
"Saranku, kamu tidak usah terlalu berambisi membalas Silvia. Tanpa kamu menyentuhnya, hidup Silvia juga sudah sangat menderita," nasihat Bara.
"Enak saja! Sahabatku sampai depresi gara-gara pernikahannya gagal dengan Rangga, kamu minta aku untuk berhenti? Tidak sampai aku melihat Silvia merasakan hal yang sama dengan orang yang pernah ia sakiti."
Thea merupakan wanita keras kepala. Ia tidak akan berhenti mengganggu Silvia sampai tujuannya tercapai. "Kamu masih peduli sekali dengannya. Katanya sudah punya istri baru."
"Aku sudah tidak peduli padanya. Sayang saja tenaga dan pikiranmu digunakan untuk mengurusi dia."
"Itu terserah aku, Bara. Kamu jangan ikut campur. Kalau kamu ikut campur, nanti kamu juga akan jadi targetku selanjutnya."
Bara terdiam. Ia tidak tega saja melihat Silvia tambah menderita. Tanpa campur tangan Thea, Silvia pasti sudah kebingungan, apalagi saat ini wanita itu sedang hamil. Ia masih peduli bukan karena cinta, tapi ingin melihat wanita itu bisa hidup normal agar Kenzo merasa bangga memilili ibu seperti Silvia. Sepertinya wanita itu memang sudah tidak tertolong lagi.
"Aku pergi dulu, Bara. Ingat perbincangan kita hari ini."
Thea pergi meninggalkan ruangan tersebut. Saat akan keluar, ia berpapasan dengan Zack.
"Oh, wanita berjiwa pria ini masih hidup," ledek Zack sembari memandangi Thea dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilannya yang s3ksi membuat Zack terkagum-kagum. Saat SMA Thea sangat tomboy dan sekarang telah berubah menjadi wanita dewasa yang aduhai, sangat sesuai dengan tipenya.
Thea melotot ke arah Zack. Ia juga benci kepada mantan playboy di sekolah dulu. "Tidak aku sangka bertemu Bang Toyip di sini. Apa kabar burungnya? Masih hidup nomaden atau sudah punya sarang sendiri?" ledek Thea.
"Kenapa? Mau sarangmu aku singgahi?" jawab Zack.
"Amit-amit!" Thea bergidik mendengar perkataan Zack. Ia memilih langsung pergi dari sana.
Sementara, Zack menggantikan Thea masuk ke dalam ruangan tersebut menemui sahabatnya.
"Gila kamu, Bar. Sudah masuk di tahanan seperti ini, pakai seragam penjara, masih saja kelihatan ganteng. Aku yakin kalau kamu seorang artis, cewek-cewek pasti akan punya cita-cita baru: menikah dengan narapidana." Zack melemparkan gurauannya. Namun, sepertinya Bara kurang tertarik dengan lelucon yang tidak lucu itu.
"Kamu tidak memberitahukan orang rumah, kan?" tanya Bara. Ia takut kalau keluarganya tahu akan membuat mereka panik.
"Seperti kemauanmu, aku tidak mengatakan apa-apa kepada Tante Ratih dan yang lain. Memangnya kenapa sih, mereka tidak boleh tahu? Ayahmu pasti bisa membantu masalahmu kali ini."
__ADS_1
"Itu tidak perlu. Aku tak mau mereka khawatir. Lagi pula ada kamu dan rekan bisnis yang lain pasti akan berusaha mengeluarkanku dari sini."
"Yah! Terserah kamu sajalah! Kamu kan orangnya tenang. Apapun yang terjadi tetap stay cool ...." Zack menirukan gaya Bara yang terlihat angkuh dan serius saat bertemu dengan karyawannya. "Oh, iya. Bagaimana dengan Silvia? Apa aku juga perlu memberitahunya?"
"Boleh ... Bilang saja aku terjerat kasus serius dan harus membayar denda kerugian besar sampai perusahaan dan aset pribadi akan disita. Aaku juga akan dijerat hukuman penjara selama 10 tahun."
Zack melongo mendengar perkataan Bara yang lancar menyebutkan perkiraan hukumannya. "Jangan pesimis begitu, Bar. Kayak nggak punya sahabat saja. Aku pasti akan membantumu sekuat tenaga."
"Tapi, selama ini aku belum pernah melihatmu becus membantuku. Aku sampai masuk ke sini juga salah satu kecerobohanmu!" sindir Bara secara langsung.
Zack tidak tersinggung dengan perkataan Bara. Lelaki itu memang suka berbicara jujur meskipun menyakitkan untuk didengar, apalagi kepada dirinya. "Aku janji kali ini akan sekuat tenaga dan pikiran mengeluarkanmu dari sini. Ide untuk membungkam media sebenarnya juga dari aku, loh! Jangan salah. Aku juga punya kompetensi."
"Tapi yang bertindak bukan kamu, kan?"
Perkataan Zack langsung ditimpali Bara. Zack hanya bisa nyengir sembari menggaruk kepalanya. "Kalau aku sudah menggantikan ayahku, aku juga pasti bisa melakukan hal semacam itu, Bar. Ini juga salahmu karena waktu itu menolong ayahku di proyek. Kalau kamu tidak menolongnya, sudah pasti aku yang akan menerima warisan perusahaan."
Bara hanya termekeh dengan perkataan Zack. "Sebenarnya kalau beritanya terkuak juga tidak masalah. Kalau perlu panggil juga banyak wartawan supaya seluruh masyarakat tahu," ucapnya.
Bara tidak memikirkan hal itu untuk terkenal. Ia hanya sedang memikirkan Retha. Semalam ia juga tidak bisa tidur karena memikirkan istri tercintanya yang belum jelas keberadaannya. Jika berita kasusnya disiarkan berbagai saluran berita, Retha pasti akan tahu dimana dirinya berasa. Ia yakin jika Retha tahu dirinya ada di sana, wanita berhati lembut itu pasti akan mendatanginya.
"Jangan mentang-mentang wajahmu tampan sampai mau masuk berita kriminal. Netizen memang terkadang aneh, kalau pelakunya good looking biasanya dibela. Kalau pelakunya jelek, sudah pasti dihina."
"Aku yakin para investor akan semakin agresif menumbalkanmu kalau sampai berita ini terkuak. Mereka juga sudah keluar banyak yang demi menutupi berita tentangmu."
"Itu untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak mau disangkutpautkan jika aku ketahuan bermasalah," sangkal Bara menepis perkataan Zack.
"Sabar, kalau sekertarismu sudah ditemukan, kamu pasti akan langsung dibebaskan."
Kali ini Bara jadi memikirkan tentang nasib sekertarisnya. Mikola sudah lima tahun bekerja dengannya, menemani dirinya berjuang dari nol. Mikola tidak pernah mengecewakan Bara, selalu mengerjakan pekerjaan yang diberikan dengan baik dan ontime.
Ia sudah terbiasa mempercayakan semuanya kepada Mikola. Baru kali ini Bara benar-benar dibuat kecewa. Bahkan Mikola pergi tanpa pamit, lelaki itu menghilang begitu saja seakan lenyap ditelan bumi.
__ADS_1
"Zack, bisa aku minta tolong sesuatu?" tanya Bara dengan nada serius.
Kali ini Zack tidak berani mengeluarkan candaannya. Bara sepertinya ingin membahas sesuatu yang penting. "Apa, Bar?"
"Sepertinya aku tahu di mana Mikola berada."
Zack melotot. "Kenapa kamu tidak mengatakannya langsung kepada polisi supaya menangkapnya? Cepat katakan dimana baj1ngan itu!" Ia terlihat emosi. Menurutnya, Bara diam hanya menyusahkan diri sendiri. Apa yang menimpa Bara merupakan kesalahan orang lain yang dilimpahkan kepadanya.
"Aku mau kamu menemuinya sendiri! Jangan bawa polisi, Zack. Apa kamu bisa melakukannya untukku?"
Zack tidak habis pikir sahabatnya itu masih berusaha melindungi penjahat seperti Mikola. Gara-gara asistennya, Bara yang harus menanggung semuanya.
"Kamu kenapa sih, Bar?" tanya Zack heran.
"Kalau kamu mau melakukan apa yang aku minta, akan aku beretahukan di mana dia berada."
Zack menghela napas. "Tapi, kamu harus memberikan alasannya dulu. Kenapa aku harus menemuinya sendiri dan tidak boleh melibatkan polisi? Dia aktor utama dalam kasus ini, Bar!"
"Aku punya alasan tersendiri. Pokoknya, kamu sampaikan saja salamku jika bertemu dengannya. Tanyakan kenapa dia mengkhianati aku. Katakan juga aku tidak akan menuntut apa-apa darinya. Dia boleh selamanya bersembunyi atau kabur ke tempat yang lebih aman asal hidupnya bisa bahagia."
"Kamu jadi orang nekad juga. Kamu pikir dia akan luluh dengan kebaikanmu?"
"Aku tidak berharap apa-apa darinya."
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan?"
"Itu urusan belakangan. Aku bisa merintis lagi dari awal. Ah, iya! Tolong kamu juga hubungi temanku, namanya Hendry Alexander. Katanya dia mau pulang ke tanah air dan berniat mengakuisisi PT Minasa Persada."
"Bukannya itu perusahaan yang mengekspor kepiting ke negara-negara Eropa?" tanya Zack memastikan.
"Benar."
__ADS_1
"Itu perusahaan setahuku sedang bermasalah, Bar."