
"Angga ... Angga ... kamu itu sudah ganteng jadi Pradana di pramuka. Atau jadi gelandang tengah di tim bola. Cewek-cewek bakalan teriak-teriak kalau lihat kamu. Kenapa juga sekarang berubah jadi anak berandalan begini, berkelahi sampai babak belur, bolos sekolah ... kamu pikir ini keren?"
Ibu Indah, wali kelas Angga memanggil anak itu menghadap ke ruang guru saat istirahat. Sebagai seorwng wali kelas ia merasa tanggung jawabnya jika ada salah satu siswanya yang bermasalah. Apalagi Angga sudah duduk di kelas 12 SMA dan sebentar lagi akan disibukkan dengan berbagai macam ujian. Ia tak ingin ada muridnya yang gagal lulus tahun ini. Apalagi Angga selama ini terkenal sebagai anak yang patuh, disiplin, tidak pernah macam-macam, dan patut dicontoh oleh teman-temannya. Bukan hanya Ibu Indah yang menyayangkan perubahan perilaku Angga, tetapi juga guru-guru lainnya.
"Katanya anak cowok kalau nakal sedikit itu wajar, Bu." Angga berusaha membela dirinya.
"Mana ada nakal yang wajar? Yang ada perbuatan menjurus tindakan kriminal," sahut Pak Mada.
"Baru satu kali, Pak. Saya minta maaf ...." Angga merendahkan nada bicaranya. Pak Mada terkenal sebagai guru yang galak, ia lebih memilih untuk mengalah dari pada semakin dicampuri urusannya.
"Baru satu kali nanti berlanjut kedua kali ketiga kali!" ucap Pak Mada ketus.
"Angga, sebenarnya kamu ada masalah apa? Kenapa sampai berkelahi?" tanya Ibu Indah dengan nada lembutnya.
"Saya tidak ada masalah apa-apa, Bu. Kebetulan ada orang cari masalah di jalan mau ganggu saya waktu pulang sekolah. Saya terpaksa membela diri. Masa saya salah."
"Kamu kan bisa lari!" sanggah Pak Mada.
Sebenarnya Angga jadi ingin menghajar guru BK nya itu juga. Tapi, kalau ia lakukan, sudah dipastikan ia akan dikeluarkan dari sekolah. Baru kali ini ia merasa kesal kepada seorang guru.
"Jauhi masalah, Angga ... masa-masa SMA kamu sudah tidak lama lagi. Jangan sampai kamu mendapat masalah dan terkendala pendidikannya. Ibu menasihati karena peduli kepadamu." Nasihat Ibu Indah terdengar begitu lembut seperti seorang ibu.
__ADS_1
"Anak dari keluarga bermasalah memang biasanya ikut bermasalah. Entah apa kesibukan yang ayahmu lakukan, seharusnya dia bertanggung jawab terhadapmu. Apalagi ibumu sudah meninggal. Kalau bukan ayahmu yang mau peduli lalu siapa lagi?"
Angga memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Mendengar Pak Mada menyebut-nyebut ayahnya, rasanya emosi di hatinya ingin meledak. Hampir saja ia melayangkan tinju kepada Pak Mada, namun ia urungkan saat sudut matanya menangkap sosok Edis ada di ruang guru, hanya beberapa meter darinya. Gadis itu sedang berbincang-bincang dengan guru matematika kelas 11. Beberapa saat pandangan mata mereka bertemu, keduanya saling bertukar senyuman.
Di akhir masa sekolahnya, Angga memang merasa kehidupannya terasa terpuruk. Bahkan ia hampir berniat bunuh diri di atas atap gedung sekolah. Namun niatnya diurungkan karena Edis, wanita yang membuatnya tetap ingin bertahan hidup.
Mungkin Edis sendiri tidak tahu kalau ia pernah tanpa sengaja menyelamatkan. Tapi, ia jatuh cinta pada wanita itu bukan dengan tiba-tiba.
Flash back on
Angga berdiri di atas atap gedung sekolah, menatap ke wabah dari lantai sepuluh gedung tersebut. Semua terlihat kecil saat ia melihatnya dari atas. Ia ingin mati di sekolahan itu agar menjadi siswa abadi setelah mati. Memang tujuan yang gila, tapi ia memang sudah tidak tahan menjalani kehidupannya.
Semua berawal saat ia menemukan foto-foto mesra ayahnya dengan seorang wanita yang tersimpan di kotak perhiasan ibunya. Di dalam sana ada buku catatan curahan hati ibunya bahwa pernikahan ibu dan ayahnya tidak bahagia. Ibunya menuliskan ayahnya memiliki seorang selingkuhan.
Ancaman demi ancaman ibunya terima dari selingkuhan ayahnya sampai kondisi ibunya menurun akibat stres berat. Ibunya dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama dengan indikasi maag akut.
Hal yang ia sesali waktu itu, ia menjadi anak yang jahat sebelum ibunya masuk rumah sakit. Ia sering marah-marah kepada ibunya karena ia merasa ibunya sangat pemalas. Rumah berantakan, masakan ibunya berubah tidak enak, menjadi sering melamun, dan tidak peduli lagh dengan Angga.
Sementara, ayahnya memang sering pergi ke luar kota atau luar negeri untuk berbisnis. Sampai akhirnya sang ibu masuk rumah sakit dan meninggal. Awalnya ia masih menyalahkan ibunya, kematian itu salah ibunya sendiri. Ia bahkan membenci ibunya setelah kematian itu.
Sampai akhirnya bukti ia temukan bahwa ibunya meninggal karena tekanan batin akibat perbuatan ayahnya. Ibunya juga mengorbankan perasaannya sendiri demi menjaga mental Angga. Ia sangat paham Angga pasti akan terpuruk jika tahu orang tuanya bermasalah. Ia menyesali tahun-tahun mengutuk ibunya sendiri hingga ingin mati untuk menghukum dirinya.
__ADS_1
"Mama, maafkan anakmu yang tidak berguna," ucapnya sebelum berniat terjun dari atas gedung.
"Dasar orang kaya nggak ada akhlak!"
Angga terkejut dengan suara seseorang yang sepertinya sedang marah. Ia buru-buru turun, tidak jadi melompat. Ia bersembunyi di sela-sela bangunan sembari memperhatikan siapa orang yang datang ke sana. Ternyata seorang murid perempuan. Dari warna dasinya, ia tahu gadis itu adik kelasnya.
"Ada ya, orang kaya jadi tukang palak. Sebenarnya mereka itu kaya tau miskin? Uang jajan orang sampai diminta mentang-mentang kakak kelas. Dasar tukang tindas!" gerutu wanita itu.
"Cantik iya, kaya iya, tapi masih minta-minta. Gila apa dunia ini! Apa nggak seharusnya mereka mati saja dari pada jadi sampah di bumi? Mana mainnya keroyokan! Apa mungkin mental anak orang kaya itu lembek kayak jelly? Kalau punya masalah sedikit pasti ingin bunuh diri."
Perkataan wanita itu yang tak sengaja terdengar oleh Angga begitu menusuk hatinya. Ia sangat tersindir dibilang bermental jelly.
"Hah ... jatah uang sakuku cuma dua puluh ribu sudah mereka minta lagi. Alamat pulang jalan kaki dan nggak makan siang."
"Kasihan sekali cacing-cacing dalam perutku ... Ini gara-gara anak-anak orang kaya mental jelly itu. Awas saja aku bersumpah akan lebih sukses dari mereka."
Angga mengecek saku miliknya. Ada tiga lembar uang rathsan ribu yang ia miliki. Satu lembar ia ambil, digulung-gulung lalu dilemparkan ke arah wanita yang masih menggerutu di sana.
"Hah! Uang siapa ini? Apa ini uang dari langit yang kasihan dengan orang miskin sepertiku? Hehehe ... namanya rezeki anak piatu." Wanita itu memungut uang Angga dengan senyuman lebar. Setelah itu, ia pergi meninggalkan rooftop.
Angga tertawa kecil dengan tingkah wanita itu. Mulai saat itu, ia terus memperhatikan gerak-gerik murid yang bernama Edis itu. Semakin lama ia perhatikan, ia semakin jatuh hati padanya. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk berusaha mendekati dan mengungkapkan perasaannya. Sayangnya, Edis selalu menolaknya.
__ADS_1
Flash back off.