Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Reuni SMA 2


__ADS_3

Acara reuni berlangsung cukup meriah. Mereka lebih memilih berkelompok dengan teman-teman yang dulunya akrab di SMA. Obrolan mereka sangat nyambung karena sejak dulu sudah saling kenal dan bercanda ria. Termasuk juga Yoga dengan teman-temannya.


"Ngomong-ngomong, sudah punya anak berapa, Ga?"


Pertanyaan spontan dari Miranda membuat Yoga tersenyum kecut. Karir yang bagus, pernikahan harmonis, kendaraan pribadi dan jam tangan mahal yang dikenakannya ternyata tak mampu menyelamatkan dirinya dari satu pertanyaan horor yang sangat ingin ia hindari. Sampai saat ini memang dirinya belum dikaruniai seorang anak.


"Yoga belum punya anak, dia masih mau menikmati masa-masa pacaran dengan istrinya." sahut Ira. Ia seakan tahu jika pertanyaan itu berat untuk Yoga jawab. "Lagian untuk apa kalian tanya-tanya tentang anak, menikah saja belum. Ira berusaha menjawab dengan nada santai agar suasana tidak berubah kaku.


"Kalau nikah sih belum, Ra. Kalau kawin, sudah sering tuh Si Temi," ujar Rudi.


"Sialan! Kamu kali Rud, yang tukang kawin!" Temi tidak terima dengan ucapan Rudi yang menjelek-jelekkan dirinya.


"Kalian sesama tukang kawin tidak usah saling berebut ... sama saja kalian!" sahut Budi.


"Heleh, Si Budi sok bijak. Aku juga sering ketemu kamu di klab malam." Rudi mencebikkan bibirnya.


"Aku di sana cuma numpang minum, ya ... nggak kayak kalian yang numpang ngeluarin mayones."


"Ini Si Budi perlu kita hajar kayaknya nih, Rud!" sahut Temi.


"Ayo, Tem! Habis ini kita habisi dia."


"Setuju, setuju ... kita buat biar dia nggak bisa kawin."


"Dih! Pembahasan mereka benar-benar nggak bermutu," gumam Rahma sembari menggeleng-gelengkan kepalanya memperhatikan tingkah teman-temannya yang kembali seperti anak kecil.


Perdebatan antara Budi, Temi dan Rudi membuat suasana kembali hidup. Pembahasan tentang anak yang ditujukan pada Yoga menjadi teralihakan. Ira memang wanita yang pandai mengalihkan perhatian orang lain.


Ira menoleh ke arah Yoga yang tampak masih murung. Sementara yang lain masih sibuk bercanda, ia mengembangkan senyum kepada Yoga. Lelaki itu juga membalas senyumannya. Ira menepuk paha Yoga secara diam-diam, lalu menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," ucap Ira dengan nada lirih memberikan penguatan kepada Yoga.Yoga mengangguk memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.


Ira menjadi orang yang paling mengerti tentang kehidupan Yoga. Wanita itu masih menjadi teman baiknya yang nyaman untuk diajak berbagi cerita. Dalam berbagai kesempatan, Ira yang sering membantunya terhindar dari topik pembahasan semacam itu.


Yoga juga berharap bisa segera memiliki anak. Namun, mungkin karena kesibukan dia dan istri yang membuat mereka terkendala untuk mendapatkan momongan. Terkadang ia juga ingin meminta Citra berhenti kerja agar fokus di rumah. Mungkin dengan begitu mereka bisa segera mendapatkan momongan.


"Santai saja, Ga! Kalau belum punya anak. Aku yang sudah punya dua anak saja pusing, semakin sulit keluar rumah. Nikmati saja dulu masa-masa awal pernikahan, kamu juga masih muda dan teman-temanmu ini juga masih banyak yang jomlo," sambung Mike yang menjadi janda dengan dua orang anak.


Mike memiliki sedikit penyesalan untuk memutuskan menikah muda. Ia kira setelah menikah hidupnya akan lebih bahagia, bisa bersantai menunggu uang dari suami. Akan tetapi, boro-boro bisa bahagia dan bergelimang harta. Yang ada dia diselingkuhi suaminya.


Ia yang sudah bekerja keras mengurus rumah dan anak bahkan sampai mengabaikan diri sendiri, di luar sana suaminya malah bermain api dengan wanita lain. Kehidupannya menjadi seorang janda setidaknya lebih baik dari pada saat masih memiliki suami. Ia bisa fokus bekerja untuk membahagiakan diri sendiri dan kedua anaknya.


"Tuh, dengerin dari ahlinya, Ga. Mike, janda beranak dua yang menyesal menikah muda dan punya anak cepat-cepat," kata Rahma.


"Ye! Siapa yang menyesal punya anak? Seru tahu punya anak." Mike menyangkal pendapat Rahma.


"Perasaan kamu sering mengeluh kalau kita ajak jalan, deh." Miranda seperti memihak Rahma.


"Yah, itu kadang-kadang sih. Namanya juga orang tua muda, wajar masih labil suka teringat masa-masa sebelum menikah. Jadi kadang pusing mikir sekarang sudah ada anak."


Dulu, Mike suka menyindir temannya yang tak kunjung menikah dengan alasan ingin membahagiakan diri sendiri. Setelah mengalami kegagalan berumah tangga, ia jadi paham jika menikah bukan jaminan untuk bahagia.


Bahkan, anak juga bukan jaminan untuk bahagia. Memutuskan untuk memiliki anak berarti harus bersiap menerima tanggung jawab yang besar, bukan sebatas sampai anak dilahirkan, melainkan seumur hidup. Makanya sekarang Mike tidak mau merendahkan teman yang belum tertarik untuk menikah atau bahkan mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak alias children free.


"Kalau sudah menikah, mau apa-apa juga halal ya, Ga! Apalagi belum punya anak, bebas lakuin di mana saja. Aku jadi tertarik untuk segera menikah," ucap Budi.


Budi, lelaki berparas pas-pasan berselera tinggi. Dengan penghasilannya yang hanya setara UMR ia mendambakan seorang istri sempurna bak bidadari. Teman-temannya sering meledek sebagai pemimpi di siang bolong.


"Kebanyakan nonton film biru kamu, Bud ... nikah kok kepikirannya hal yang enggak-enggak. Mau praktik di dapur atau kamar mandi? Hahaha ...," ledek Temi.

__ADS_1


"Biarin, Tem. Yang penting halal, mau dibolak-balik juga tidak masalah," kilah Hari.


"Memangnya gorengan, dibolak-nalik?"


"Bakar sosis kali dibolak-balik biar nggak gosong. Hahaha ...."


Budi, Temi, dan Hari kalau disatukan akan menjadi grup lawakan yang selalu menghibur sekitarnya. Mereka tidak pernah kehabisan bahan untuk menghidupkan suasana meskipun dengan lawakan yang kadang tidak lucu.


Perbincangan mereka terus berlanjut. Ada banyak hal yang mereka bicarakan seputar masa lalu dan karir masa kini. Reuni menjadi ajang mengenang masa-masa yang indah saat SMA, hal-hal gila yang pernah mereka lakukan dan sekarang bisa mereka tertawakan.


Menyambung pembahasan tentang masa lalu, berlanjut pada masa kini. Mereka saling memamerkan kecemerlangan karir dan kemewahan hidup yang sudah mereka dapatkan. Rata-rata yang hadir di sana sudah mencapai kesuksesan. Orang yang dianggap belum sukses pasti akan menjadi bahan pembahasan di antara mereka.


"Bro, sepertinya aku harus pulang sekarang, ya!" pamit Yoga.


"Loh, kok buru-buru sih, Ga. Makanan belum habis nih ...." Hari mencoba menghentikan niat Yoga untuk pulang.


"Biarkan dia pulang, Yoga punya istri yang menunggu di rumah. Kasihan kalau Yoga kelamaan bersama kita," ujar Temi.


"Aku juga ikut pulang, ya!" sambung Ira.


"Halah! Ira ikut-ikutan saja. Mau ngapain kamu, Ra? Kamu kan jomlo!" sergah Budi.


"Mau istirahat! Capek! Mumpung ada tumpangan juga."


Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama teman-temannya, Yoga dan Ira memutuskan untuk pamit pulang meskipun masih banyak teman di sana. Yoga mengantarkan Ira sampai di rumahnya.


***


Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author, ya 😘

__ADS_1



__ADS_2