
Angga melambaikan tangan ke luar kaca jendela mobil kepada Edis. Ia akan langsung pulang ke rumah bersama ayahnya. Rasanya ia masih ingin bersama Edis, namun kondisinya tak memungkinkan untuk tetap berada di sekolah. Apalagi ayahnya sudah datang menjemputnya.
"Fokus istirahat di rumah supaya bisa cepat bertemu lagi dengan pacarmu," ledek Fabian melihat putranya yang tampak sedih sembari memandangi kaca spion.
Fabian hanya tersenyum-senyum dengan kekesalan Angga saat ia berusaha menggodanya. Ia jadi kembali teringat masa mudanya. Memang yang namanya jatuh cinta sulit untuk dihindari. Dulu ia juga sampai tergila-gila dengan mendiang istrinya.
Ibu Angga cantik dan termasuk primadona di sekolah. Keluarganya juga kaya serta terpandang berbeda dengan dirinya yang hanya orang biasa. Fabian hanya unggul dari segi kecerdasan dan parasnya yang lumayan tampan. Bersanding dengan ibunya Angga mereka sangat serasi meskipun tidak dari segi ekonomi.
Kalau saja pergaulan mereka tidak kebablasan, belum tentu mereka akan menikah. Orang tua Trisia pasti akan memilihkan jodoh yang setara dengan mereka. Namun, karena Trisia hamil duluan, mereka bahkan dengan tegas memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Trisia. Terpaksa Fabian dan Trisia pontang-panting berusaha keras agar bisa bertahan hidup dan membesarkan Angga dengan sebaik mungkin.
Beberapa tahun berlalu, orang tua Trisia perlahan menerima keberadaan Fabian dan Angga. Bahkan, Fabian dipercaya untuk ikut mengurus perusahaan keluarga Trisia. Ia mampu membawa perusahaan jauh lebih sukses. Fabian yang awalnya tidak diinginkan akhirnya menjadi menantu kesayangan. Namun, tak lama setelah itu kedua orang tua Trisia meninggal dalam kecelakaan.
Di saat perekonomian keluarga semakin membaik, Trisia jatuh sakit. Ia tidak tahu kalau alasan di balik sakitnya Trisia karena teror dari seorang wanita yang mengaku pernah tidur dengannya. Fabian sama sekali tidak mengingat apa yang ia lakukan dengan wanita itu.
Ia kira masalah itu telah berlalu. Tidak disangka permasalahan yang lama terlupakan kembali muncul dan membuat hubungannya dengan Angga menjadi renggang. Ia sama sekali tidak tahu kalau wanita yang ditidurinya tanpa dia ingat hamil dan punya anak. Kalau memang benar wanita itu memiliki anak darinya, seharusnya wanita itu meminta pertanggung jawaban langsung kepadanya.
"Angga ... Papa ingin kita berbaikan. Aku akan berusaha untuk lebih memahamimu. Tapi tolong, kamu juga harus belajar menjaga sikap dan tidak membuat ayahmu ini khawatir."
Angga masih terdiam. Ia lebih memilih tetap memandang ke arah jendela dari pada mendengarkan ucapan ayahnya.
"Kalau masalah wanita lain yang sering kamu bahas itu, Papa benar-benar tidak tahu sama sekali. Mamamu juga tidak pernah bercerita apapun."
"Demi Tuhan Papa tidak tahu kalau ada wanita lain yang hamil anak Papa. Tapi, Papa akan menyelidiki lagi hal itu. Kalau memang dia yang suka meneror mamamu dulu, Papa tidak akan membiarkannya hidup tenang."
"Aku tidak percaya Papa akan melakukan hal seperti itu," ucap Angga.
__ADS_1
"Suatu saat Papa akan membuktikan kalau Papa benar-benar tidak tahu dengan apa yang kamu ceritakan, Angga. Papa memang pernah salah, terlalu mabuk sampai tidur bersama wanita dalam satu ranjang. Itu juga Papa tidak tahu kami melakukannya atau tidak. Papa mabuk berat saat itu!"
Fabian tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada putranya. Masalah itu sudah sangat lama berlalu dan dia anggap bukan sebuah masalah. Kalau saja ia tahu Trisia sakit karena dirinya, ia akan meminta maaf sembari berlutut kepadanya. Saat itu ia hanya bisa bekerja keras demi menstabilkan kondisi perusahaan. Belum lagi istri yang sakit butuh banyak biaya. Tidak disangka wanita itu lebih memilih meneror istrinya dari pada dirinya sendiri.
"Papa juga tidak memungkiri pernah berbuat salah, Papa minta maaf. Sekarang, Papa masih berusaha menjadi orang tua yang baik untukmu."
"Kelakuan Papa yang buruk hendaknya tidak perlu kamu tiru. Kamu anak yang baik, Angga."
Di dalam mobil sepanjang perjalanan Angga hampir tidak berbicara. Fabian yang lebih banyak berkata-kata. Bisa satu mobil dengan putranya menjadi kesempatan yang bagus. Ia lebih leluasa berbicara meskipun Angga tidak sepenuhnya mau mendengarkannya.
Sesampainya di basement apartemen, Fabian membantu Angga menaiki kursi rodanya kembali. Anak itu jadi lebih penurut karena sedang sakit. Angga yang biasanya kabur-kaburan kalau ada ayahnya sekarang jadi seperti anak baik dan penurut.
"Setelah lulus nanti, kamu mau melanjutkan kemana?" tanya sang ayah ketika mereka telah sampai di unit apartemen.
"Aku tidak tahu!" jawab Angga ketus.
"Aku mau kuliah di sini saja!" jawab Angga dengan lugas.
Fabian tak bisa berkata-kata dengan sikap keraa kepala putranya. Ia tak sepenuhnya menyalahkan Angga, saat muda sifatnya juga tak jauh berbeda darinya.
"Ah, Papa tahu alasannya ... pasti karena ingin tetap dekat dengan Edis, kan?" goda Fabian.
Angga merasa aneh dengan kelakuan ayahnya yang terlihat berusaha melucu namun tidak lucu. Ia bahkan tidak suka ayahnya membawa-bawa bama Edis terus.
"Kenapa lirikanmu menakutkan seperti itu? Kalian memang pacaran, kan? Papa juga sudah tahu ... hanya berharap kalian bisa menjaga diri dengan baik. Kalau Edis mau datang ke rumah juga boleh, Papa tidak marah."
__ADS_1
"Apa-apaan sih!" gerutu Angga dengan nada lirih.
"Papa masak dulu sebentar, ya! Kamu harus banyak makan supaya cepat sembuh. Fabian menyambar apron yang tergantung di dinding. Ia langsung berkutat di dapur untuk membuat masakan yang ia bisa.
Sementara, Angga bangkit dari kursi rodanya berganti memakai tongkat penyangga. Perlahan ia berjalan menapaki tangga menuju lantai atas. Sebenarnya ia merasa kakinya tidak terluka terlalu parah.
Saat tiba di dalam kamar, pandangannya tertuju pada benda yang tergeletak di atas nakas. Ia kembali berjalan mendekat ke arah meja meraih benda tersebut. Mulutnya sampai ternganga mengetahui benda yang kini ada di tangannya.
"Papa!" teriaknya kencang.
Suara teriakan yang sangat keras sampai membuat Fabian yang berada di dapur lari tunggang langgang menghampiri anaknya di kamar atas. "Ada apa?" tanyanya dengan kondisi masih mengenakan apron.
"Ini apa?" Angga memperlihatkan sekotak k0nd0m dan sebotol alat pelvmas. Ia tahu pasti barang itu ayahnya yang membelikan.
"Ah, aku kira ada apa," kata Fabian dengan santainya. Memang benda itu dia yang membelinya. "Masa kamu belum tahu itu apa? Kamu sudah sebesar ini masa tidak tahu? Ini malah tambah bahaya," gumamnya.
Angga menghela napas panjang. Ia merasa antara kesal, marah, sekaligus malu dengan kelakuan ayahnya. "Ya aku tahu, tapi aku tidak perlu bilang juga. Tapi kenapa benda ini ada di sini?" gerutunya.
"Kalau tahu pasti tahu kegunaannya, kan? Papa cek di kamarmu tidak ada benda-benda itu. Melihat kamu sudah pacaran Papa kan jadi khawatir. Dulu Papa juga polos-polos begitu sama Mamamu."
Angga memijat keningnya sendiri. Punya orang tua yang sampai sejauh itu memberikan benda-benda dewasa kepadanya rasanya ingin membuatnya berteriak. "Pa ... keluar dari sini sekarang. Aku jadi kesal karena ini!" pinta Angga.
"Papa membelikannya bukan berarti menyuruhmu memakainya, ya! Kalau bisa disimpan saja," ucap Fabian tanpa merasa bersalah.
"Papa!" teriak Angga kesal.
__ADS_1
Fabian langsung berlari pergi sebelum anaknya melemparinya dengan barang atau kursi. Ia heran niat baiknya selalu mendapat respon yang tidak baik dari Angga. Padahal, ia sudah berusaha memahami anaknya.