Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Belakang Sekolah


__ADS_3

Flashback


"Hendry! Mau kemana?"


Hendry menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah asal suara. Salah seorang teman sekolahnya berseru memanggil namanya.


"Mau merokok di belakang sekolah. Kamu mau ikut?" tanya Hendry.


"Gila, ya? Kalau ketahuan guru kena hukuman lagi kamu!"


Hendry menyunggingkan senyum. "Kalau sampai aku ketahuan, berarti kamu yang laporan. Awas saja, aku tandai kamu," ancamnya.


"Sialan!" umpat teman Hendry. Ia memilih pergi dari pada berurusan dengan anak nakal seperti Hendry.


Hendry tertawa melihat kekesalan temannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju belakang sekolah.


Sebenarnya kelas Hendry masih belum selesai pelajaran olah raga. Ia yang malas berpanas-panasan di lapangan memilih kabur ke belakang sekolah. Tempat itu memang terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak nakal. Apalagi di belakang pagar ada penjual yang biasa menjadi pemasok rokok ilegal bagi mereka. Hendry juga memiliki tujuan seperti itu, membeli rokok dari Mbok Darmi, pemilik warung belakang sekolah.


Sepanjang jalan yang dilalui, ia belum bertemu dengan anak lainnya. Selain masih pagi, juga karena waktu istirahat belum tiba. Setelah bel istirahat berbunyi, seluruh sudut sekolah pasti akan bertebaran murid-murid yang mengalihkan diri dari kejenuhan di kelas.


"Ah! Lepaskan!"


Samar-samar Hendry mendengar suara dari arah gudang. Tak lama kemudian, muncul seorang siswa dan siswi dari balik dinding. Kelihatannya mereka sedang berseteru.


Wanita yang ada di sana merupakan Citra, adik kelas Hendry. Sementara, lelaki itu merupakan Reno, siswa seangkatan Hendry namun beda kelas. Hendry jadi penasaran apa yang sedang mereka lakukan di sana.


"Apa begini sikap yang benar kepada orang yang berniat baik, hah?" Reno terlihat marah. Tangannya mencengkeram erat pergelangan tangangan Citra seolah ingin mematahkannya.


"Aku tidak bisa jadi pacar Kakak ... Aku tidak mau ...." Citra berusaha melepaskan dirinya.


"Kenapa? Kamu tidak sedang punya pacar, kan?"


"Aku belum mau pacaran, Kak."

__ADS_1


"Sok jual mahal! Anak panti asuhan yatim piatu sepertimu bisa apa? Benar-benar tidak tahu diri! Mentang-mentang kamu cantik bisa berbuat semaumu? Aku yang lebih berkuasa di sini ... Bisa saja aku menyuruh ayahku agar kamu dikeluarkan dari sini!"


Reno yang merupakan salah satu anak orang kaya di sekolah mengeluarkan sisi sombongnya membawa-bawa kekuasaan orang tuanya. Ia gunakan untuk menekan siapapun yang berani melawan kemauannya. Termasuk dengan Citra yang terus menerus menolak pernyataan cintanya.


"Kalau kamu ingin aman di sekolah ini, tutup mulut dan tutup mata saja. Berani melawanku, artinya harus siap dikeluarkan dari sekolah."


Reno tersenyum miring. Citra terlihat mulai berhenti melawan. Wanita itu terdiam mendengar perkataan Reno.


Srak!


Dengan kasar Reno menarik kemeja yang Citra kenakan hingga kancing-kancingnya terlepas. Bahkan br.a yang dikenakan sampai terlihat dengan jelas. Reno benar-benar bertindak di luar batas. "Kamu benar-benar mirip seorang ja.lang," ucapnya.


Hendry tidak bisa tinggal diam melihat kejadian tersebut. Ia juga bukan anak baik di sekolah, tapi tidak pernah sampai melecehkan seorang wanita. Reno harus diberi pelajaran.


Plak!


Tanpa disangka-sangka, Citra berani mendaratkan tamparan keras di wajah Reno saat lelaki itu hendak memegang dadanya. Hendry sampai ikut tercengang. Apalagi Citra sampai menendang kaki Reno juga.


Reno hendak melayangkan tamparan kepada Citra, namun Hendry lebih dulu datang dan menepisnya.


"Sedang apa kamu di sini, Ren?" tanya Hendry setelah memelintir tangan Reno hingga lelaki itu mengaduh.


Reno terkejut saat melihat kehadiran Hendry di sana. Hal yang sama juga dirasakan oleh Citra, ia kaget bertemu dengan dengan kakak kelas berandalan yang pernah ia pergoki beberapa kali merokok di belakang sekolah dan kabur melompati pagar. Citra menutupkan pakaiannya yang terbuka karena ulah Reno.


"Bukankah seharusnya kita tidak ikut campur dengan urusan masing-masing? Aku ada sedikit masalah dengan pacarku," kilah Reno. Ia tampaknya juga sedikit takut atau sungkan dengan keberadaan Hendry di sana.


"Oh ya? Dia pacarmu?" Hendry terkekeh. "Kalau tidak salah dengar bukannya tadi dia baru saja menolakmu? Kamu kurang laku atau bagaimana sampai memaksa-maksa dia untuk jadi pacar." perkataan Hendry solah sedang menertawakan Reno.


Reno mengepalkan tangannya menahan amarah. Kalau saja lawannya bukan Hendry, mungkin ia masih berani melawan. Masalahnya, keluarga Hendry merupakan salah satu orang yang paling berpengaruh terhadap keputusan sekolah.


"Kalau mau nakal, silakan tahu batasannya. Dari pada mengganggu anak perempuan, bagaimana kalau kita tanding tinju di klab kick boxing?"


Reno menghela napas. "Aku minta maaf kalau kamu kurang menyukai perbuatanku," ucapnya.

__ADS_1


Hendry mengerutkan dahi. "Kamu meminta maaf padaku?" tanyanya heran.


Merasa harus meminta maaf kepada Citra, Reno mengalah untuk melakukannya. Lebih baik sedikit merendahkan diri dari pada cari masalah dengan Hendry.


"Citra, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengganggumu lagi!"


Setelah mengatakan hal tersebut, ia buru-buru lari untuk menghindari Hendry.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hendry.


Sebelum bisa menjawab apa-apa, kaki Citra terasa lemas. Ia hampir saja terjatuh, untung Hendry sigap menahannya. Perlahan Hendry menyandarkan tubuh Citra pada dinding. Sekujur tubuh Citra tampak bergetar seperti orang ketakutan.


Citra tahu perbuatannya tidak akan dilupakan begitu saja oleh Reno. Lelaki itu pasti akan datang kembali untuk membalasnya. Keberanian yang tadi ia lakukan berganti dengan ketakutan akan bayangan apa yang terjadi selanjutnya.


Tiba-tiba saja Citra merasa keheranan melihat Hendry tertegun cukup lama sembari menatwp dirinya. Ia ikuti arah pandangan Hendry. Ternyata lelaki itu sedang memandangi area dadanya yang terbuka. Reflek ia langsung menutup area dadanya.


"Punyamu masih rata, ya? Masa sudah SMA belum tumbuh?" celetuk Hendry.


Wajah Citra langsung memerah. Ia antara kesal dan malu mendengar perkataan Hendry. Lelaki itu sunggu sangat menyebalkan terlepas dari kebaikannya yang sudah menolong dirinya.


Hendry melepaskan jaket olahraganya seraya memasangkan ke badan Citra untuk menutupi bagian depan pakaian Citra yang koyak akibat ulah Reno. "Sudahlah, lupakan saja apa yang terjadi hari ini. Kalau Reno macam-macam lagi, cari saja aku. Nanti akan aku ceritakan kelakuannya kepada pihak sekolah supaya dia dikeluarkan dari sekolahan ini," ucapnya bijak.


"Terima kasih, Kak," jawab Citra lemas. Ia tidak menyangka akan mengucapkan terima kasih kepada salah satu murid yang menurutnya juga layak dikeluarkan dari sekolah.


"Tadi ... Kamu hebat sekali, ya! Berani melawan Reno sendiri. Seharusnya tadi kamu tendang saja selangkangannya. Di sana ada harta berharga lelaki. Kalau kamu tendang, dia akan kehilangan masa depannya. Pertahankan keberanianmu!"


Citra sampai tercengang mendengar perlawanannya mendapat pujian. Lelaki itu malah mengajarinya untuk lebih sadis saat menghadapi orang jahat.


"Wanita itu memang tidak boleh lemah, kalau kelihatan lemah, nanti bakalan ada yang berniat menindas."


Sejak saat itu, mereka kerap bertemu. Hendry selalu menyapanya saat bertemu. Berbeda dengan Citra yang memilih mengabaikan orang aneh seperti Hendry. Sebenarnya Hendry baik, hanya saja kalau bercanda suka membuat orang kesal. Itu sisi yang paling Citra benci dari seorang Hendry.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2