
Malam semakin larut dan pengunjung klab malam justru semakin bertambah. Retha masih sibuk mondar mandir mengantarkan pesanan pelanggan. Ia hanya bisa menghela napas ketika rasa pegal mulai mendera tubuhnya. Terkadang ia ingin mengeluh, kapan bisa menikmati hidup enak tanpa mengkhawatirkan masalah keuangan. Juga terbebas dari ancaman orang-orang yang biasa mengincar ayahnya.
"Susan, aku mau ke toilet sebentar, ya. Kamu gantikan aku antar pesanan ke meja nomor 30," pinta Retha.
"Wajahmu sepertinya agak pucat, ya. Apa kamu sakit?" Susan menatap khawatir ke arah Retha.
"Tidak, aku baik-baik saja." Retha berusaha tersenyum. "Aku hanya perlu mencuci muka agar lebih segar," kilahnya.
"Ya sudah, aku antar dulu pesanan ini." Susan membawa nampan berisi pesanan ke meja yang telah ditentukan.
Sementara, Retha segera masuk ke dalam toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Ia memang sedang kurang enak badan, namun tetap memaksakan diri untuk bekerja. Setelah muntahan keluar, perutnya terasa lebih enak.
Retha berdiri di depan cermin. Melepaskan topeng bermotif kupu- kupu dari wajahnya. Ia membasuh mukanya beberapa kali. "Semangat ... satu jam lagi sudah bisa pulang," ucap Retha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Selesai menenangkan diri sejenak dan memperbaiki riasan, Retha keluar dari toilet untuk kembali bekerja.
"Mau kemana?"
Seorang lelaki menahan Retha saat baru keluar dari dalam toilet. Lelaki itu memojokkannya ke tembok, menatap Retha dengan mata sayu. Aroma alkohol menyeruak dari tubuh lelaki itu. Retha masih ingat, lelaki itu yang tadi sempat menggodanya.
"Maaf, Tuan. Saya harus kembali bekerja." Retha berusaha menghindar, namun tangannya justru dicekal olehnya.
"Apa sepuluh juta cukup untuk menghabiskan malam bersamamu?" Lelaki itu mendekatkan wajahnya, membuat Retha sedikit ketakutan. Ini pertama kali ia kesulitan berhadapan dengan seorang pelanggan.
"Maaf, Tuan. Saya bukan wanita seperti itu." Retha terus berusaha mengelak.
"Dengan pakaian seperti ini, bekerja di tempat seperti ini, kamu masih mau dianggap sebagai wanita baik-baik? Apa kamu sedang mencoba jual mahal agar aku menaikkan tarifmu? Berapa yang kamu minta? Dua puluh juta?" Tatapan mata merah serta nada bicara yang ngelantur menandakan lelaki itu mabuk berat. Lebih sulit menghadapi orang mabuk dari pada orang yang sadar.
"Lepas!"
Retha terus berusaha melepaskan diri. Namun, lelaki itu semakin agresif menyerangnya, memepetkan tubuh berusaha menciumnya dengan agresif. Perlawanan yang Retha berikan tidak ada artinya bagi lelaki itu.
"Tolong!" teriak Retha.
"Untuk apa minta tolong, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang. Hahaha ...."
Retha tak menyerah meminta tolong hingga akhirnya ada seseorang yang datang menarik lelaki itu darinya. Ia terkejut mengetahui lelaki yang menolongnya adalah Bara, salah satu orang tua siswanya. Ia senang sekaligus ketakutan ditolong oleh ayah Kenzo. Ia takut identitasnya terbuka dan dipecat dari sekolahan.
__ADS_1
Kedua lelaki itu saling pukul di hadapan Retha yang masih mematung. Retha bingung apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri puas melihat lelaki yang hampir melecehkannya dihajar habis-habisan oleh Bara.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bara.
Retha semakin cemas saat Bara menghampirinya. Detak jantungnya bertambah kencang saking takutnya akan ketahuan. "Aku baik-baik saja," jawabnya dengan nada canggung.
"Syukurlah kalau begitu."
"Aldo!" seru seseorang yang baru muncul di sana. Lelaki itu menghampiri orang yang baru saja dihajar oleh Bara.
"Tadi dia mau mengganggu wanita ini," ucap Bara memberikan penjelasan.
"Aku tahu. Dia memang seperti itu kalau sedang mabuk. Tolong maafkan kelakuan temanku." Lelaki itu memapah temannya yang mabuk berat dan membawanya pergi dari sana.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu harus lebih hati-hati," ucap Bara.
"Em, tunggu!" Retha menghentikan langkah Bara. "Bibirmu terluka. Biar aku obati dulu."
Bara sampai tidak sadar kalau bibirnya pecah akibat kena tonjokan keras dari lelaki mabuk itu
"Ikut saya," pinta Retha.
Bara duduk di sofa, menunggu wanita itu mengambil obat-obatan yang diperlukan. Sekilas ia merasa familiar dengan wanita itu. Ia merasa tak asing dan pernah mengenal pelayan klab tersebut. Padahal, ia terhitung sangat jarang datang ke klab malam. Kalau bukan karena bujukan zack, mungkin ia tak akan pergi.
"Maaf, ya. Saya mau mengompres lukanya."
Retha menempelkan kantong berisi es batu ke bagian wajah Bara yang tampak lebam. Sudut bibirnya juga terluka dan berdarah. Ia merasa bersalah telah melibatkan Bara dalam masalahnya dan membuat lelaki itu terluka.
Sementara, Bara masih terpaku memandangi wanita di depannya. Kelembutan cara memperlakukannya membuat ia terkesima, seakan ia mendapatkan perhatian yang sudah lama tidak ia rasakan.
Wanita itu masih mengenakan seragam kerjanya yang terhitung sangat s3ksi. Ia bahkan bisa dengan jelas melihat kemulusan pahanya serta bongkahan dada yang menonjol dari balik pakaian minim itu. Sayangnya, wajah wanita itu tertutupi oleh topeng sehingga ia tak bisa melihat parasnya.
'Ah! Kenapa di saat seperti ini pikiranku jadi macam-macam!' batin Bara. Entah mengapa ia jadi tertarik pada wanita. Biasanya, ia selalu bersikap dingin kepada siapapun wanita yang berusaha mendekatinya. Rasa trauma menjalin hubungan dengan wanita masih ia rasakan.
"Tuan, terima kasih sudah menolong saya. Dan maaf, gara-gara permasalahan saya, Anda jadi terluka," ucap Retha sembari mengoleskan obat pada luka Bara.
Bara menyunggingkan senyum. "Aku hanya kebetulan lewat saja dan lelaki itu menghalangi jalanku. Itu bukan salahmu," ucapnya.
__ADS_1
Retha mengepalkan tangannya. Sepanjang duduk berdekatan dengan Bara, jantungnya terus berdegup kencang. Ia berharap Bara tidak mengenalinya.
"Maaf, ya. Bukan aku mau menggurui atau mendiktemu. Tapi, bekerja di tempat seperti ini pasti sangat sulit menghadapi sifat pelanggan yang berbeda-beda. Apalagi melihat tampilan dirimu yang sangat cantik seperti ini. Pasti banyak lelaki yang tertarik padamu."
Retha menundukkan kepala. Meskipun Bara tidak mengetahui siapa dirinya, ia tetap merasa malu. Memang, tidak pantas seorang guru melakukan pekerjaan semacam itu. "Saya punya alasan sendiri melakukan pekerjaan ini, Tuan," ucapnya.
"Aku harap kamu bisa lebih menjaga diri dan berhati-hati."
"Terima kasih untuk nasihatnya." Retha juga berniat berhenti kerja jika kondisi perekonomian keluarganya telah stabil. Sepertinya tidak ada satupun orang yang sengaja bekerja di tempat semacam itu jika tidak karena terpaksa.
"Bara!" Dari arah pintu, muncul seorang lelaki yang sepertinya merupakan teman Bara.
"Oh, Zack."
"Aku dengar ada yang berkelahi di bawah. Kamu juga lama belum kembali jadi aku khawatir."
"Aku tidak apa-apa."
"Eum, saya ... pamit dulu untuk melanjutkan pekeejaan." Retha membereskan peralatan obatnya.
"Terima kasih," ucap Bara.
Retha meninggalkan ruangan itu secepat mungkin.
"Cantik juga pelayan yang tadi. Kira-kira bisa aku sewa nggak, ya?" Zack memperhatikan sosok Retha dari belakang yang berjalan meninggalkan ruangan mereka.
"Bukannya kamu susah menyewa seserang?" Bara memandang heran ke arah Zack.
"Aku bisa melakukan dengan beberapa wanita dalam semalam, Bar. Aku kan lelaki sehat, tidak sepertimu," ledek Zack.
Bara menghela napas. "Bagaimana dengan wanita yang tadi siang ada di kolong meja? Bukankah dia pacar barumu?"
"Kami belum resmi jadian. Dia memang wanita yang aktif." Zack senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi siang.
"Aku harap kamu bisa setia jika sudah memutuskan untuk berhubungan dengan seorang wanita, Zack."
"Apakah aku harus mendengarkan nasihat dari orang yang rumah tangganya gagal?"
__ADS_1
Bara menyerah menasihati temannya itu. Kalau diberi tahu, selalu dibawa-bawa kisah kegagalan rumah tangganya. Bara tidak tahu lagi bagaiman cara menasihatinya.