
Polisi datang tak berselang lama setelah perkelahian pecah. Untung saja mereka cepat datang sehingga rombongan Bara terselamatkan. Anak buah Aldo cukup merepotkan untuk dihadapi oleh tiga orang, sementara Bara melawan dalam kondisi terluka.
"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Retha yang merangkak sembari mendekati tubuh Bara yang terkapar dengan luka tembakannya.
Perlahan ia membantu suaminya duduk. Keduanya berpelukan. Retha menangis sesenggukan merasa lega bisa bertemu dengan suaminya kembali. Bara mengelus punggung sang istri untuk menenangkannya.
Suasana di rumah tersebut masih cukup riuh. Polisi berteriak-teriak mencari sisa orang-orang yang masih bersembunyi. Sesekali terdengar suara tembakan dari polisi untuk menghentikan orang yang berusaha kabur.
Zack tampak sedang berbicara dengan pimpinan polisi yang melakukan penyergapan. Sementara, Angga menghampiri Edis yang kondisinya juga cukup memprihatinkan.
Pak agus menangis sendiri melihat kejadian tersebut. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Baru kali ini ia merasa benar-benar menyesal dengan kelakuannya. Karena dirinya, anak-anaknya mendapatkan kesulitan. Ia merasa sebagai seorang ayah yang tidak berguna.
"Aduh, Mas ... Perutku rasanya sakit," keluh Retha sembari memegangi perutnya.
Bara memeriksa kondisi sang istri. Ia tertegun saat melihat noda darah yang merembes di lantai dekat Retha. "Sayang ... kamu pendarahan!" ucapnya panik.
Retha yang melirik arah bawahnya ikut-ikutan panik. "Mas ... Kandunganku!"
Tanpa berpikir lagi, Bara segera mengangkat tubuh sang istri. Ia bergegas pergi membawa istrinya ke rumah sakit.
"Zack, aku duluan. Istriku pendarahan, takutnya dia keguguran!" kata Bara kepada Zack.
"Eh, Bar! Tapi ini belum selesai ... Bagaimana?" Zack ikut-ikutan panik. Sementara, Aldo saja masih belum berhasil ditangkap. Polisi masih berusaha melakukan pengejaran.
"Kamu saja yang mengurus semuanya. Aku harus segera membawa istriku ke rumah sakit!"
"Baiklah, kalian hati-hati!" Zack membiarkan Bara lebih dulu pergi.
"Usahakan si kep4rat Aldo itu tertangkap, Pak!" pinta Zack.
"Pasti akan kami usahakan, Pak. Tim masih mengejarnya di area hutan dekat tempat ini. Sekalipun dia berhasil lolos, ia akan menjadi buronan kami."
__ADS_1
Zack merupakan orang yang berinisiatif memanggil polisi saat dalam perjalanan menuju ke rumah Aldo. Ia tidak mau terlalu mengambil resiko jika telah berkaitan dengan ranah kriminal.
Awalnya Bara menolak karena menurutnya tidak perlu ada pihak lain yang terlibat. Namun, ternyata menghadapi Aldo tak semudah yang mereka bayangkan. Apalagi anak buah yang harus mereka hadapi cukup banyak dan hari sudah semakin larut.
Angga membantu Edis berdiri. Ia mengusap wajah gadis itu yang dipenuhi luka memar akibat pukulan. Kalau saja tahu akan terjadi penculikan, ia tak akan berinisiatif membelikan minuman untuk Edis. Ia seharusnya tetap di sana mendampingi Edis sampai tugasnya selesai.
"Edis ...," panggil Pak Agus. Lelaki tua itu berdiri sendiri dengan kondisinya yang cukup parah.
Edis menatap nyalang ke arah sang ayah. Kali ini tidak ada rasa belas kasihan yang terpancar dari sorot matanya. Kemarahannya sudah memuncak, ayah yang diharapkan bisa berubah ternyata semakin parah. Kakaknya sampai hampir menjadi korban lelaki gila bernama Aldo itu.
"Puas sekarang?" bentak Edis dengan nada tinggi. Suaranya sampai menarik perhatian orang-orang yang masih ada di sekitar lokasi.
"Lanjutkan saja berjudi sampai putri-putrimu habis terjual! Ada ya, orang seperti ayah yang tidak pernah bersyukur dengan hidup. Mau ayah buat hidup kami jadi seperti apa lagi, hah!"
Angga memegangi Edis yang emosi. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ayah pacarnya secara langsung. Tidak disangka kalau kejadian yang menimpa Edis ada hubungannya dengan lelaki tua itu.
"Mana ayah tahu kejadiannya akan seperti ini, Edis! Ayah kira ia hanya akan berurusan dengan ayah saja. Tapi, dia memaksa ingin bertemu dengan anak ayah. Karena kakakmu sudah menikah, jadi terpaksa ayah memberitahukan tentangmu." Pak Agus tampak tertunduk menyesali perbuatannya.
Sementara, Edis masih tidak habis pikir jika ayahnya berencana untuk memberikannya kepada lelaki gila itu. Herannya lagi, ternyata di lelaki gila begitu terobsesi dengan kakaknya.
"Antar aku pulang, Kak!" ucap Edis lirih.
Angga hanya mengangguk. Ia membantu Edis berjalan karena kaki wanita itu terkilir akibat perbuatan Aldo.
Sementara, Pak Agus tidak bisa berkata-kata. Putri bungsunya kini juga telah meninggalkannya begitu saja. Tidak ada lagi yang membela atau membenarkan perbuatannya.
"Permisi ... Kakakku dimana?" tanya Edis kepada Zack dan seorang polisi yang tengah bercakap-cakap.
Zack sejenak terpaku memperhatikan wajah wanita yang cukup mirip dengan Retha. Meskipun penampilannya sangat berantakan dan penuh luka, gadis itu tetap terlihat cantik seperti versi remajanya Retha. Saat tatapannya beralih pada Angga, raut wajahnya berubah kecut. Sebelum memulai, ia sudah kalah lebih dulu oleh pemuda cecunguk itu.
"Kakakmu sudah dibawa Bara ke rumah sakit. Sepertinya ia mengalami pendarahan," ucap Zack.
__ADS_1
"Apa?" Edis syok mendengar perkataan Zack. Ia jadi khawatir dengan kondisi sang kakak yang kini tengah hamil muda. Ia cemas akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap calon bayi sang kakak.
"Kalian juga cepat ke rumah sakit dan obati luka kalian!" perintah Zack.
"Em, itu ...." Angga seperti ingin mengucapkan sesuatu namun terkesan sungkan mengatakannya.
"Kenapa?" tanya Zack dengan nada ketus. Ia kesal juga dengan keberadaan Angga di sana.
"Saya tidak bisa menyetir, Pak. Bisa antar kami ke rumah sakit?" tanya Angga. Ia terlihat tidak enak hati mengatakannya.
"Ck!" Zack sudah menduga jika pemuda itu hanya bisa menjadi beban saja. Namun, mau tidak mau ia juga harus mengurusnya karena ada adik Retha yang terluka juga.
"Maaf, Pak. Apa saya bisa pergi lebih dulu? Anak-anak ini memang sangat merepotkan," ucap Zack kepada kepala polisi yang sejak tadi berdiskusi dengannya. Ia sebenarnya ingin menunggu sampai Aldo ditemukan. Setidaknya ia harus membalaskan dua pukulan yang Aldo berikan kepadanya.
"Silakan, Pak. Biar kami yang melanjutkan pengejaran tersangka. Setelah ada perkembangan informasi, kami pasti akan langsung menghubungi Anda."
"Baik, kalau begitu, kami permisi dulu."
Zack menyalami polisi tersebut seraya berpamitan. Angga dan Edis melakukan hal yang sama.
Setibanya di halaman depan, mereka menyaksikan ada banyak polisi yang sedang menggelandang anak buah Aldo ke dalam mobil tahanan.
"Cepat masuk!" pinta Zack.
Angga dan Edis yang awalnya teebengong-bengong melihat kejadian itu langsung buyar pikirannya. Mereka langsung menaki mobil milik Zack.
***
Sambil menunggu update, kalian bisa mampir ke karya teman author ya 😘
Judul: 336 Hours
__ADS_1
Author: Triple.1