
"Sedang apa, Bar?"
Suara panggilan dari Zack membuyarkan lamunannya. Lelaki itu tahu password kamar hotelnya sampai bisa masuk seenaknya ke dalam kamarnya.
"Mau apa?" tanya Bara ketus.
"Ck! Bukanya senang punya teman yang perhatian malah begitu responmu padaku," protes Zack. Meskipun kehadirannya tidak diinginkan, namun Zack tetap masuk dan duduk di berbaring di ranjang.
Bara memang termasuk tipe orang yang serius. Dia tidak suka membuang-buang waktunya hanya untuk sekedar bercanda atau membahas hal-hal yang tidak berfaedah. Kalau bisa, selama 24 jam hidupnya, hanya ada pembahasan bisnis saja. Zack paling sulit mengajak lelaki kaku itu untuk bersenang-senang sebagai seorang lelaki yang masih muda.
"Mau apa?" sekali lagi Bara bertanya. Biasanya Zack selalu ada maunya kalau mengunjunginya.
"Mau pamer, lah ... " Zack memasang kacamata hitamnya. "Sebentar lagi kamarku kedatangan tamu wanita cantik yang akan memanjakanku. Hah ...." Ia tersenyum-senyum membayangkan wanita yang sudah dibayarnya mahal dari Tante Sukma.
Wanita yang ia temui di tempat Tante Sukma untuk pertama kali, langsung membuatnya tertarik. Meskipun wajah dan dandanannya biasa saja, namun auranya seperti memancarkan pemikat yang sulit ditolak oleh lelaki manapun. Wanita yang tampak malu-malu itu semakin membuatnya tertarik karena berbeda dengan wanita-wanita milik Tante Sukma lainnya. Ia ingin merasakan seperti apa rasanya dekat dengan wanita yang tampak polos itu. Apalagi katanya wanita itu hanya pemalu di luar, tapi liar di dalam kamar.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" Bara menatap aneh ke arah Zack yang sudah seperti orang gila. "Kalau mau bersenang-senang, kenapa perlu mampir ke kamarku? Cepat kembali ke kamarmu sendiri!" usir Bara. Kamar Zack tepat berada di depan kamarnya. Karena ayah Zack yang mengakomodasi tempat tinggal orang-orang yang terlibat dalam proyek, Zack sengaja menempatkan kamar mereka berdekatan. Zack lebih mengganggu dari pada anaknya sendiri.
"Tentu harus mampir ke sini ... aku bilang aku mau pamer. Siapa tahu kamu juga minat, akan aku berikan satu untukmu. Lumayan kan, dia bisa membantu orang pincang ganteng sepertimu." Zack tidak pernah kapok menggoda Bara.
Bara sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Zack. Pertemuannya dengan Thea saja sudah membuatnya kembali trauma untuk dijodohkan. Sepertinya wanita itu sengaja mendekati ibunya agar punya alasan bertemu dan memaki-maki dirinya. Ia kapok berkenalan dengan wanita. Sepertinya di dunia ini tidak ada wanita yang waras.
"Jadi orang jangan kaku begitu, Bar. Dasar payah!" ledek Zack.
Drrtt drrtt
Ponsel Zack bergetar. Ada panggilan masuk dari Emili. "Ah, sh*it!" umpatnya.
"Pasti dari Emili, ya? Sepertinya dia sudah tahu tentang kelakuanmu." giliran Bara yang menertawakan Zack.
__ADS_1
"Halo, Sayang." Zack berbicara dengan nada menggoda di telepon. Ia mendengarkan secara seksama ucapan Emili sembari sesekali menjawab pertanyaan yang diberikannya. Setelah telepon berakhir, ia menghela napas.
"Aku ke lobi bawah dulu, Bar. Emili datang menemuiku," kata Zack dengan nada lemas.
Bara hanya bisa termekeh dengan nasib temannya. Ia berharap Emili selalu bisa mendampingi Zack supaya penyakit playboy-nya bisa segera hilang." Cepat temui dia dan berhenti main-main!" Bara kembali mengusirnya.
Zack melompat turun dari atas ranjang, segera pergi meninggalkan kamar Bara.
Bara mengambil tongkatnya untuk membantu menopang tubuh sebelah kanannya. Meskipun cukup kesulitan dengan kondisi kaki yang mengalami patah tulang ringan dan tangan terkilir, ia masih berusaha mengurus dirinya sendiri.
*
*
*
Retha bersama beberapa wanita lain tengah bersiap di sebuah kamar hotel. Mereka memulaskan make up setebal mungkin supaya penampilannya lebih menarik. Terkecuali Retha yang hanya memulaskan make up sederhana hanya agar wajahnya tidak terlihat pucat saja.
"Retha, kamu belum dapat seragamnya, kan?" salah seorang teman menyerahkan paper bag kepada Retha. "Ganti dengan itu, ya! Kita keluar sama-sama nanti," lanjutnya.
"Iya, Lisa." Retha menerima pemberian dari Lisa dan membawa ke ruang ganti.
Paper bag itu berisi dua potong pakaian berbentuk seperti pakaian renang yang akan ditutupi dengan handuk kimono pendek. Ada pula tas kecil berisi peralatan untuk memijat. Semuanya memiliki logo bertuliskan "Secret Angel", nama usaha milik Tante Sukma.
"Sudah, dipakai saja, Retha. Awal-awal memang akan terasa sulit. Kalau sudah sering juga akan terbiasa. Pak Zack itu orang yang baik, kok ... suka kasih bonus tambahan lagi." Wening tanpa malu langsung melepas pakaiannya dan mengganti dengan pakaian yang telah disediakan. "Kamu harus cepat, ya! Nanti ketinggalan!" tambahnya.
Retha ikut-ikutan mengganti pakaiannya seperti Wening. Ia sudah tidak memikirkan lagi apa itu rasa malu. Toh ia sudah menerima uangnya dan sekarang waktunya melakukan kewajiban. Satu minggu bukan waktu yang lama. Setelah semua berakhir, ia akan bisa bernapas lega. Hanya kali ini saja dia pasti bisa. Ia tidak akan mengulanginya lagi lain kali.
"Wening, kamu masuk ke kamar 309, ya," ucap seorang lelaki yang bertugas menentukan kemana wanita-wanita itu harus masuk. Setiap orang diberikan kode pin kamar yang dituju.
__ADS_1
"Retha, kamu masuk ke kamar 320. Kode kamarnya ada di kartu ini. Karena kamu permintaan khusus dari Pak Zack, tolong jangan kecewakan dia, ya! Tante Sukma akan marah besar jika kamu membuat pelanggan esklusifnya hilang." Orang itu sudah tahu kalau Retha orang baru.
"Baik, Pak," jawab Retha singkat.
"Pak Zack bilang dia masih ada urusan. Kalau Beliau belum datang, kamu tunggu di kamarnya sampai Pak Zack datang."
Retha mengangguk. Ia menerima kartu kamar yang harus ia masuki. Lisa dan Wening mengajaknya agar pergi bersama karena mereka akan menuju ke lantai yang sama.
Selama dalam lift, debaran jantungnya tidak juga mau berhenti seakan ingin melompat meluar. Meskipun ada dua teman di sampingnya, perasaannya tetap resah. Mengenakan pakaian seperti itu, harus masuk ke dalam kamar hotel untuk menemani seorang laki-laki asing. Ia bahkan tidak pernah dekat dengan lawan jenis selain ayahnya. Malam ini, mau tidak mau ia harus memaksakan diri berpura-pura terbiasa melayani seorang pria.
"Kamarku di sini. Sepertinya kamarmu masih di lorong sana," ucap Lisa.
"Kamarku juga di sini. Kamu jalan sendiri ke sana, ya!" kata Wening.
"Iya, kalian masuk saja. Aku bisa ke sana sendiri." Retha menyunggingkan senyum. Kedua temannya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Ia masih harus berjalan beberapa langkah mencapai kamar paling ujung.
Sesampainya kamar yang disebutkan oleh anak buah Tante Sukma, Retha menghela napas sebelum menekan kode kamar sesuai yang tertera di kartu.
Tik tik tik! Klek!
Pintu kamar terbuka setelah ia memasukkan kodenya.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa intip dulu karya teman author 😘
Judul: Kembalinya Suamiku
Author: Susanti 31
__ADS_1