
Klik!
Pintu kamar terbuka. Retha agak ragu untuk kembali ke kamar hotel lagi setelah beberapa jam menghabiskan waktu di mall. Ia sudah melakukan apa yang Bara minta, mulai dari belanja, masuk ke tempat spa, smpai masuk salon agar malam ini tampil cantik. Hal yang ia takutkan kalau Bara akan memintanya melakukan hal yang macam-macam.
Perlahan ia melangkah memasuki kamar. Tampak Bara sedang berbaring di atas ranjang sembari membaca buku. Ia melangkah mendekat ke arahnya dengan penampilan terbaiknya.
"Astaga!" Bara terhenyak kaget sampai buku di tangannya terbang. Jantungnya seakan mau copot, ia kira ada siapa di samping ranjangnya. "Kamu sudah pulang?" tanyanya sembari melemparkan tatapan tercengang melihat wanita yang begitu cantik ada di dekatnya.
"Bapak mau saya pergi lagi? Katanya saya harus pulang jam delapan," Retha jadi bingung. Padahal wajahnya sudah memerah karena malu berdandan seperti itu.
Bara meraih tangannya. Mata Bara seakan telah terhipnotis untuk tetap memandanginya. Otaknya yang sedari tadi dipusingkan dengan masalah pekerjaan seketika lupa dengan kehadirannya. "Kenapa kamu jadi secantik ini? Sayang sekali aku tidak bisa mengajakmu jalan-jalan."
"Kata Bapak saya harus wangi dan cantik. Saya melakukan apa yang Bapak minta."
"Kamu melakukannya lebih baik dari dugaan saya. Padahal aku hanya ingin mengajakmu tidur bersama."
Bara menarik tangan Retha hingga terjatuh ke atas ranjang. Dengan gerakan yang cepat ia sudah mengungkung wanita itu di bawahnya. Rasanya ia sangat tidak sabar untuk mencumbunya. Entah kenapa perasaannya berdesir-desir begitu kencang.
"Bapak sudah janji tidak akan macam-macam dengan saya." Retha merasa gugup. "Kalau Bapak nekad, saya tidak akan segan untuk menendang Bapak!"
Bara tertawa kecil. Tanpa mempedulikan perkataan wanita itu, ia langsung mencium bibir yang telah membuatnya candu. Retha tak bisa mengelak, kedua tangannya sudah dipegang erat. Ciuman yang diberikan begitu agresif sampai membuatnya hampir tak bisa bernapas. Kedua kakinya ikut terkunci. Lelaki itu seperti orang sehat, tenaganya begitu kuat sampai ia tak bisa berkutik.
"Saya tidak akan marah kalau Bapak tidak berhenti! Pak Bara!" Retha terus berteriak-teriak sementara Bara dengan nakalnya menciumi area leher. Tangannya juga meraba-raba p4yud4ranya.
Bara semakin serakah. Pakaian bagian atas wanitanya disibakkan hingga ia bisa melihat dengan jelas kedua gundukan indah yang tersembunyi di dalamnya. Matanya berkabut, ia tak tahan untuk mengecupnya dengan lembut, membuat wanita itu tak kuasa menahan des4hannya.
"Hiks! Hiks!"
__ADS_1
Bara menghentikan perbuatannya saat mendengar suara isakan tertahan. Ia pandang wajah wanita itu yang sudah berderai air mata dengan tatapan sendunya. Ia tidak tahu kalau perbuatannya sampai membuat Retha menangis.
"Saya minta maaf," ucapnya sembari menutup kembali pakaian yang ia singkapkan. Jemarinya mengusap lelehan air mata di pipi Retha. Ia sadar perbuatannya sudah kelewat batas dan semakin ngelunjak.
"Saya tidak tahu kenapa begitu menginginkanmu. Mungkin ini karena sudah terlalu lama sendiri, memiliki seorang wanita di sampingku membuat lupa diri." Bara menggenggam tangan Retha sembari menatapnya dalam-dalam. "Kamu sangat cantik. Saya sangat senang kamu menemaniku di sini."
Isakan Retha perlahan berhenti. Ia mencoba memahami posisi seorang lelaki sepertinya. Bagaimanapun juga, Bara tetaplah lelaki biasa yang tak akan tahan berhadapan dengan wanita. Tidak sepenuhnya salah Bara, Retha juga yang menawarkan dirinya sebagai pemuas ranjang lelaki.
"Saya janji tidak akan meminta hal lebih darimu."
"Ucapan Bapak tidak sesuai dengan perbuatan Bapak!" protes Retha.
Bara menyunggingkan senyum, mendengar Retha bisa ketus kepadanya menandakan wanita itu sudah tidak begitu marah padanya. "Saya belum pegang yang bawah ...," godanya.
"Pak ...."
"Pak Bara!" kesal Retha.
Bara menarik tubuh Retha ke dalam pelukannya. "Bolehkan saya memintamu untuk menemaniku tidur seperti ini setiap malam? Tubuhmu hangat dan nyaman. Aku jadi tidak merasa kesepian," gumamnya.
"Saya tidak akan macam-macam, kita cukup tidur bersama sambil berpelukan seperti ini." Bara memejamkan matanya. "Kamu jangan pergi, ya!" ucapnya.
Retha berusaha terdiam menahan diri dalam pelukan Bara. Lelaki itu terus memejamkan mata dengan deru napas yang terdengar teratur. Lelaki itu benar-benar tertidur sembari memeluknya. Rasa kesal Retha yang sempat membuncah menjadi luluh melihat wajah tampan yang tampak tenang tertidur di hadapannya.
Baru kali ini Retha benar-benar bisa memperhatikan lekat wajah itu. Malam ini ia akan tidur dalam dekapan seorang CEO yang sangat tampan. Ia sampai lupa kalau lelaki itu seorang duda dengan satu anak.
*****
__ADS_1
Retha merasa silau. Tidurnya terusik dengan sinar matahari yang mulai masuk lewat celah-celah tirai kamar. Ia mencoba membuka mata. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah senyuman manis dari seorang CEO yang semalam mendekapnya.
"Ah!" Retha langsung terbangun. Dirinya masih terbaring di atas ranjang mengenakan pakaian yang semalam. Sementara, Bara sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya.
Ada yang aneh dengan lelaki itu. Ia menatapnya dengan sungguh-sungguh dari bawah hingga atas. "Bapak sudah bisa jalan? Bapak sudah sembuh?" Retha membulatkan mata melihat Bara bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Bahkan, gips yang terpasang di kakinya sudah lepas.
"Kenapa, kamu tidak suka?" Bara tersenyum. Ia duduk di tepi ranjang seraya memberikan ciuman singkat di bibir Retha seperti seorang suami yang menyapa istrinya di pagi hari.
"Biasanya kan patah tulang butuh berbulan-bulan sembuh, Pak ...."
Bara mengusap lembut rambut Retha yang sedikit kusut. "Aku sudah tidak sabar mengajakmu jalan-jalan. Makanya aku lepas."
"Bapak bohong, ya? Sebenarnya Bapak tidak kecelakaan?" Retha merasa dibohongi.
"Saya benar-benar kecelakaan. Kaki dan tangan saya juga luka. Tapi, tidak separah itu. Masih sedikit sakit untuk jalan."
"Sebenarnya gips yang saya pakai untuk mengelabuhi orang-orang yang berniat menggagalkan proyek ini, bukan untuk membohongimu. Saya juga termotivasi sembuh karena ada kamu."
"Memangnya ada yang berniat jahat kepada Bapak?" tanyanya.
"Tentu. Ada banyak. Orang yang berniat mencelakai saya juga sudah tertangkap. Jadi, aku meminta dokter untuk melepaskan gips pagi tadi. Waktu kamu masih tidur."
"Tidurmu nyenyak sekali seperti bayi. Aku sampai tidak tega membangunkanmu."
Bara memeluk wanita itu. Pagi ini perasaannya begitu berbunga-bunga mengingat saat bangun wanita itu masih berada dalam dekapannya.
"Kamu bisa sarapan dulu atau mandi. Saya akan ke kantor sebentar. Setelah urusan saya selesai, kita akan jalan-jalan," ucapnya sembari mengecup pipi wanita yang tampak masih tertegun di ranjangnya. "Sampai bertemu nanti, Sayang ...," godanya.
__ADS_1
Wajah Retha jadi memerah. Ia seperti merasa menjadi pengantin baru yang ditinggal kerja suaminya.