Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kekesalan Bara


__ADS_3

Bara dan Retha saling berpelukan mesra. Setelah dua minggu menjalani bulan madu yang luar biasa, akhirnya mereka telah sampai kembali di apartemen milik mereka. Retha masih tak ingin melepaakan tubuh suaminya yang hendak berpamitan pulang ke rumah orang tuanya.


Dua minggu rasanya dunia telah berubah. Retha begitu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang yang berlimpah oleh Bara. Seakan di dunia hanya ada mereka berdua. Akan tetapi, pada kenyataannya masih ada Kenzo yang masih butuh perhatian Bara.


"Kenapa, Sayang?" Bara mengelus rambut Retha saat memeluknya. Wanita itu terus menempel kepadanya sambil merengek.


"Nggak apa-apa, cuma belum mau pisah saja. Membayangkan nanti malam tidur sendiri, rasanya jadi sedih." Retha berkata dengan suaranya yang manja. Mulutnya dimanyun-manyunkan seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk.


"Tumben ... biasanya protes, katanya capek kalau tidur bareng terus? Kirain bakalan seneng aku tinggal, nggak ada yang bikin kamu melek sepanjang malam," ledek Bara. Wanita itu juga sering merengek kalau dia kebanyakan minta jatah. Dia bilang badannya selalu pegal dan tidak kuat apa-apa selain tiduran di ranjang.


"Ya, itu juga gara-gara Mas Bara. Tiap malam bobo bareng, nanti malam mau ditinggal sendirian!" Retha semakin menelusupkan kepalanya pada dada suaminya. Ia masih tidak ingin ditinggalkan Bara.


"Mau bagaimana lagi? Kenzo masih di rumah Mama, sekalian aku mau membagikan oleh-oleh ke mereka. Kamu sabar dulu, nanti tiba saatnya aku mengenalkanmu kepada keluargaku." Bara mengecup kening Retha seraya melepaskan pelukannya. "Atau nanti aku bisa bawa Kenzo menginap di sini lagi, ya! Kayaknya masih ada yang belum puas diajak bulan madu," ledeknya.


"Ya sudah, Mas. Menginap saja di sana. Kalau balik lagi ke sini nanti kasihan Kenzo kemalaman," ucap Retha.


Bara menepuk puncak kepala Retha. "Aku pergi dulu. Baik-baik di rumah, besok aku akan datang lagi."


Sebenarnya berat untuk Bara meninggalkan wanita yang baru diperistrinya. Apalagi statusnya masih ia sembunyikan dari keluarga meskipun sudah sah di mata hukum.


Memang, pernikahannya dengan Silvia belum diakhiri sebagai alasan agar ibunya tidak terus menjodohkannya dengan wanita lain. Selama tiga tahun ia duda tapi masih berstatus menikah. Urusan pernikahannya sampai mengurus surat-surat ke pengadilan agama dan pencatatan sipil karena situasi pernikahannya tidak biasa.


Sementara ia mendaftarkan Retha sebagai istri kedua, sama hanya dengan dia berpoligami. Persetujuan mudah ia dapatkan dengan alasan istri menghilang tanpa kabar sehingga tak perlu surat persetujuan istri untuk menikah lagi. Setelah Kenzo bisa lebih mengerti, ia perlahan akan menceritakan tentang posisi Retha dalam hidupnya.


Retha tidak akan pernah menggantikan posisi ibu kandungnya, namun Retha bisa menjadi teman bagi Kenzo, karena Retha telah menjadi istri ayahnya. Retha wanita yang baik, ia yakin Kenzo bisa menerimanya dengan baik.

__ADS_1


Alasan Bara masih mempertahankan pernikahan dengan Silvia, bukan karena ia masih berharap kembali padanya. Rasa benci terhadap wanita itu bahkan seperti gunung yang menjulang tinggi. Hanya demi kepentingan Kenzo ia masih mengingatkan wanita itu kepada putranya agar tidak pernah lupa kepada sosok ibu kandungnya. Silvia mungkin gagal sebagai seorang istri, namun ia tetap seorang ibu yang hebat bagi Kenzo.


Setiap hari ia menceritakan tentang Silvia kepada Kenzo, tentang kasih sayang wanita itu kepads putranya. Makanya di apartemen Bara masih terpasang rapi foto-foto pernikahan mereka. Tujuannya agar Kenzo tumbuh dengan mengingat keharmonisan orang tuanya.


"Halo semuanya ... aku bawa banyak oleh-oleh ... siapa yang mau?" seru Bara ketika sampai di rumah orang tuanya sembari menenteng banyak barang di kedua tangannya.


Eril dan Gisel langsung berlari menyambut kehadiran paman mereka. Ia bersorak riang melihat Bara membawa banyak barang. Sementara, Mikha dan Ratih berjalan mendekat dengan malas.


"Kenzo mana, Ma?" tanya Bara. Biasanya kalau ia datang, Kenzo langsung berlari ke arahnya bersama kedua sepupunya. Kali ini, Kenzo tidak terlihat menyambutnya. "Apa dia sudah tidur?"


"Kamu nggak mampir ke apartemen, Bar?" tanya Ratih.


Bara merasa ada yang aneh. Setelah pulang dari bandara, ia langsung pulang ke apartemen Retha lalu ke rumah ibunya. Ia sama sekali tak mampir ke apartemennya karena di sana tidak ada siapa-siapa. "Memang kenapa, Ma?" tanyanya.


Ratih tampak memijit kepalanya. "Mikha, beritahu Kakakmu. Aku pusing kalau menceritakannya sendiri." Ratih berbalik pergi dan duduk di ruang tengah.


"Tiga hari yang lalu istrimu datang ke sini." Mikha tampak menghela napas. "Kak Silvia," ucapnya.


Bara seketika langsung terdiam mendengar nama Silvia disebut. Ia tidak percaya kalau wanita itu berani membali setelah tiga tahun mencampakannya tanpa alasan yang jelas.


"Apa Kak Silvia tidak memberitahu Kakak kalau dia sudah kembali?" tanya Mikha.


Bara terkekeh. "Kamu jangan mengada-ada, Mikha. Mana mungkin Silvia kembali." Ia benar-benar tak mempercayai perkataan adiknya. Mungkin ia hanya sedang dikerjai.


"Aku serius, Kak. Kenzo dibawa olehnya pulang ke apartemen. Kalau Kakak tidak percaya, kembalilah sekarang ke sana. Aku dengar dari Ibu Jihan, Kak Silvia juga datang secara langsung ke sekolahan Kenzo."

__ADS_1


'Mau apa lagi wanita itu kembali?' batin Bara. Ia mengepalkan erat kedua tangannya.


"Jadi, bagaimana, Kak? Apa kamu akan kembali kepadanya?"


"Aku sangat heran kenapa Kenzo masih bisa selengket itu dengan Kak Silvia, padahal sudah tiga tahun ia ditinggalkan. Kenzo itu biasanya tidak nyaman dengan orang yang tisak dekat dengannya."


Bara tidak bisa berkata-kata. Mengetahui Silvia sudah kembali membuatnya sangat terkejut, apalagi Kenzo saat ini dibawa oleh wanita itu.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Ini semua hadiah untuk kalian. Terima kasih sudah menjaga Kenzo."


Tanpa basa-basi, Bara segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Ia menuju ke dalam mobil lalu mengemudikannya dengan kencang.


Pikirannya menjadi kalut. Di saat ia sudah bisa move on dari Silvia, wanita itu kembali hadir dalam kehidupannya. Sekarang, ada Retha dalam kehidupan mereka. Entah bagaimana ia akan bersikap menghadapi kedua wanita itu. Bara hanya khawatir Silvia membawa Kenzo darinya untuk selamanya.


Lebih baik ia kehilangan Silvia dari pada kehilangan Kenzo. Ia dan Kenzo sudah terbiasa hidup tanpa Silvia, jadi dia yakin bisa kembali hidup tanpa keberadaan Silvia juga.


*****



Mau kasih edukasi sedikit untuk pembaca, author di real life ada kerjaan, ya ... nulis kalau lagi banyak kerjaan bisanya emang sore sampai malam. Jadi, maaf kalau update lama. Kalau mau novel yang nggak perlu nunggu, bisa baca karya-karya author yang sudah tamat. Ada 3 judul:


1. Antara CEO dan Mafia


2. Antara CEO dan Mafia 2

__ADS_1


3. Pura-Pura Miskin


__ADS_2