Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Bersembunyi


__ADS_3

Hai gais .... sempatkan vote, komen, like, dan favorit sebagai bentuk dukungan kalian kepada author, ya!





Edis duduk sendirian di tribun penonton melihat pertandingan sepak bola antara sekolahnya dengan sekolah tetangga. Angga menjadi salah satu pemain di lapangan sebagai gelandang tengah. Sejak kejadian waktu itu, mereka tidak pernah bertemu. Bahkan Angga terkesan mengabaikannya.


Edis hanya bisa menjadi pendukung dalam diamnya. Ia tak memiliki keberanian untuk lebih dulu mengajak bicara. Angga sangat menyeramkan saat marah, ia takut kata-katanya bisa membuat Angga bertambah marah.


Hal paling menyakitkan bagi Edis, Angga menjadi lebih dekat dengan wanita-wanita lain, terutama Lova. Seperti saat ini, Lova memberikan handuk serta air mineral kepada Angga dengan luwesnya. Gadis itu bahkan sengaja melirik ke arah Edis untuk memamerkan kedekatannya dengan Angga.


"Sendirian, Dis?" tiba-tiba Ivan, ketua kelasnya datang dan duduk di sebelah Edis. "Nggak apa-apa kan, kalau aku duduk di sini?" tanyanya.


"Nggak apa-apa. Rapat OSIS sudah selesai?" Edis berusaha bersikap biasa.


"Sudah. Usai mid semester nanti ada kegiatan class meeting seperti biasa. Begitu sih hasil rapatnya."


"Oh, berarti sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, ya?" Edis berbicara sembari matanya tetap melihat ke arah lapangan. Lova masih saja menempel kepada Angga. Sekilas pandangan Edis dan Angga bertemu. Tatapan yang Angga berikan tampak menyeramkan menunjukkan ketidaksukaannya.


"Tahun ini ada yang beda. Ada Pensi juga."


"Hah, Pensi? Bukannya biasanya akhir tahun baru diadakan?" tanya Edis heran. "Ini bahkan belum masuk pertengahan bulan."


"Aku juga kurang paham. Mungkin sekolah sedang kelebihan dana sampai membuat acara tambahan."


Pertandingan kembali dimulai. Fokus Edis kembali pada pertandingan yang ada di tengah lapangan. Para pemain memperebutkan satu bola dengan strategi yang sudah ditentukan sebelumnya. Gerakan Angga yang sangat lincah di lapangan saat merebut bola, menggiring bola, mengoper, serta melesatkan tendangan-tendangan penuh tenaga membuatnya menjadi pusat perhatian.


Seluruh pendukung dari tim sekolah bersorak setiap kali serangan yang dilancarkan tim mereka hampir membobol pertahanan lawan. Skor sementara pertandingan kali ini 2 - 0 untuk keunggulan SMA mereka. Edis harap-harap cemas melihat perjuangan Angga dan timnya. Ia harap merek bisa memberikan hasil yang terbaik di akhir pertandingan.

__ADS_1


"Nih!"


Tiba-tiba Ivan menyodorkan sebuah es krim cone kepada Edis. Ia bahkan tidak tahu kapan pemuda itu pergi dan membelikan es krim itu untuknya. Ia terlalu fokus menonton pertandingan hingga tidak terlalu perhatian dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


"Makasih." Edis menerima pemberian tersebut. Ivan sudah jauh-jauh ke luar untuk membelikannya es krim, setidaknya ia harus menghargai pemberiannya. Es krim yang Ivan bawakan terasa sangat lembut. Ia cukup familiar dengan rasanya, seperti prosuk es krim dari tempat makan yang cukup terkenal di kota mereka.


"Habis ini mau kemana?" tanya Ivan.


"Em, sepertinya aku akan langsung pulang ke asrama."


"Memangnya kamu nggak bosen ya, setiap hari tinggal di asrama? Sekali-kali keluar bareng teman-teman ke bioskop main bareng. Aku tadi sudah membahasnya dengan teman sekelas kita. Kebanyakan mau ikut, kok."


"Bukannya mau nolak, Van. Aku Masih punya banyak tugas yang belum dikerjakan."


"Nilaimu selalu pas-pasan tapi paling rajin kalau ada tugas, ya! Hahaha ...." ledek Ivan.


Edis hanya memberikan lirikan sinisnya kepada Ivan. Apa yang temannya itu katakan memang tidak salah, ia memang memiliki otak yang pas-pasan.


Antara SMA Bhineka dan SMA Eka Satya memang terkenal sebagai musuh bebuyutan. Meskipun hanya pertandingan persahabatan, hawa yang diciptakan seperti turnamen nasional sungguhan.


"Kak!" tanpa sengaja Edis berteriak kencang saat melihat Angga terjatuh di lapangan. Ia sampai berdiri dari tempatnya. Angga mendapat tekelan dari pihak lawan hingga cedera.


Edis semakin khawatir melihat petugas kesehatan sampai ada yang turun ke lapangan membawa tandu. Angga dinaikkan kenatas tandu dan dibawa keluar dari lapangan. Sepertinya cedera yang dialami cukup berat.


Pertandingan kembali dimulai, posisi Angga digantikan oleh pemain lain. Perasaan Edis semakin resah ingin mengetahui kondisi Angga yang sebenarnya.


"Kayaknya Angga luka parah itu, yang menjegal tadi harusnya dapat kartu kuning," ucap Ivan sebagai pengamat sepak bola dadakan.


Edis langsung berlari meninggalkan tribun. Ia menuju ke ruang kesehatan tempat biasanya para pemain yang cedera mendapatkan perawatan. Meskipun hubungannya dengan Angga masih belum membaik, ia tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Mungkin Angga akan marah jika melihatnya, namun Edis akan tetap memaksakan diri melihat kondisinya.


"Kamu di sini saja, Angga. Biar teman-temanmu yang melanjutkan pertandingan. Kondisi kakimu tidak memungkinkan untuk main lagi."

__ADS_1


Edis berdiri di depan pintu saat mendengarkan suara dadi pelatih di ruangan Angga.


"Saya masih kuat, Pak!" Angga berusaha ngeyel.


"Kuat bagaimana? Buat jalan saja pincang, kalau patah malah nggak bisa ikut pertandingan terakhirmu di kompetisi nanti!" pelatih terdengar sedang memarahi Angga. "Sudah, kamu istirahat di sini saja! Dokter juga melarangmu banyak gerak dulu."


Edis buru-buru bersembunyi di balik tiang saat mendengar langkah kaki pelatih meninggalkan ruangan tersebut. Setelah ruangan menjadi sunyi, ia memberanikan diri masuk. Tak ada seorangpun di sana. Ada beberapa bilik ranjang yang disediakan, salah satunya tertutup tirai putih.


Perlahan Edis mendekati tirai tersebut. Ia sibakkan tirainya, tampak Angga yang terbaring di atas ranjang dengan kaki yang dibalut perban. Pemuda itu tampak terkejut melihat kehadiran Edis di sana.


Angga menundukkan pandangannya dan tak berani mengatakan apapun kepada wanita yang kini ada di hadapannya.


"Angga ada di dalam, kalian jangan rusuh begitu deh, nanti dimarahi dokter jaga!"


Tiba-tiba mereka mendengar suara Lova dari arah depan. Keduanya langsung panik takut ketahuan sedang berduaan di sana.


"Cepat naik!" perintah Angga dengan nada pelan.


"Hah?"


"Cepat kesini!" perintah Angga lagi. Ia gregetan dengan Edis yang lambat mengetti kode darinya.


Saat Edis mendekat, langsung saja Angga menarik tangan Edis dan menyuruhnya naik ke atas ranjangnya. Gadis itu kaget disuruh berbaring di samping Angga. "Diam sampai mereka pergi!" perintah Angga seraya menutupkan selimut pada tubuh mereka.


"Srak!" tirai kembali terbuka. Tampak Lova datang dengan Nida dan Siwi.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Lova khawatir.


"Aduh, Angga ... mereka jahat banget bikin kamu sampai begini ...." Nida terlihat ngilu melihat kondisi Angga.


"Tim dari SMA kita masih unggul satu skor, Ngga. Kalau kamu masih main di lapangan, aku yakin gawang mereka bisa makin banyak mereka jebol," sahut Siwi.

__ADS_1


Angga hanya tersenyum mendengarkan tiga orang teman sekelasnya yang terus mengoceh. Sementara, dirinya agak merasa kepanasan karena memakai selimut dan ada Edis di balik selimut itu.


__ADS_2