Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Hubungan yang Dingin


__ADS_3

Citra merasa sudah tidak bersemangat menjalani pekerjaannya. Hubungan dengan Yoga juga belum membaik. Yoga memilih tidur di kamar lain selama beberapa hari.


Di kantor, Hendry memenuhi janjinya untuk tidak mengganggu Citra lagi. Ia berubah memasang sikap dingin baik di hadapan Citra maupun karyawan lainnya. Seolah Hendry menjadi pribadi lain yang tidak Citra kenali.


Citra masih berkutat menyelesaikan pekerjaan yang ada. Ia juga terpaksa terus kerja lembur meskipun Yoga tidak menyukainya. Meskipun ada niatan berhenti, ia tidak ingin membebankan pekerjaannya kepada orang lain.


"Cit, kamu kok beberapa hari ini kelihatan murung. Apa ada masalah?" tanya Lilis saat keduanya menikmati makan bersama di kantin.


"Tidak, tidak apa-apa ...," bantah Cinta.


"Jujur deh, Cit. Wajahmu itu tidak bisa berbohong. Pasti masalah dengan suamimu atau mertuamu lagi, ya?"


Citra hanya menyunggingkan senyum. Lilis memang satu-satunya rekan kerja yang tahu tentang masalah rumah tangganya.


"Mas Yoga nyuruh aku berhenti kerja, Lis," ucap Citra.


"Alasannya? Tentang anak lagi?" Lilis yang hanya mendengar cerita Citra saja sudah geram dengan nama Yoga dan keluarganya. Ia heran Citra masih mau bertahan dalam rumah tangga semacam itu.


"Salah satunya itu ... Mas Yoga juga tidak suka aku kerja lembur."


Lilis menghela napas. Sepertinya ia yang lebih emosi dari pada Citra yang mengalaminya sendiri. "Memangnya suamimu itu pemilik perusahaan ini apa? Dikira gampang bikin aturan sendiri melarang-larang istri yang terpaksa harus lembur karena kebijakan perusahaan? Gila ya, suamimu ... Namanya kerja dimana-mana harus patuh pada aturan perusahaan."


Citra memakan nasi rendangnya dengan tidak bersemangat. Kehidupan keluarganya semakin lama bukannya semakin baik malah semakin kacau.


"Untuk urusan keturunan, kamu sudah mengikuti saranku periksa ke dokter?"


"Sudah, Lis. Aku sudah melakukannya beberapa waktu lalu."


"Bagaimana hasilnya?" telisik Lilis.


Citra menggeleng. "Dokter hanya menyarankan aku agar mendiskusikannya lagi bersama suami. Katanya kalau ingin memiliki keturunan sebaiknya datang berdua agar bisa dicek permasalahan yang menyebabkan sulit memiliki keturunan."


"Kamu sudah menyampaikan hal itu pada suamimu?"

__ADS_1


"Sudah ... Tapi Mas Yoga menyuruhku periksa sendiri saja. Dia tidak mau. Katanya kalau kondisi kandunganku sehat, baru dia mau ikut konsultasi ke dokter."


Lilis tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yoga kepada Citra. Padahal, selama ini yang membuat sahabatnya bertahan dalam pernikahan neraka itu adalah Yoga. Kalau lelaki itu sudah bersikap keterlaluan pada Citra, bagaimana sahabatnya itu akan bertahan.


"Suamimu sepertinya terlalu sombong dan percaya diri, ya! Belum tentu juga masalah sulit hamil ada padamu, bisa jadi suamimu yang mandul, Cit!"


Citra membulatkan mata menatap Lilis. "Lilis ... Kamu tidak boleh bicara seperti itu!" tegurnya.


"Memangnya kenapa, Cit? Suamimu dan keluarganya sudah keterlaluan kalau terus menyudutkanmu seperti ini. Kalau kehidupan pernikahanmu tidak bahagia, untuk apa dipertahankan?" Lilis gemas sendiri dengan sahabatnya.


"Mas Yoga itu pada dasarnya lelaki yang baik, Lis. Siapa lagi yang mau menikahi anak yatim piatu sepertiku kalau bukan Mas Yoga?"


Lilis menatap wajah sahabatnya dengan tatapan iba. "Memangnya kamu pikir dirimu itu jelek? Pasti ada banyak lelaki baik di luaran sana yang mengharapkanmu sebagai istrinya, Cit! Beda dengan aku, sampai setua ini belum laku." Lilis merengut.


Citra tertawa kecil. "Kamu terlalu pilih-pilih, Lilis ... Padahal Akang Jaka sepertinya sudah siap menikahimu," ucapnya menggoda Lilis.


Lilis memutar malas kedua matanya. "Kayak nggak ada lelaki lain saja selain Ja ..." ucapan Lilis terjeda. Mulutnya menganga saat menatap ke suatu arah. "Cit ... Lihat seh!" seru Lilis sembari mengarahkan telunjuknya.


Citra menoleh ke arah yang Lilis maksud. Tampak Hendry sedang menggandeng seorang wanita cantik di sampingnya. Mereka tampak serasi tampil bersama.


"Istrinya memang artis, Lis. Lebih tepatnya model dan bintang iklan. Namanya Tatiana Ernesta."


"Kamu kok tahu sih, Cit?" Lilis penasaran. Citra merupakan rekan kerja yang paling malas kalau diajak bergosip di kantor. Biasanya dia juga menjadi orang yang paling telat tahu berita kekinian seputar kehidupan kantor. Saat Citra mengetahui hal yang belum Lilis tahu, rasanya jadi aneh.


"Bagaimana aku tidak tahu kalau hampir setiap hari Pak Hendry mengoceh tentang istrinya," gumam Citra. Ia jadi membali teringat saat-saat Hendry begitu narsis membanggakan ketampanannya juga menceritakan tentang betapa cantik istrinya.


Memang, Tatiana secantik itu. Wajar jika Hendry begitu percaya diri mengatakan bahwa tidak akan ada wanita lain yang mampu membuatnya tertarik. Istrinya saja sudah spek bidadari yang sulit ditandingi.


***


"Masuk!" perintah Hendry saat seseorang terdengar mengetuk ruang kerjanya.


Ia terpaku sejenak ketika melihat Citra memasuki ruangannya. Wanita itu masuk sembari berjalan tertunduk ke arahnya.

__ADS_1


"Duduk!"


Citra duduk di hadapan Hendry. Lelaki itu tidak menyambutnya dengan konyol seperti biasanya. Mungkin juga karena Hendry telah menyadari posisinya yang sudah beristri, tidak seharusnya terlalu akrab dengan karyawan wanitanya.


"Ada perlu apa?" tanya Hendry.


Citra menaruh surat yang dibawanya ke hadapan Hendry.


"Apa ini?" Hendry mengerutkan dahinya.


"Itu surat pengunduran diri saya," ucap Citra.


"Kamu mau mengundurkan diri dari perusahaan ini?" tanya Hendry keheranan.


Citra mengangguk.


"Minimal butuh waktu dua bulan kalau kamu ingin mengundurkan diri. Pekerjaanmu juga masih banyak, perusahaan butuh waktu mencari pengganti sebelum kamu keluar." Hendry cukup heran mendengar keinginan Citra untuk berhenti dari pekerjaannya.


"Saya tahu, Pak. Makanya saya serahkan surat pengunduran diri ini sekarang agar perusahaan mulai memikirkan untuk merekrut karyawan pengganti." Citra berbicara sembari menunduk, tak berani menatap wajah Hendry.


"Boleh aku tahu apa alasannya kamu ingin berhenti? Apa karena masalah gaji? Jam kerja? Atau karena ketidaksukaanmu padaku secara personal?"


"Tidak, Pak. Ini murni keinginan saya sendiri. Memang, ada masalah pribadi yang tidak bisa saya ceritakan."


"Kamu bilang mau membantuku menbenahi perusahaan ini. Tapi, kenapa belum beres sudah mau mengundurkan diri?"


"Saya akan berhenti bekerja setelah tanggung jawab saya selesai, Pak. Anda jangan khawatir. Saya pasti akan bekerja keras membantu Anda untuk membenahi perusahaan ini sampai tuntas."


"Baiklah, kalau itu memang keputusanmu, aku terima surat pengunduran diri ini. Aku akan melepaskanmu setelah tanggung jawabmu terselesaikan dan calon penggantimu sudah ada."


"Terima kasih, Pak."


"Jangan berterima kasih dulu! Kalau kamu ingin berhenti karena ada keterlibatan dengan Pak Bono, aku tidak akan melepaskanmu!"

__ADS_1


"Saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Silakan Anda membuktikan kalau memang saya terlibat dengan Beliau."


Jawaban yang Citra berikan terdengar begitu tenang. Hendry sudah bisa menebak jika memang Citra tidak ikut bersalah. Ia hanya ingin mengetes keteguhan diri wanita itu. Ternyata, Citra tetap memiliki pendirian yang kuat.


__ADS_2