Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Istriku Berubah


__ADS_3

Yoga menikmati makan paginya sembari memperhatikan raut wajah cemberut sang istri. Sejak semalam wanita itu bersikap cuek kepada dirinya. Ia tahu bahwa Citra masih marah dengan perkataan ibunya yang menyuruh Yoga untuk menikah lagi. Tentu saja Yoga tidak mau, dalam benaknya tidak pernah terbersit sedikitpun niat untuk menduakan sang istri.


Istrinya bangun jam 4 pagi, lebih pagi daripada jadwal biasanya. Wanita itu sibuk membersihkan rumah, mencuci, membuang sampah, dan memasak sarapan. Kondisi rumah begitu bersih, rapi, dan tertata saat Yoga bangun. Semua sudah beres termasuk sarapan pagi dengan menu yang menggugah selera.


Sebelumnya, mereka selalu bangun jam enam pagi dengan santai. Keduanya sering kali bermalas-malasan sambil berpelukan di atas ranjang. Setelah mood membaik, barulah mereka akan mandi bersama untuk mempersingkat waktu. Sarapan yang mereka makan hanya roti atau sereal agar praktis dan cepat. Selama ini mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu sebelum sang ibu datang.


Tin! Tin! Tin!


Terdengar suara klakson motor dari arah depan. Buru-buru Citra menghabiskan makanannya lalu mencuci piring kotornya di tempat cuci piring.


"Mas, aku berangkat dulu, ya," Pamit Citra seraya mencium pipi suaminya.


"Tunggu!" Yoga menahan lengan Citra. Ia benar-benar merasa istrinya aneh pagi ini.


"Hari ini aku mau berangkat dengan Lilis, Mas. Dia sudah menunggu di depan."


"Citra, kamu kenapa?"


Citra mengerutkan dahinya, "Memangnya aku kenapa, Mas?" tanyanya.


"Kalau ada masalah cerita, kamu aneh sekali hari ini."


"Aneh bagaimana maksudnya?" Citra pura-pura tidak peka.


"Biasanya kita berangkat kantor bersama. Lalu, kamu juga jarang bangun pagi memasak sebanyak ini."


Citra hanya tersenyum. "Aku hanya ingin mencoba menjadi istri yang baik seperti kemauan ibumu, Mas. Sudah, ya. Aku berangkat dulu."


Hati Yoga terasa gusar melepaskan kepergian istrinya untuk bekerja. Ia tak bisa menghentikan kemauan Citra karena perasaannya pasti masih sangat terluka akibat ucapan ibunya. Ia melanjutkan makannya sampai habis dan mencuci piringnya sendiri.


***


"Hei! Kok melamun?" Ira menempelkan kaleng minuman dingin ke pipi Yoga. Sontak lelaki itu terkejut sampai rokok yang dipegannya terjatuh.


"Duh, iseng banget sih, Ra!" protes Yoga. Ia sebenarnya ingin marah kepada temannya yang suka jahil itu.


"Minum, nih! Aku cari-cari di kantin kamu nggak ada. Tumben nggak sarapan di kantin." Baik Yoga maupun Ira memang lebih memilih datang lebih awal ke kantor untuk menyempatkan sarapan.

__ADS_1


Ira dan Yoga sudah berteman sejak SD. Saat SMA mereka masih satu kelas. Sampai akhirnya Ira memilih kuliah di luar negeri, mereka akhirnya berpisah. Dua tahun belakangan keduanya baru bertemu lagi di kantor tempat mereka bekerja sekarang.


"Aku sudah sarapan di rumah," jawab Yoga dengan nada terdengar lemas tak bersemangat. Ia membuka minuman kaleng yang diberikan Ira.


"Oh, tumben istrimu sempat memasak." Ira meneguk minuman kaleng miliknya.


"Sepertinya dia sedang marah padaku." Yoga tersenyum getir. Ia meneguk minuman yang Ira berikan.


"Hahaha ... masa wanita marah malah memasakkan sarapan untuk suaminya." Ira terkekeh merasa ucapan Yoga lucu.


"Istriku memang berbeda," kilah Yoga.


"Aku rasa bukan itu alasannya. Mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin kamu ketahui."


Ucapan Ira membuatnya harus berpikir. "Menyembunyikan apa?"


"Mana aku tahu ... hanya istrimu yang tahu. Mungkin dia punya lelaki lain," kata Ira dengan enteng.


"Hahaha ... istriku bukan orang seperti itu. Dia tidak mudah bergaul dan pemalu."


Yoga berpikir jika ucapan Ira ada benarnya. Bisa saja karena masalah dengan ibunya, Citra berencana meninggalkannya dengan lelaki lain yang tak ia kenal. Citra pagi tadi diam mungkin sudah muak dengannya.


"Kita juga rekan kerja lawan jenis, tapi bisa berteman." Yoga berusaha berpikir positif.


"Kita beda, Yoga. Sudah berapa lama kita berteman? Bahkan kita sudah seperti saudara sendiri."


Yoga hanya bisa menghela napas. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Citra betul-betul meninggalkannya. Ia sangat mencintai wanita itu.


"Turun, yuk! Sebentar lagi sudah masuk jam kerja. Pak Bono bakalan marah kalau telat melihat kita di ruangan," ajak Ira.


Yoga mengangguk. Mereka berjalan beriringan meninggalkan area atap gedung, tempat nongkrong favorit para karyawan, termasuk mereka.


Ira menatap kagum sosok lelaki di sampingnya. Ada rasa cinta sekaligus rasa benci dari tatapan matanya. Sudah sejak lama ia memendam perasaan pada Yoga, namun lelaki itu seakan tak pernah bisa membaca perasaannya. Sampai sekarang ia belum menikah karena tidak bisa melupakan Yoga.


Saat bisa satu kantor, satu divisi dengan Yoga, ia begitu merasa bahagia. Seakan harapannya agar perasaan yang telah lama bersemi itu bisa berlabuh hingga pelaminan. Sayangnya, Yoga ternyata telah menikah. Kenyataan itu begitu menyakitkan untuknya. Padahal ia memutuskan untuk pulang kembali ke negaranya hanya untuk Yoga, lelaki yang dicintainya.


"Yoga ...."

__ADS_1


"Hm,"


Ira seakan belum puas menghabiskan waktu untuk berbicara dengan Yoga. "Tante Ira apa kabar?" tanyanya.


"Baik, kalau sempat, main-main ke rumah lamaku. Ibuku juga terkadang menanyakan tentangmu," ucap Yoga.


"Benarkah? Tante pernah menanyakan aku?" Ira teelihat antusias mendengarnya.


"Iya. Ibuku selalu bertanya 'bagaimana kabar temanmu yang dulu suka mencuri rambutan kita?'," Yoga berusaha menirukan gaya bicara ibunya. Hal itu membuat Ira tertawa terbahak-bahak.


Ingatan tentang masa lalu hadir begitu saja. Dulu Ira memang sedikit tomboy dan nakal. Kerjaannya menjahili orang. Bisa akrab dengan Yoga karena memang dulu ia suka mengambil rambutan dari halaman belakang rumah Yoga. Ibunya Yoga sampai kesal saking jahilnya Ira.


"Kira-kira, apa kalau ibumu bertemu denganku dia akan marah-marah?"


"Aku rasa tidak. Soalnya ibumu selalu membawakan makanan yang enak-enak ke rumah. Sebagai permintaan maaf atas kenakalan anaknya."


Ira geleng-geleng kepala mengingat kelakuannya sendiri. Belasan tahun berteman dan .enjadi tetangga Yoga membuat keluarga mereka juga dekat. Namun, Ira memang hampir tidak pernah mau bertemu dengan ibunya Yoga. Ia takut dimarahi karena memang ia nakal. Kalau mau main bersama Yoga, mereka harus janjian di lapangan. Ira tidak berani menginjakkan kaki di rumah Yoga.


"Kalau ada waktu, sampaikan kepada ibumu aku mau main. Tapi kamu temani, ya! Aku takut dimarahi Tante Yanti."


"Oke. Kamu atur saja waktunya kapan nanti aku juga sampaikan kepada Ibuku."


"Dari mana saja kalian berdua?" Pak Bono sudah berdiri di depan ruangan divisi keuangan.


Yoga dan Ira langsung kelincutan bingung ingin memberikan penjelasan apa.


"Ini batu telat 5 menit, Pak ... kami minum coklat dulu di pantry." Ira mengeluarkan jurusnya untuk merayu sang bos.


"Ck! Alasan terus. Cepat kalian masuk! Kerja!" perintah Pak Bono.


Yoga dan Ira langsung masuk ke dalam ruangan dan duduk di bangku kerja masing-masing.


***


Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘


__ADS_1


__ADS_2