
"Kenapa hari ini orang-orang terus mengira rumah ini milik Pak Agus, sih! Katanya Papa sudah membayar lunas rumah ini," gerutu sang istri.
"Papa memang sudah membayar lunas, Ma ... Siapa juga yang tahu kalau ternyata pemilik sebelumnya punya masalah," jawab sang suami.
"Kalau begini ceritanya kayaknya besok-besok bakalan ada yang datang cari Pak Agus. Entah preman atau rentenir dari mana lagi! Aku pusing!" Si istri langsung masuk kembali ke dalam rumah dengan kesal.
Bara hanya tertegun mendengarkan perdebatan suami istri itu. Semua bermula saat Bara datang ke sana menanyakan keberadaan mertuanya. Ia sangat heran, mengapa rumah yang ia belikan untuk ayah mertuanya telah ditempati oleh orang lain. Kata Edis Retha ada di sana, namun sepertinya itu tidak mungkin.
"Maaf, Mas. Saya tidak bermaksud mengusir. Tapi, saya sekarang pemilik baru rumah ini. Saya membelinya dari orang yang bernama Pak Agus secara tunai. Hari ini sudah ada beberapa rentenir yang datang mencari Pak Agus. Ada juga wanita yang mengaku sebagai anak Pak Agus datang. Tapi, maaf sekali lagi, ini bukan rumah Pak Agus lagi."
"Apa wanita yang sempat datang kemari seperti ini?" tanya Bara seraya memperlihatkan foto Retha yang ada di ponselnya.
Lelaki itu tampak serius memperhatikan foto tersebut. "Iya, Benar, Pak. Wanita ini yang mengaku sebagai anak Pak Agus."
Bara jadi yakin kalau memang Retha sempat datang ke rumah ayahnya. Namun, ternyata rumah itu sudah berpindah tangan kepada orang lain. Bara sampai tidak habis pikir mertuanya telah ia beri jatah sepuluh juta setiap bulan dan diberikan rumah, tapi malah memilih untuk menjual rumah dan tidur di jalanan. Ia jadi kembali cemas untuk mencari keberadaan Retha.
"Kalau begitu, terima kasih, Pak. Saya pamit dulu," ucap Bara dengan teegesa-gesa.
Ia bergegas kembali ke dalam mobilnya, menyisir jalanan sembari mencari keberadaan sang istri. Bara rasanya ingin menghajar ayah mertuanya sendiri. Bukan kehilangan uang yang ia sesalkan, tapi gara-gara rumah itu di jual, ia jadi kesusahan mencari tempat yang sekiranya Retha jadikan sebagai tempat tinggal selama ia marah.
Kesalahannya memang terhitung fatal. Ia telah merahasiakan fakta kembalinya Silvia. Setelah Retha memberi kepercayaan padanya, Bara justru semakin terikat dengan Silvia, termasuk soal mengantarkan Silvia ke rumah sakit karena pingsan. Apapun alasan yang dimilikinya, seorang wanita selalu menilai permasalahan berdasarkan perasaannya. Retha pasti mengira jika dirinya masih mencintai Silvia.
__ADS_1
"Sayang ... Kamu di mana, sih ... Kalau marah mending marahi aku, tapi jangan kabur seperti ini ...." Bara terus mengemudikan mobilnya sembari melayangkan pandangan ke kanan kiri untuk mencari sang istri. Ia benar-benar tidak ada bayangan di mana Retha sebenarnya berada. Retha termasuk wanita yang betah tinggal di rumah, ia tidak mungkin kelayapan di luar jika sudah menemukan satu tempat yang nyaman.
Malam semakin larut. Bara merasa pandangannya semakin kurang fokus. Ia terlalu lelah setelah seharian memikirkan banyak hal. Rasa kantuk juga mulai menderanya. Ia memutuskan kembali ke apartemen, berharap saat ia pulang Retha telah kembali di sana.
"Selamat malam, apa benar Anda yang bernama Bapak Bara Atmaja?"
"Benar, Pak. Kalau boleh tahu, ada urusan apa?"
Saat Bara baru saja memasuki area lobi bawah area apartemen, ada sekitar enam orang polisi berpakaian preman mendekatinya. Ia sedikit heran, tidak biasanya ada polisi di area apartemen miliknya.
"Bisa ikut kami sebentar?" tanya salah seorang polisi sembari mempersilakan Bara ke salah satu sudut lobi dan mengajaknya untuk duduk bersama para polisi.
"Maaf, telah mengganggu waktu Bapak malam ini. Kedatangan kami membawa surat perintah penangkapan Bapak Bara Atmaja atas tuduhan kasus penggelapan dana dan penipuan serta tindakan yang kurang menyenangkan terhadap warga sekitar proyek di Kota J." polisi tersebut memberikan surat tugasnya kepada Bara.
Rasanya Bara tidak ingin percaya akan ditangkap oleh pihak kepolisian untuk tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. "Maaf, Pak. Ini pasti ada kesalahan!" kilah Bara. Ia sudah meminta pengacaranya untuk mengurusi masalah tersebut.
"Anda bisa membuktikan nanti saat sidang, Pak. Lebih baik, sekarang Pak Bara ikut dengan kami ke kantor. Besok, Bapak bisa menghubungi pengacara untuk melakukan pembelaan."
Bara menghela napas. "Apa bisa saya datang ke kantor polisi besok? Istri saya sejak tadi belum pulang ke rumah, saya khawatir dia hilang karena tidak memiliki sanak keluarga yang banyak di kota ini."
Bara masih mengkhawatirkan Retha. Ia memikirkan apakah Retha telah berada di dalam apartemen atau belum. Ia belum sempat meminta maaf atas kejadian yang terjadi di rumah sakit. Tanpa ia tahu mungkin dirinya telah menyakiti hati wanitanya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Kami hanya melaksanakan tugas. Sebagai warga negara yang baik, alangkah terhormatnya jika kita saling menghargai tugas masing-masing."
Bara menatap ke arah para polisi yang tengah menyamar itu. Mereka pasti telah memiliki keluarga, ada anak dan istri yang menunggu di rumah. Polisi hanya menjalankan tugas mereka. Jika ia mempersulit pekerjaan polisi, itu sama artinya ia telah menunda perjumpaan mereka dengan keluarga.
Bara terlihat menghela napas. Meskipun sangat khawatir terhadap sang istri, ia juga harus bertanggung jawab atas masalah yang menimpa perusaaan. "Baik, Pak. Silakan tangkap saya," ucap Bara pasrah.
Ia membiarkan dua orang polisi memandunya masuk ke dalam mobil polisi dengan pengamanan di kanan kiri. Tangannya tidak sampai diborgol karena dinilai sebagai calon tahanan yang tidak berbahaya.
Sebagai pihak yang merasa tidak bersalah, Bara menyikapi masalahnya dengan tenang. Ia berharap kebenaran akan terungkap dan menghukum orang yang seharusnya bersalah secara nyata.
Baru kali ini Bara menikmati sensasi naik di dalam mobil polisi sebagai seorang terduga kasus penipuan proyek yang dilakukan beberapa anak buahnya.
Sesampainya di kantor polisi, ia ditempatkan dalam sel sementara yang berukuran sangat luas berbentuk persegi panjang. Di dalamnya juga sudah terdapat belasan calon tahanan yang ditempatkan di sana sembari menunggu putusan.
Tidak ada perlakuan khusus yang Bara terima. Ia dibiarkan begitu saja berkumpul bersama orang-orang yang bermasalah seperti dirinya.
Bara mengarahkan pandangan kepada orang-orang di sana. Ada yang balik menatapnya dengan sinis, ada yang menunduk, ada pula yang tersenyum tulus kepadanya. Sebagai orang Baru, Bara memilih tempat di pojokan agak jauh dari para tahanan yang lain.
***
Selamat malam ... Jangan lupa istirahat dan tidur yang cukup ya 😘
__ADS_1