Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Suami vs Mantan Suami


__ADS_3

"Aku berjanji akan membahagiakanmu kali ini. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Citra ... Kembalilah padaku!"


Begitu mudah mulut lelaki menganggap segala sesuatu seperti hal yang sepele. "Aku sudah pernah memberimu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita kan? Dan kamu lebih memilih wanita yang sudah kamu tiduri itu!"


"Aku khilaf, Citra ...." Yoga berusaha mengelak.


Citra ingin tertawa. "Khilaf? Kalian baru satu kali berhubungan badan? Aku rasa itu tidak mungkin."


"Aku hanya butuh anaknya, Citra! Setelah dia melahirkan anaknya, aku benar-benar akan bercerai darinya. Selama beberapa bulan ini aku telah menerung dan tidak bisa melupakanmu. Aku melakukan ini juga demi dirimu. Dengan anak itu, aku bisa mendapatkan bisnis ayahku. Aku akan membahagiakanmu dengan semua uangku, aku akan memperlakukanmu seperti seorang ratu. Percayalah!" Yoga berusaha meyakinkan Citra.


"Kamu lihat penampilanku yang sekarang, kan?" ia memamerkan penampilan barunya yang lebih keren. "Posisiku juga sama seperti suamimu yang sekarang. Aku bisa memberikan kemewahan bahkan lebih dari dia. Apalagi kita sama-sama saling mencintai dan telah terikat selama bertahun-tahun. Rasa cinta kita tidak mudah untuk dilupakan."


"Kamu menikahinya pasti hanya sekedar emosi sesaat. Aku yakin di dalam hatimu juga masih mencintaiku. Ayo, kita perbaiki hubungan kita!"


Citra menghela napas panjang. "Kamu bahkan lebih kejam dari pada yang aku kira. Selain menganggap wanita sebagai penghasil anak, kamu juga tega memanfaatkan anakmu untuk posisi ini? Bagaimana bisa aku pernah jatuh cinta kepada orang sepertimu."


Bukannya terharu dengan apa yang Yoga perbuat untuknya, Citra justru semakin kecewa mengetahui kenyataan yang ada. Yoga lebih buruk dari yang ia kira.


"Aku rela melakukan apapun untukmu. Kali ini, tidak ada yang akan menjadi penghalang hubungan kita termasuk keluargaku. Aku janji!"


Ucapan panjang lebar Yoga terdengar omong kosong di telinga Citra. "Aku sudah tidak ada niat lagi untuk kembali padamu. Biarkan aku menjalani hidupku yang sekarang."


"Citra ...." Yoga memegangi lengan Citra berusaha membujuk wanita itu.


"Lepaskan tanganmu dari istriku!" seru Hendry yang tiba-tiba muncul di sana. Raut wajahnya terlihat sangat kesal melihat Citra berduaan bersama Yoga.


Bukannya menuruti kemauan Hendry, Yoga justru menarik Citra ke sisinya. "Citra masih mencintaiku. Memangnya kamu bisa bertahan dengan wanita yang di hatinya ada nama lelaki lain?" ejek Yoga. Ia merasa sebagai lelaki yang masih dicintai Citra.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan!" seru Citra. Ia berusaha melepaskan diri, namun Yoga memegang tangannya erat.


Hendry mengepalkan tangannya. Ucapan Yoga memang berhasil menyulut amarah di hatinya semakin besar. Ia tahu Citra mau menikah dengannya karena terpaksa keadaan. Ia tidak ingin orang lain mengingatkan akan hal tersebut karena ia juga sedang berusaha membuat istrinya jatuh cinta kepadanya.


"Citra mau kembali padaku. Cepat ceraikan dia! Dia tidak pernah mencintaimu!" pinta Yoga.


"Yoga! Kamu sin ting!" Citra semakin kesal terhadap mantan suaminya. Bisa-bisanya Yoga berkata seperti itu langsung di hadapan Hendry.


Bugh!


Hendry melayangkan satu pukulan keras mengenai dagu dan menendang perut Yoga . Citra tersentak kaget dengan apa yang Hendry lakukan. Yoga sampai tersungkur jatuh ke lantai.


Giliran Hendry menarik Citra agar mendekat ke arahnya.


"Kamu ... Aku bisa membawa penganiayaan ini ke polisi! Kamu pikir aku takut berhadapan denganmu?" Yoga geram.


Hendry menarik Citra agar ikut dengannya pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia jengah melihat wajah lelaki bang sat yang berusaha merebut wanita yang dicintainya.


"Eh, kita mau kemana?" tanya Citra saat Hendry terlihat hendak membawanya menuju ke arah jalan pulang.


"Kita kembali ke apartemen. Apa kamu masih mau berada di sini dan berbicara dengan mantan suamimu?"


Dari nada bicaranya, Citra tahu saat ini Hendry sedang marah kepadanya. "Maksudku bukan itu. Aku datang ke sini bersama Retha, setidaknya pamit dulu padanya sebelum kita pulang."


"Aku tahu kamu sedang bersama mantan suamimu juga dari Retha. Dia sudah pulang duluan bersama Bara."


Citra terdiam. Hendry sedang tidak bisa diajak bicara. Lelaki itu tengah mencapai puncak emosinya.

__ADS_1


Hendry kembali menarik tangan Citra agar mengikuti langkahnya. Ia tak berkata apa-apa. Langkahnya juga tidak terlalu memburu, menyadari bahwa istrinya sedang hamil.


Sepanjang jalan Citra hanya memikirkan kemarahan yang akan diterimanya nanti. Hendry pasti akan menghukumnya. Waktu itu gara-gara katanya ia cantik dengan model rambut baru, ia benar-benar dipecat dari kantor. Sekarang, dengan cat rambut barunya dan kepergok bicara dengan mantan, sudah pasti mungkin ia akan dikurung selamanya di dalam apartemen.


Ting!


Pintu private lift terbuka. Akhirnya mereka sampai di unit pribadi. Suasana jadi horor seketika saat Hendry melepas kasar jasnya dan membuangnya sembarang. Citra sampai kaget.


Hendry juga melepas dasinya serta membuka beberapa kancing kemejanya seolah ia sedang kepanasan. Citra hanya bisa terdiam dan menunduk di tempatnya.


Hendry mengarahkan pandangan ke arah Citra sambil berkacak pinggang. Melihat raut wajah istrinya yang ketakutan, ia jadi tidak tega untuk marah-marah. Padahal, mulutnya sudah bersiap mengeluarkan kata-kata mutiara yang penuh umpatan.


Seberapa besar kemarahannya saat ini, seketika luluh saat menyadari bahwa wanita itu merupakan istrinya dan tengah mengandung anaknya. Bukannya marah, Hendry justru melabuhkan pelukan hangat kepada Citra.


Citra terkejut saat Hendry memeluknya. Ia kira akan dimarahi karena tidak bilang akan bertemu dengan Yoga di mall.


"Sayang, aku takut sekali kamu akan benar-benar meninggalkanku," ucap Hendry sembari memeluk istrinya.


"Meskipun kita menikah hanya untuk anak di dalam perutmu, aku tidak rela kalau kamu memilih berpisah dariku dan kembali pada mantan suamimu itu."


Citra membalas pelukan Hendry. Meskipun ia belum yakin dengan hubungannya ke depan, ia tidak pernah berniat untuk kembali pada Yoga. Apalagi setelah mengetahui sifat buruk mantan suaminya.


"Katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa tetap menahanmu di sisiku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Rasanya sangat sesak sekali di dada setiap kali mendengarmu bertemu dengan lelaki yang pernah memiliki hatimu." nada bicara Hendry terdengar pasrah. Ia tidak tahu lagi untuk berkata-kata.


"Setiap kali meninggalkanmu, saat di tempat kerja, hatiku selalu gelisah memikirkanmu. Aku selalu bertanya-tanya tentang apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu juga diam-diam bertemu dengan lelaki itu lagi? Apa kamu masih ingin kembali padanya? Aku tidak pernah tenang membiarkanmu sendiri."


Citra melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua tangan Hendry. Ditatapnya wajah sendu lelaki itu dengan sungguh-sungguh. "Maaf, sudah membuatmu khawatir. Tadi, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Lain kali, aku akan langsung mabur jika melihatnya lagi. Aku tidak mau membuatmu khawatir."

__ADS_1


Perkataan Citra membuat Hendry merasa lega. Ia kembali memeluk Citra dengan erat. Ia benar-benar tak ingin kehilangan cinta pertamanya untuk kedua kali.


__ADS_2