Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kegemparan


__ADS_3

"Ibu, terima kasih sudah menjamu saya dengan baik. Saya mau pamit pulang dulu," ucap Retha.


"Kamu tidak perlu sungkan. Kapan saja kamu mau main, rumah ini akan selalu terbuka untukmu," ucap Ratih.


"Yah, masa Miss Retha mau pulang ... Kalau Miss Retha pulang nanti jadi nggak bisa ketemu lagi," rengek Kenzo.


"Kalau ada waktu, Miss Retha akan main kok," ucap Retha sembari mengulaskan senyum. Ia mengusap lembut kepala Kenzo.


Pandangannya teralih pada Eril dan Gisel yang ikut berada di sana bersama Kenzo. "Eril, Gisel, Miss Retha pulang dulu, ya!" Ia mencubit pelan pipi keduanya. Selama beberapa jam di sana, ia sudah begitu dekat dengan ketiga anak tersebut. Ratih dan Mikha juga memperlakukannya dengan baik seperti keluarga. Ia bisa merasakan aura positif dari keluarga Bara. Mereka orang-orang yang ramah dan penyayang. Akan tetapi, ia juga belum tahu apakah respon tersebut juga akan sama jika mengetahui kalau ia merupakan istri Bara.


"Mama ... Gawat, Ma ... Bagaimana ini?"


Dari arah atas Mikha sudah berteriak-teriak panik. Ia juga menuruni tangga dengan berlari seperti dikejar sesuatu. Sontak membuat semua orang merasa bingung.


"Kamu kenapa sih, Mikha? Kenapa ribut sekali?"


"Kak Bara, Ma ... Kak Bara ...." Mikha tiba-tiba saja menangis, sontak membuat Ratih dan Retha semakin panik. Apalagi ia menyebut nama Bara.


"Kenapa dengan Kakakmu?" tanya Ratih.


"Kak Bara masuk penjara, Ma!"


"Apa? Kamu jangan mengada-ada, Mikha!" wajah Ratih langsung memucat.


"Ada apa ini?" ayah Bara yang baru masuk dari halaman samping ikut heran dengan keributan yang diciptakan anak dan istrinya.

__ADS_1


"Kak Bara masuk penjara, Pa! Tadi Mas Aryo telepon bilang begitu!"


"Kok bisa? Memangnya Bara salah apa?" tanya Pak Atmaja ikut panik.


"Mana Mikha tahu, Pa! Pokoknya Mas Aryo bilang Kak Bara sekarang ditahan di XXX!"


Retha mematung mendengar berita tentang Bara. Jantungnya seakan mau copot saat mendengar berita menggemparkan tersebut. Sebelumnya ia marah kepada suaminya karena kebohongan tentang Silvia. Namun, mendengar berita Bara dipenjara membuatnya merasa khawatir.


"Kalau begitu, kita langsung saja pergi ke sana sekarang!" desak Pak Atmaja yang tampak khawatir.


"Apa anak-anak diajak?" tanya Mikha.


"Ajak saja semuanya!" ucap Pak Atmaja.


"Em, maaf, apa saya boleh ikut?" sahut Retha.


"Tidak apa-apa kalau Ibu Guru mau ikut!" kata Pak Atmaja.


Akhirnya, mereka semua bergegas ke halaman depan untuk menaiki mobil.


Mereka terbagi dalam dua mobil, di mana mobil pertama dinaiki oleh Pak Atmaja dan Ratih, sementara mobil kedua dinaiki oleh Mikha, Gisel, Eril, Kenzo, dan Retha.


"Onty, Daddy kenapa?" tanya Kenzo.


"Tidak apa-apa, Kenzo. Ayahmu baik-baik saja," ucap Mikha menenangkan keponakannya.

__ADS_1


"Tapi, katanya Daddy dipenjara. Memangnya Daddy penjahat?" tanya Kenzo lagi.


"Belum tentu juga Daddy jahat, Sayang. Kita tanya langsung nanti, ya!"


"Apa Mommy juga ada di sana?"


Mikha sedikit kesal meladeni keponakannya yang cukup cerewet itu. "Onty juga tidak tahu, Sayang. Nanti kita lihat apa ada Mommy juga di sana." Ia sebenarnya sudah jengah mendengarkan Kenzo menyebut tentang Silvia. Wanita tidak tahu diri itu seharusnya tidak usah kembali menurut Mikha.


Retha menyimak obrolan mereka dari bangku depan sebelah sopir. Sebenarnya juga ingin berkeluh kesah. Bagaimanapun juga Bara adalah suaminya. Akan tetapi, ia tidak berdaya jika dihadapkan pada Silvia. Tentu saja keluarga Bara hanya mengenal Silvia sebagai istri dan ibu dari Kenzo.


Perjalanan terasa cukup lama dengan kemacetan yang terjadi di setiap lampu merah. Retha semakin tidak sabar untuk mengetahui kondisi terakhir suaminya. Ia berharap Bara bisa terbebas dari segala tuntutan yang menjeratnya. Bara orang baik, tidak mungkin jika ia terjerat dengan tindak kejahatan.


Degup jantung Retha semakin kencang tatkala mobil yang mereka naiki telah sampai di sebuah lembaga pemasyarakatan. Tempat yang dianggap hina bagi masyarakat itu kini menjadi tempat tinggal sang suami. Kalau boleh memutar waktu, rasanya kemarin ia tidak akan mengizinkan sang suami berangkat bekerja.


Ia juga tidak perlu melihat Bara dan Silvia berada di rumah sakit dan mengetahui berita kehamilan yang membuatnya pergi dari rumah. Kehidupan rumah tangganya pasti akan baik-baik saja dan Bara tidak harus masuk penjara.


Langkah demi langkah yang ia lakukan terasa semakin berat. Ia bertemu dengan banyak polisi berseragam yang menurutnya menakutkan. Ia jadi berpikir apakah suaminya di dalam sana mendapat siksaaan atau tidak, diberi makanan yang layak atau tidak.


***


Hai ... Mau promosi salah satu karya terbaikku yang sudah tamat.


Judul: Antara CEO dan Mafia


Author: Momoy Dandelion

__ADS_1



__ADS_2