnya sendiri. Lelaki itu merupakan suami dari Retha, wanita yang saat itu ia jumpai di rumah sakit.
Citra sampai tertegun memandanginya. Serasa bertemu dengan seorang artis secara langsung.
"Hati-hati kepalamu bisa kram kalau mendongak terus ke atas," tegur lelaki itu.
Citra segera mengalihkan pandangannya. Ia sangat malu sudah dipergoki sedang mengagumi wajahnya secara langsung. "Maaf, Pak," ucapnya.
"Mau ke lantai berapa?" tanya lelaki itu.
"Lantai 10," jawab Citra.
Pintu lift kembali tertutup setelah lelaki itu menekan tombol lift tujuan mereka. Saat lift mencapai lantai 10, pintu terbuka. Lelaki itu keluar. Citra kira lelaki itu akan berhenti di lantai lain, ternyata lelaki itu juga berhenti di lantai yang sama dengannya.
Ia heran, sebelumnya Citra tak pernah bertemu dengan lelaki itu. Selama bekerja di sana, ia hampir mengenal karyawan yang bekerja di lantai 10 yang memang merupakan divisi tempatnya bekerja.
Citra mempercepat langkahnya membuntuti lelaki itu dari belakang. Lebih mengherankan lagi saat lelaki itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Orang-orang menyalami dan terlihat senang dengan kehadiran lelaki itu. Citra tidak tahu kalau akan ada karyawan baru di divisinya.
"Dor!" Lilis yang baru datang mengagetkan Citra. "Kenapa ada rame-rame di kantor kita?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Lis. Baru datang juga. Ada orang asing masuk tadi."
"Oh, mungkin CEO baru."
Citra menatap heran pada Lilis. "CEO baru?" tanyanya.
"Kamu tidak tahu? Manajer lama kita yang lama kan sudah lama hilang tidak ada kabar tapi masih aman-aman saja. Sampai akhirnya ada perombakan kepemimpinan, CEO kita sudah diganti. Juga akan ada manajer sementara yang akan ditempatkan di divisi kita." Lilis heran dengan Citra yang tidak tahu beritanya padahal setiap hari bersamanya.
Citra hanya sempat mendengar bahwa manajer lamanya diduga korupsi sehingga dinonaktifkan sementara. Berdasarkan gosip yang beredar juga, manajer lama meminta uang kepada calon pegawai baru untuk kelancaran perekrutan padahal perbuatan tersebut benar-benar dilarang. Ia kira orangnya akan kembali dan mengakui kesalahan, ternyata malah kabur.
"Cepat masuk, yuk!" Lilis menarik tangan Citra agar ikut masuk bersamanya.
Kehadiran dua orang lelaki tampan menghebohkan para staf yang ada di sana. Sudah beberapa pekan tempat itu ditinggalkan oleh pemimpinnya, kini muncul wajah segar yang akan mewarnai hari-hari kerja para staf HRD. Anak buahnya pasti akan semakin rajin bekerja.
"Perkenalkan, nama Saya Hendry Adrian Alexander, 31 tahun,
yang akan menduduki posisi manajer HRD yang baru. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan kepemimpinan saya bisa berguna di sini." Melalui penyambutan kecil yang dilakukan oleh para staf, Hendry resmi menjadi bagian dari mereka.
"Mau tanya apa?" Hendry menyunggingkan senyum.
"Bapak masih jomlo, nggak?" tanyanya dengan nada dibuat-buat imut.
Hendry tertawa kecil mendengar pertanyaan semacam itu. Staf yang lain menyoraki Indah.
"Saya sudah menikah, istri saya juga sangat cantik. Tolong jangan mencoba menggoda saya," jawab Hendry.
Sontak para staf wanita terutama yang jomlo langsung lemas. Mereka kira akan dapat kesempatan berjodoh dengan orang ganteng di kantor. Ibaratnya baru usaha sudah dibuat patah hati oleh sang manajer baru.
Sementara, Bara yang berdiri di pojokan tak jauh dari Hendry hanya bisa menahan tawa. Hendry memang tipe lelaki yang tidak suka basa-basi dan suka mematahkan harapan orang.
"Yah, Cit ... susah banget ternyata dapat jodoh. Kalau mau yang kaya, tampan, mapan, biasanya sudah jadi milik orang. Kalau begini terus, kapan aku bisa dapat jodoh," Lilis bergelayut manja pada Citra.
__ADS_1
"Kan masih ada Akang Jaka, Lis ... dia setia menunggumu, loh ...." Citra tidak tahan menggoda Lilis.
"Idih, kamu mau mendukungku dengan Jaka? Iyuh ... dia bukan levelku, ya ... mending aku nggak nikah, deh ...." Lilis bergidik kalau harus memikirkan tentang Jaka, staf bagian produksi yang beberapa kali pernah mengutarakan perasaan padanya. Memang, mereka satu suku. Akan tetapi, gaya Jaka yang kampungan membuat Lilis tidak menyukainya.
"Kenapa? Dia orangnya baik, loh ... dari wajahnya kelihatannya setia dan penyayang. Daripada cari yang ganteng tapi punya selingkuhan, kan?"
"Kamu bisa bicara seperti itu karena suamimu ganteng. Dia juga penyayang, tidak pelit lagi. Sempurna banget hidupmu, Cit!"
Raut wajah Citra berubah ketika Lilis menyebutkan kata kesempurnaan. Di dunia ini, tidak ada yang sempurna termasuk kehidupannya. Awalnya Citra juga mengira rumah tangganya akan bahagia jika menemukan pasangan impian seperti Yoga. Lelaki itu memang tampan, idaman para wanita. Beruntung dia bisa menikah dengan Yoga.
Akan tetapi, kesempurnaan itu hanya semu, sebatas bayangan orang lain yang tidak merasakannya secara langsung. Citra mengalami banyak kesedihan yang dipandang orang sempurna. Hingga kini ia belum hamil. Belum lagi memiliki mertua yang banyak tuntutan, serta adik ipar yang suka mengusik keluarganya. Hanya kekuatan cinta yang masih membuat Citra mau bertahan.
"Ah! Eum, maaf ya, Cit ...." Lilis menyadari sudah menyinggung Citra secara tidak sengaja. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan.
Citra berusaha tetap tersenyum. Ia tahu kalau Lilis tak bermaksud menyakiti hatinya. "Tidak apa-apa, Lis."
"Citra!" seru Irul.
Pembicaraan antara Lilis dan Citra terhenti.
"Kamu disuruh masuk ke ruangan Pak Hendry."
***
Sembari menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya. Seru loh ceritanya 😘
Judul: Second Chance
Author: Ria Aisyah
__ADS_1