
Zack terus berjalan menapaki jalanan desa yang cukup sepi. Daerah tersebut jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Bahkan saat melintasi wilayah tersebut, kendaraan bermotor dilarang masuk. kendaraan yang digunakan hanya boleh sepeda atau pedati. Bagi yang tidak memiliki kedua jenis kendaraan tersebut, maka akan memilih opsi jalan kaki.
Zack sesekali memandangi foto yang Bara berikan padanya. Sembari berjalan, ia mencocokkan gambaran di dalam foto dengan kondisi sekitar. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang mirip dengan gambar di foto tersebut.
"Akirnya, ketemu juga kamu, Mikola!" ucap Zack dengan seulas senyuman di wajahnya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menghampiri rumah tesebut. Pagar kayu yang mengelilingi rumah tersebut tidak tekunci. Ia dengan mudah bisa mendorongnya. Tampak seorang lelaki muda sedang bersama dengan wanita tua duduk di teras rumah panggung.
Keduanya tampak sedang asyik bercengkrama sembari mengupas kulit kulit kacang tanah. Zack agak kesal juga Mikola bisa tertawa-tawa dan hidup tenang sementara Bara harus terlunta-lunta di penjara menunggu kasusnya selesai.
"Mikola!" sapa Zack.
Kedua orang tersebut tampak kaget, terutama Mikola. Ekspresi wajah yang awalnya terlihat ceria seketika berubah muram. Ia seakan telah tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.
"Kamu mengenalnya, Nak?" tanya sang nenek.
"Ah, iya, Nek. Dia temanku dari kota. Kami akan bicara dulu sebentar di depan," ucap Mikola seraya beranjak dari tempatnya. Ia berjalan mendekati Zack. "Mari kita bicara di luar saja," ucapnya.
Zack menurut. Ia mengikuti saja ke mana Mikola membawanya. Ternyata, lelaki itu berhenti pada sebuah danau yang berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah Mikola.
"Kamu sudah tahu kan, kenapa aku datang ke sini?"
Mikola menatap sekilas wajah Zack kemudian menunduk kembali. Ada kecemasan yang terlihat dari wajahnya saat berhadapan dengan Zack. "Bagaimana kondisi Pak Bara?" ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Berkat kamu dia sudah tiga minggu mendekam di penjara. Perusahaan dan aset-aset lain miliknya juga teracam disita untuk menutupi kerugian yang kamu ciptakan." Zack menyembunyikan kegeramannya. Kalau saja Bara tidak menasihatinya untuk memperlakukan lelaki itu dengan baik, mungkin ia sudah menghajarnya.
Mikola menghela napas dan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.
__ADS_1
"Aku mendapat titipan pesan dari Bara untukmu. Katanya, kamu boleh selamanya bersembunyi di manapun itu, dia tidak akan marah."
Perkataan yang Zack sampaikan terasa menyesakkan di hati Mikola. Sudah banyak bantuan yang Bara berikan kepadanya, suka duka selama lima tahun lebih masih ia ingat sampai detik ini. Mengkhianati Bara merupakan opsi menyesakkan yang harus ia lakukan.
"Bara hanya ingin menanyakan, kenapa kamu sampai tega mengkhianatinya? Apa dulu Bara pernah melakukan hal yang menyakitkanmu?"
Mikola terdiam. Membahas tentang Bara seperti membahas seorang penolong yang sangat berarti dalam hidupnya. Dalam kondisi terpuruk, ada Bara yang tiba-tiba mengulurkan tangan untuk sama-sama bekerja mewujudkan perusahaan yang namanya mulai dikenal saat ini. Berkat ikut bekerja dengan Bara, ia memperoleh kemampuan finansial untuk membiayai diri sendiri dan neneknya yang telah sakit-sakitan.
"Saya melakukan hal tersebut untuk kepentingan pribadi, Pak." Mikola mulai membuka suara.
Nenek saya memerlukan transplantasi jantung secepatnya. Biayanya lumayan besar, jadi saya diam-diam memakai dana yang seharusnya dialokasikan untuk ganti rugi lahan warga.
Zack terkekeh. Ia tidak serta merta mempercayai ucapan Mikola. "Memangnya operasi tersebut sampai memakan biaya hingga 200 miliar?" tanyanya.
Mikola kembali terdiam. Ia tahu sepertinya Zack tidak gampang diberikan penjelasan.
"Saya mengatakan yang sebenarnya, Pak. Uangnya memang saya gunakan untuk kesembuhan nenek saya," ucap Mikola kekeh.
"Biaya transplantasi jantung itu hanya berkisar 20 miliar. Aku tahu karena ibuku juga pernah menjalaninya. Sedangkan uang proyek yang kamu hilangkan mencapai 200 miliar lebih! Dimana kelebihan uang tersebut? Kamu bukan tipe orang serakah yang menginginkan lebih banyak uang, kan?"
Mikola membelalakkan mata. Zack ternyata telah mengetahui semuanya.
"Aku tahu ada orang lain yang terlibat dengan masalah ini. Apa kamu bisa mengatakan, siapa orang itu? Kamu pasti tahu, kan?"
Tubuh Mikola seakan bergetar. Lidahnya terasa kelu untuk berkata-kata. Terasa sangat sulit baginya mengatakan kebenaran.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tega membiarkan Bara menanggung semuanya sendiri? Dia sudah sangat baik padamu dan kamu tega mengkhianatinya?" Zack berusaha menekan Mikola agar mau berkata jujur.
__ADS_1
"Bara sudah hampir terancam jatuh miskin. Dia juga terjerat sengan hukuman 10 tahun penjara yang seharusnya menjadi jatahmu. Kamu pengecut sekali membiarkan orang lain menanggung kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya."
Zack menunggu respon dari Mikola. Sayangnya, lelaki itu seakan tidak mau buka suara.
"Terserah padamu sekarang! Bara memang bodoh sudah bersikap baik dengan orang sepertimu."
"Ini sangat sulit untukku!" seru Mikola.
Zack yang berniat pergi mengurungkan niatnya.
"Ini ada hubungannya dengan Tuan Rudy dan juga ... Ayah Anda."
Zack kembali berbalik untuk mendengarkan cerita versi lengkap dari Mikola.
"Setelah ini, saya tidak peduli lagi akan mati atau tidak. Tapi, tolong bantu menjaga nenek saya. Mereka masih mengincar keberadaan kami dan mengancam akan membunuh nenek jika saya buka mulut."
Mikola merasakan tekanan batin yang sangat luar biasa. Membiarkan orang sebaik Bara harus menanggung perbuatannya, membuat hidupnya tidak tenang. Setiap hari ia dibayang-bayangi rasa bersalah. Ucapan Zack seakan telah menyadarkannya bahwa dia harus belajar bertanggung jawab dan menghadapi masalah, bukan malah lari dari masalah.
Hal yang memberatkannya hanya satu, keselamatan sang nenek. Keluarga satu-satunya itu baru saja sembuh dari penyakit jantung setelah menerima transplantasi. Ia merasa bahagia bisa melihat wanita tua yang berjasa membesarkannya kembali sehat dan bisa beraktivitas normal.
"Kalau untuk masalah keselamatan dan kerahasiaan keberadaan nenekmu, aku bisa menjaminnya. Bahkan aku memiliki sebuah panti jompo yang bisa menjadi tempat tinggal nyaman bagi nenekmu. Itu asalkan kamu mau menguak segala kebenarannya."
Mikola sudah menimbang resiko yang akan dihadapi. Ia akan menjadi target orang-orang licik itu jika sampai muncul ke permukaan.
"Sebenarnya tujuan awal mereka ingin mengadu domba antara perusahaan Anda dan perusahaan Pak Bara. Kecelakaan yang sempat hampir menimpa ayah Anda mereka rekayasa agar Pak Bara yang disalahkan. Sayangnya, justru Pak Bara yang terkena imbas kecelakaan tersebut."
Zack tidak menyangka jika apa yang menimpa sang ayah merupakan hasil rekayasa. Pantas saja saat itu Bara berakting pura-pura luka parah akibat kejadian tersebut.
__ADS_1