
"Pak, nanti orang-orang akan curiga kalau saya terlalu lama berada di ruangan Bapak." Citra masih berusaha menghentikan kenekadan Hendry memintanya berhubungan di kantor.
"Sstt! Diam dulu, aku sedang fokus melepaskan pakaianmu supaya tidak kusut. Nanti rekan kerjamu yang lain bisa tahu kalau aku sudah berbuat mesvm padamu di kantor."
Perlahan Hendry melepaskan kancing kemeja Citra. Wanita itu terlihat menghela napas pasrah. Ia biarkan sang suami melakukan apa yang dimau. Toh tubuhnya sudah dijamah oleh lelaki itu setiap malam.
Mengizinkan Hendry untuk menyentuhnya satu kali merupakan suatu kesalahan besar. Ia sudah membuat lelaki itu ketagihan dan berani meminta jatahnya sendiri meskipun Citra masih setengah hati mengizinkannya.
"Setelah ini pasti akan ada gosip yang beredar di kantor," keluh Citra. Ia ingin menghabiskan waktunya di sana dengan damai tanpa ada skandal sampai ia berhenti nanti. Tapi sepertinya keinginannya tidak akan terwujud. Hendry ternyata lebih agresif dari yang ia duga.
"Biarkan saja mereka mau berkata apa. Aku justru senang kalau mereka tahu kamu adalah istriku," ucap Hendry sembari menciumi ceruk leher Citra. "Ini juga salahmu sendiri, kenapa jadi sangat cantik sampai aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak pagi. Rasanya aku mau meledak kalau harus menunggu waktu pulang. Jadi, kamu harus bertanggung jawab."
Hendry bangkit sejenak untuk melepaskan bawahannya sebagai kain terakhir yang menutupi tubuhnya. Ia menyunggingkan senyum saat melihat ekspresi Citra yang terlihat malu-malu serta berusaha memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu selalu menghindari untuk menatapku, Sayang?" tanya Hendry seraya mengarahkan kepala Citra agar menghadap kepadanya.
Citra tidak mampu memandangi tubuh kokoh yang terpahat sempurna itu. Melihat tubuh indah itu sungguh menggoyahkan perasaannya. Bahkan rasa benci dan kesal yang biasa singgah di hatinya seakan tersingkir saat berada di dalam rengkuhan lelaki itu.
"Cepat lakukan saja! Aku mau kembali ke ruang kerjaku!" jawab Citra dengan kesal.
Hendry tertawa dengan ucapan istrinya. Ia jadi semakin gemas terhadapnya. "Kamu membuatku terlihat seperti seorang bos yang sedang mengancam karyawannya," godanya.
"Memang itu kan kenyataannya?" Citra masih berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Mencium aroma lelaki itu bisa membuatnya terlena dan tak berdaya. Itu suatu hal yang berbahaya jika berlama-lama di sana. Hendry pasti akan semakin meledeknya karena ikut menikmati sekalipun terkesan jutek dan menolak.
"Baiklah, sepertinya aku akan memecat istriku sendiri dari kantor mulai besok. Agar aku bisa lebih leluasa membawamu ke kamar ini."
Citra langsung melotot. Hendry semakin senang dengan respon istrinya.
"Tapi, kalau kamu jadi karyawan yang penurut, mungkin aku bisa mempertimbangkannya lagi," katanya nakal. Hendry kembali memagut bibir sang istri.
__ADS_1
Beberapa kali berhubungan membuat Citra seakan mulai terbiasa mengimbangi keintiman yang lelaki itu berikan. Ia tak sungkan menempatkan tangannya di belakang leher Hendry saat berciuman.
Helaan napas yang saling bersahutan di antara keduanya membuat ruangan itu seakan berubah menjadi sebuah hotel tempat pasangan memadu cinta. Tanpa memikirkan hal lain, keduanya terhanyut dalam gelora cinta yang membara.
Kedua tangan Citra mere mas sprei setiap kali sang suami menggerakkan benda itu di dalam miliknya. Era ngan demi era ngan keluar begitu saja dari mulutnya. Tatapannya terarah fokus pada lelaki yang ada di atasnya. Binar mata yang penuh kehangatan dan cinta itu memberikan kenyamanan yang nyata. Seakan berusaha meyakinkannya bahwa laki-laki itu akan membuatnya bahagia.
Ketakutan Citra akan pernikahan semakin memudar. Rasa traumanya dulu selama tiga tahun tidak terulang dalam pernikahannya yang sekarang. Hendry memperlakukannya dengan sangat baik sebagai seorang istri. Meskipun terkadang masih menyebalkan, namun dekapannya selalu membuatnya merasa nyaman.
"Kamu menyukainya? Aku tidak menyakitimu, kan?" tanya Hendry di sela-sela aktivitas mereka.
Wajah Citra memerah. Ia hanya mengangguk pelan seolah malu untuk mengakui apa yang Hendry lakukan juga membuatnya seakan di atas awan. Sikap pemaksa lelaki itu tidak sampai mengabaikan kenyamanannya. Hendry tetap peduli dengan kondisi kehamilannya.
Hendry menyatukan kedua tangan mereka. Dengan napas yang semakin berat, ia menelusupkan kepalanya pada ceruk leher Citra. Gerakan di bawah sana semakin cepat. Desa han keduanya semakin memburu hingga akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan yang diburu.
Keduanya saling berpelukan setelah menyelesaikan satu sesi yang penuh peluh dan perjuangan. Sentuhan kulit mereka menimbulkan rasa hangat meskipun ruangannya ber-AC.
"Terima kasih, Sayang," ucap Hendry sembari mencium kening Citra.
Citra masih tertegun dalam dekapan Hendry. Ia heran terhadap dirinya sendiri. Bahkan setelah kegiatan yang biasanya ia benci itu, ia merasa masih ingin mengulangnya lagi.
Sebelumnya ia ingin cepat-cepat selesai dan keluar dari sana. Namun, setelah merasakan nikmatnya kegiatan barusan, Citra ingin tetap berada di sana bersama suaminya. Semacam ada dorongan dalam dirinya yang menginginkan kegiatan itu terulang.
Hendry pasti akan menertawakannya dan menganggapnya sebagai wanita mesvm. Ia belum pernah merasa seperti itu sebelumnya. Atau mungkin karena sudah cukup sering mereka melakukan sehingga membuatnya ketagihan.
Citra keheranan melihat sorot mata Hendry yang terus terpaku padanya. "Kenapa?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya," ucap Hendry. "Kenapa tanganmu nakal memegangi punyaku?"
Citra menghela napas terkejut. Ia menggerakkan jemari tangannya, merasakan sesuatu yang tegak dan keras berada dalam genggamannya tanpa disadarinya. "Astaga!" serunya kaget sembari reflek melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa malah dilepas? Sudah enak tadi kamu pegang-pegang," ledek Hendry sambil senyum-senyum.
"Aku tidak sengaja!" kilah Citra dengan malunya.
"Sengaja juga tidak apa-apa. Aku malah lebih suka."
Hendry menarik paksa tangan Citra kembali. Citra berusaha melawan dengan andalan mata melototnya. Hendry malah tertawa dan tetap menyentuhkan tangan Citra pada miliknya. "Ayolah, jangan malu-malu! Benda ini memang hanya untukmu, jadi perlakukan dengan baik," ucapnya bertujuan untuk menggoda.
"Kalau kamu tidak mau, nanti aku yang akan menyentuhmu."
Perlahan Citra mau menyentuhkan kembali tangannya di sana. Terlihat Hendry berbunga-bunga istrinya menjadi seorang yang penurut.
"Istriku manis sekali," puji Hendry. "Mulai besok, berhentilah bekerja. Aku takut kamu kelelahan. Aku sedang senang-senangnya bermain di atas ranjang bersamamu seperti ini," ucapnya secara blak-blakan.
"Masih ada sisa waktu satu bulan lagi sebelum aku resign. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku supaya tidak membebani yang lain."
"Kenapa kamu masih memikirkan orang lain? Bukankah yang utama kesehatan anak kita?" ucap Hendry.
"Kalau kamu juga memikirkan kesehatan anak kita, tidak seharusnya setiap malam memintaku melakukan hal seperti ini. Bahkan hari ini sudah dua kali," bantah Citra.
"Aku hanya sekedar ingin menengok anakku. Aku kan ayahnya," kilah Hendry tak mau kalah.
"Memangnya menengok harus setiap hari?" protes Citra.
"Harus. Supaya anakku kelak bisa lebih dekat denganku. Apalagi dokter bilang kehamilanmu aman, dan sudah diberikan suplemen penguat kandungan. Aku juga sangat berhati-hati melakukannya."
"Tapi, tidak sampai harus menyuruhku berhenti kerja, kan?" keluh Citra.
***
__ADS_1