Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Perubahan Penampilan


__ADS_3

"Apa jadwal selanjutnya?" tanya Yoga sembari berjalan berdampingan dengan sekertarisnya.


"Tidak ada, Pak. Kita langsung bisa kembali ke kantor," jawab Wildan.


Hari ini Yoga baru saja menghadiri pertemuan dengan pihak mall tempat dirinya sekarang berada. Restoran milik ayahnya akan membuka cabangnya di dalam restoran tersebut. Yoga diberi wewenang untuk mengurus kerjasama tersebut.


Belum lama ini, Yoga memilih resign dari pekerjaannya setelah sang ayah memintanya ikut mengurus bisnis restoran yang sekakin membesar. Dulu, karena ia menikah dengan Citra, ia tidak diperkenankan untuk ikut mengurus perusahaan.


Namun, berkat pengalamannya bekerja di perusahaan sebelumnya, ia tidak kesulitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Bedanya, posisinya saat ini merupakan seorang CEO, sedangkan dulu ia hanya karyawan biasa.


"Kurasa restoran kita akan memiliki prospek yang bagus jika buka di sini. Lihatlah, jumlah pengunjungnya lumayan banyak."


"Benar, Pak. Keputusan yang tepat untuk Anda memilih pembukaan cabang di sini."


Saat sedang melanjutkan jalan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia seperti melihat seseorang yang ia kenal. Beberapa waktu ia terus memandangi sosok wanita berambut panjang sepunggung dicat warna ungu dengan model curly. Wanita yang tampak anggun, elegan, serta se ksi itu sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita hamil yang tak kalah cantik di sebuah restoran.


"Ada apa, Pak?" tanya Wilda heran melihat Yoga tiba-tiba saja berhenti dan tertegun.


"Wildan, kamu duluan saja ke basement. Tunggu aku di mobil. Aku ada urusan sebentar!" pinta Yoga.


"Baik, Pak!" meskipun heran dengan permintaan atasannya, Wildan tetap melaksanakannya.


Yoga berjalan mendekat ke arah dua wanita yang tampak sedang tertawa bahagia itu. Ia hanya ingin memastikan apakah benar wanita itu memang orang yang dikenalnya.


"Citra?" sapanya.


Kedua wanita itu berhenti tertawa dan menoleh ke arahnya. Bisa Yoga lihat perubahan ekspresi yang Citra tunjukkan kepadanya. Meskipun raut wajahnya memperlihatkan ketidaksukaan terhadap keberadaan dirinya, Yoga mengakui jika Citra yang sekarang sangat cantik. Ia bahkan hampir tidak bisa mengenali mantan istrinya yang dulu lebih sering tampil kumal di rumah seolah kini telah berubah menjadi seorang putri.


"Siapa dia, Cit?" tanya Retha yang merasa baru pertama kali melihat wajah lelaki itu.


"Dia mantan suamiku," jawab Citra.

__ADS_1


Retha memandangi secara seksama lelaki yang ada di hadapan mereka. Memang jika diperhatikan lelaki itu cukup tampan meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Hendry. Ia hanya tidak percaya saja model lelaki seperti itu bisa menyelingkuhi wanita sebaik Citra.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Yoga.


"Maaf, tidak bisa. Aku sedang bersama temanku. Kalau memang ada yang ingin dibicarakan, katakan saja langsung di sini!" tegas Citra.


"Tidak apa-apa, Cit. Pergi saja, aku akan menggumu di sini," ucap Retha.


"Aku tidak mau meninggalkanmu."


"Sudah, pergi saja sana!" Retha tidak enak hati membiarkan lelaki itu terus berada di sana menunggu Citra mau berbicara.


Mendengar Retha menyuruhnya bicara dengan Yoga, Citra jadi tidak enak hati menolak. Apalagi Yoga dengan tidak tahu malu tetap berdiri di sana dan tidak mau pergi.


"Tunggu sebentar, ya! Aku akan menyelesaikan urusanku secepatnya!" ucap Citra.


Ia bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Retha. Tanpa menoleh ke arah Yoga, ia berjalan sendiri menuju tempat yang dirasa sepi untuk berbicara berdua dengan Yoga. Ia tahu lelaki itu pasti akan membuntutinya.


"Kita cari tempat yang nyaman untuk bicara. Bagaimana kalau kita ke kafe?" ajak Yoga.


"Kamu lupa kalau temanku sedang menungguku?" ketus Citra.


Baru kali ini Yoga benar-benar melihat Citra memasang mode angkuh seperti itu. Biasanya, wanita itu selalu bersikap dan berkata lembut. Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, tetapi juga sifatnya. Meski demikian, Yoga sangat terpesona dengan kecantikan Citra. Ia bahkan tidak percaya pernah menjadi suami wanita secantik itu.


"Kamu mengecat rambut dan memanjangkan rambutmu?" tanya Yoga.


Citra ingin tertawa. Ia kira Yoga akan memintanya membahas hal yang penting. Justru yang ditanyakan adalah masalah rambutnya.


Setelah dipecat oleh suaminya sendiri dari kantor, Citra memutuskan untuk mengecat rambutnya dengan warna ungu yang cukup mencolok. Sebelumnya ia telah berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk melakukan pengecatan rambut dan hair extention. Ia ingin tampilan yang berbeda dari biasanya. Bahkan, pakaian yang ia kenakan lebih berwarna dan elegan dari biasanya. Riasan wajahnya ia buat lebih menonjol seakan ia ingin merubah masa lalunya yang kelam dengan kehidupan yang penuh kebahagiaan.


"Apa ini mengganggumu atau merugikanmu?" tanya Citra.

__ADS_1


"Tidak, kamu cocok dengan penampilan yang seperti ini. Kamu kelihatan sangat cantik."


Tanpa segan Yoga memberikan pujian kepada Citra seolah ia telah terhipnotis wanita itu.


"Sudah? Kamu memanggilku hanya untuk memberikan pujian semacam ini?" Citra rasanya malas hanya meladeni lelaki itu untuk hal yang tidak penting.


"Dulu kamu tidak pernah tampil seperti ini saat kita masih menikah."


Citra tersenyum geli. "Tampil seperti ini? Memangnya kamu sanggup membiayai? Gajimu yang besar itu saja hanya kamu berikan sekedar untuk biaya makan. Itu saja aku masih ikut menanggungnya karena kamu terlalu mementingkan keluarga dan adik-adikmu."


Yoga tersulut emosi mendengar perkataan Citra. "Kamu sedang menghinaku? Apa salahnya memberikan sebagian kecil penghasilanku untuk ibu dan adikku sendiri?"


"Tidak ada yang salah, tentu saja tidak salah. Hanya saja, sesuaikan tuntutanmu dengan apa yang kamu berikan. Mana ada wanita bisa tampil cantik tanpa biaya dari suami?"


"Sebelumnya kamu tidak pernah bicara sekasar ini. Di mana Citra yang dulu aku kenal?" Yoga tampak kecewa dengan perubahan sikap Citra.


"Citra yang dulu sudah kamu buang demi wanita lain, kan?" Amarah Citra seakan ingin meledak. Lelaki itu begitu menyebalkan hingga ia ingin menendangnya.


"Kapan aku membuangmu? Aku masih mencintaimu. Asal kamu tahu!"


Citra menepis tangan Yoga yang hendak menyentuhnya. "Jangan sampai istrimu tahu kelakuan suaminya seperti ini di luar!" Citra memberikan lirikan mautnya.


"Kamu tahu, kan, aku menikahinya hanya untuk anak! Sedangkan aku mencintaimu benar-benar karena cinta! Meskipun kamu tidak bisa memberikan anak untukku, aku tetap akan mencintaimu!"


Citra heran ada lelaki semacam itu yang menganggap wanita bagaikan pabrik anak. "Lebih baik kamu belajar mensyukuri apa yang sekarang dimiliki. Hubungan kita sudah berakhir, terima saja!"


Yoga meraih tangan Citra dan menggenggamnya erat seolah ia tak ingin wanita itu pergi darinya. "Bercerailah dengan suamimu dan kembali padaku. Aku akan menceraikan Ira setelah anakku lahir."


Citra sampai ternganga saking tidak percayanya Yoga bisa berkata seperti itu. "Kamu sudah tidak waras, Yoga!"


"Aku berjanji akan membahagiakanmu kali ini. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Citra ... Kembalilah padaku!"

__ADS_1


__ADS_2