
"Edis, kita jadi kan ke toko buku hari ini?" tanya Mita, teman sekamar asrama Edis.
"Iya. Fio mana? Katanya dia juga mau ikut cari buku?"
"Dia ke toilet sebentar. Katanya kebelet."
Pulang sekolah Edis dan teman-temannya berencana pergi ke toko buku untuk membeli buku materi pelajaran sekaligus jalan-jalan. Tidak setiap hari mereka melakukannya, hanya kadang-kadang saja kalau mereka baru mendapatkan kiriman uang orang tua.
Terakhir Retha datang ke asramanya, Edis mendapatkan cukup banyak uang. Ia bisa lebih leluasa jajan dari sebelumnya. Meskipun ia mencurigai pekerjaan kakaknya, ia juga merasa terbantu dengan uang yang kakaknya berikan. Ia jadi merasa bersalah kepada kakaknya. Apalagi kakaknya juga membelikan banyak barang-barang bagus, sementara pakaian yang dikenakan kakaknya sendiri hanya pakaian sederhana yang harganya murah.
"Gimana, Angga sudah bisa dihubung?"
Pandangan Edis teralih pada beberapa kumpulan siswa laki-laki yang baru turun dari kelas atas. Mereka merupakan anak-anak yang sering terlihat bersama Angga, salah satunya Tobi.
"Tidak usah bahas Si Kampret Angga! Dia sudah seperti makhluk ghoib pokoknya, tiba-tiba lenyap tanpa kabar!" gerutu Tobi. Ia selalu menjadi sasaran pertanyaan teman-temannya jika Angga bersikap aneh.
"Bagaimana kalau kita datangi apartemennya?"
"Kamu kira gampang masuk apartemen? Bisa disangka maling kalau kita ke sana."
"Lagipula Angga tidak mungkin membiarkan kita masuk ke apartemennya. Dia itu sangat menjaga privasi."
Pembicaraan mereka membali membuat Edis terngiang dengan kejadian kemarin. Ia yang mencoba mengabaikannya, menjadi semakin berat untuk tetap tidak peduli padanya.
Angga biasanya selalu menjadi orang yang ceria, memiliki banyak teman di sisinya. Prestasinya banyak, selain di bidang kepramukaan, dia juga menjadi salah satu anggota tim inti basket. Sebagian besar murid perempuan pasti menyukainya, tak terkecuali dirinya.
Disukai oleh orang yang memiliki banyak pengagum ternyata tidak semenyenangkan itu. Justru membuatnya menderita karena sering diganggu terutama oleh kakak kelas. Angga selalu seenaknya mendekati dirinya, membuat orang lain salah paham dan membencinya. Kemarin ia juga menciumnya secara tiba-tiba.
Namun, ketika mengingat kembali bahwa lelaki itu tinggal sendirian di apartemen sebesar itu, dengan tempat yang sangat berantakan, ia jadi khawatir. Angga sedang sakit dan tak ada yang merawatnya. Ia selalu bertanya-tanya, apakah dia baik-baik saja, apakah dia sudah sembuh?
__ADS_1
"Yuk! Berangkat sekarang!" Fio telah keluar dari kamar mandi dan siap pergi ke toko buku bersama.
"Ah! Em, sepertinya kali ini aku tidak bisa ikut, ya ... tiba-tiba aku ada urusan," ucap Edis dengan wajah merasa bersalah. "Maaf, ya ...." Edis tampak buru-buru berlari pergi lebih dulu membuat kedua temannya kebingungan.
Edis berubah pikiran. Sekuat apapun ia berusaha menjauhi Angga, hatinya tetap mengkhawatirkannya. Ia sangat peduli pada lelaki itu.
Dia baru menyadari bahwa sebenarnya Angga selama ini berusaha mendekatinya karena rasa peduli. Lelaki itu selalu datang di saat-saat ia memiliki masalah, namun ia selalu mengusirnya pergi. Betapa bodoh dirinya untuk takut kepada orang lain, terutama Lova. Dekat dengan Angga bukanlah suatu dosa. Jika mereka saling menyukai, apa hak orang untuk melarang?
Edis memang bukan orang yang berpunya. Tapi, apakah jatuh cinta bisa diatur, Apa salahnya menyukai lawan jenis yang kebetulan anak orang kaya? Bukankah suka tetap suka apapun alasannya? Suka karena ketampanan juga tetap namanya suka.
Edis berjalan menyusuri jalan pintas terdekat menuju tempat tinggal Angga. Ia tak akan lagi takut akan apapun karena dirinya juga ingin menjadi dekat dan memahami seorang Angga.
Edis terkejut saat ada yang menarik tangannya, membawa dia ke arah jalan gang yang lebih sepi. Saat orang itu berbalik dan melepaskan penutup hoodie, ia terkejut karena orang yang menariknya ternyata Angga.
"Kak ...."
Angga memperlihatkan tatapan sendu. Wajahnya masih terlihat pucat dengan bekas luka di area bibir yang masih kentara. Edis antara senang dan khawatir bertemu dengannya di sana.
"Ayahku hari ini pulang. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."
Edis kaget dengan jawaban Angga. Sepertinya lelaki itu juga memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya.
Angga memegang tangannya. "Kamu mau ke rumahku, kan?" tebaknya.
Edis tidak bisa menjawab. Ia merasa malu mengakui bahwa ia peduli kepada lelaki itu.
"Apa kamu sudah menentukan jawabanmu?" tanyanya.
Edis tidak mengira jika Angga akan secepat itu meminta jawaban atas ajakan pacaran dengannya. "Aku ... aku ...." Ia seakan tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Tolong, jangan menjauhiku ...." Angga menarik tangan Edis, membawanya kedalam pelukan. Lelaki itu terlihat sangat rapuh dan membutuhkan sandaran.
Entah mengapa Edis tak kuasa menolak pelukannya. Ia seakan ikut terhanyut dengan perasaan yang saat ini Angga rasakan. Ia membalas pelukan yang Angga berikan.
"Kamu masih demam, Kak ...."
"Iya, aku tahu."
Edis semakin tidak mengerti tentang perasaannya. Ia tahu antara cinta dan rasa kasihan sangat berbeda jauh. Namun, ia merasakan dua hal itu sekaligus kepada Angga.
Saat ia memeluknya, ia merasakan tubuhnya yang bergetar. Serta perasaan sedih yang membuatnya terlihat muram. Pelukannya terasa erat seperti mendambakan kenyamanan.
Tanpa sepatah katapun yang terucap, pelukan yang mereka lakukan telah memberikan jawabannya. Ia kira Angga seorang yang tak pernah punya masalah seperti dirinya. Ternyata Angga juga memiliki masalahnya sendiri.
"Sebentar lagi Kakak akan lulus dari SMA. Bagaimana kalau kita menghabiskan banyak waktu bersama sebelum Kakak menjadi mahasiawa?"
"Mari kita sering jalan-jalan berdua."
"Kita bisa pergi nonton ke bioskop, nyanyi di tempat karaoke, main di time zone, juga gila-gilaan di taman bermain!"
Angga melepaskan pelukannya. Ia terkejut dengan ucapan Edis yang terdengar sangat berarti untuknya.
Edis menyimpulkan senyum. "Ayo kita lakukan semua itu berdua. Ayo kita pacaran," ucapnya.
"Ayo!"
Perasaan Angga yang sebelumnya kacau kini mendapatkan kebahagiaan lain. Wanita yang sangat ingin didekati kini telah memberikan jawaban untuk menjalin hubungan dengannya.
Kedua tangannya meraih tengkuk leher Edis seraya memberikan kecupan di bibir lembut wanita itu. Kali ini berbeda, Edis membalas ciumannya sebagai tanda bahwa perasaan mereka telah menyatu.
__ADS_1
Sejenak beban pikiran yang Angga miliki terlupakan dengan manisnya ciuman yang mereka lakukan. Saat kedua bibir mereka bertemu, saling bertautan, ada desir-desir kebahagiaan yang mereka rasakan.
Gang sempit yang sunyi siang itu menjadi saksi sebagai tempat mereka mulai berpacaran. Dua orang dengan latar belakang yang berbeda serta permasalahan hidup yang berbeda mencoba bersama untuk saling memahami dan mendukung.