
21+
Krak! Krak! Krak!
Retha membuka matanya. Ia seperti mendengar suara-suara dari arah luar. Sejak tadi ia tidak bisa tidur, Bara juga belum menghubunginya sama sekali. Ia yang sudah biasa tinggal sendiri menjadi kesepian setelah pulang dari bulan madu. Biasanya ada tubuh yang bisa ia peluk di sampingnya. Saat ini, ranjangnya jadi sepi.
Semakin ia cermati, suara gaduh di luar semakin jelas terdengar. Ia jadi merinding. Kemungkinannya ada dua, kalau bukan hantu pasti pencuri. Bara pasti menginap di rumah orang tuanya karena ada Kenzo di sana.
Sebenarnya Retha ingin mengabaikan suara-suara yang mengganggunya. Namun, semakin lama suara itu terdengar semakin jelas di telinganya. Terpaksa ia bangkit untuk mengecek sendiri.
Ia berjalan membuka kunci pintu kamarnya. Sebelum pintu terbuka, ia menghela napas. Dilihatnya sekeliling yang cukup remang karena lampu telah ia nyalakan. Suara gaduh sepertinya sudah hilang. Ia menyalakan lampu satu per satu agar ruangan terang.
"Mas Bara!" pekiknya kaget saat mendapati Bara tergeletak di lantai ruang tengah. Segera ia berlari mendekati sang suami.
Aroma alkohol menyeruak dari mulutnya. Bara sepertinya sangat mabuk. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Retha seraya membantu memapah Bara agar lelaki itu bisa berdiri.
"Hah! Hahaha ... Apa kamu Retha istriku?" tanya Bara dalam kondisi setengah sadar.
"Siapa lagi kalau bukan, Mas?" Retha memapah suaminya yang cukup berat itu. Ia menuntunnya berjalan dengan pelan-pelan.
Masih menjadi pertanyaan di benaknya mengapa Bara pulang ke rumah dalam kondisi mabuk berat. Untung saja lelaki itu bisa pulang dengan selamat. Bara pergi menyetir mobilnya sendiri.
Retha merebahkan Bara di atas ranjang. Ia bantu melepaskan sepatu yang dikenakan lelaki itu. Kancing kemej milik Bara juga ia buka agar lelaki itu tidak kegerahan.
Tiba-tiba Bara menarik dan memeluknya. "Sayang, kamu jangan pernah meninggalkan aku, ya! Aku sangat mencintaimu. Hehehe ...," ucapnya dengan nada orang mabuk.
__ADS_1
"Iya, Mas. Siapa juga yang mau meninggalkanmu. Tapi, kenapa Mas Bara mabuk begini? Apa yang terjadi di sana? Kenzo mana?" ada banyak pertanyaan yang ingin Retha ketahui dari suaminya.
"Kenzo menginap di sana. Kamu tenang saja." Bara memeluk Retha dengan lebih erat.
"Kamu kenapa mabuk seperti ini, Mas?" tanya Retha lagi.
Bara membalikkan posisi mereka hingga Retha berada di bawahnya. Ia memandangi wajah wanita cantik yang ada di hadapannya, ia belai pipinya. Tatapan matanya terlihat sendu seperti sedang merasa sedih. Namun, beberapa saat kemudian berubah seperti tatapan orang yang sedang bern4fsu.
"Kamu sengaja ya, pakai pakaian s3ksi seperti ini. Kamu ingin menggodaku, hm?" tanya Bara. Ia memperhatikan tubuh istriya berbalut lingerie minim yang memperlihatkan belahan dada serta paha mulusnya.
"Katanya kalau tidur harus pakai yang seperti ini. Mas Bara sudah borong satu lemari sayang kalau nggak dipakai." Retha tidak bermaksud seperti apa yang Bara katakan. Selama bulan madu, ia selalu dipilihkan pakaian tidur yang Bara suka. Sampai akhirnya mereka pulang, kebiasaan itu masih berlanjut. Retha juga tidak tahu kalau ternyata Bara akan pulang.
"Kamu memang istri yang patuh. Aku jadi semakin mencintaimu," ucap Bara bangga.
Retha tak membenci perlakuan Bara kepadanya. Tapi, ia lebih berharap Bara dalam kondisi sadar sepenuhnya saat menggauli dirinya. Apa yang Bara lakukan malam ini jauh berbeda saat bulan madu. Lelaki itu terkesan terburu-buru dan ingin menguasai dirinya, seakan tidak rela ia lepas.
Bara menurunkan ciumannya menyisir sisi wajah Retha seraya memberikan kecupan ringan di telinga yang membuat wanita itu mendes4h merdu. Ia ciumi lekuk lehernya hingga sampai ke area dua bukit kembar yang padat dan membuatnya sejenak terpaku.
"Mas, pelan-pelan ...," ucap Retha saat ia mulai tidak nyaman payvd4ranya dihis4p kuat oleh Bara hingga menimbulkan rasa perih.
"Oh, Maaf, Sayang ... aku terlalu gemas padamu." Bara menghentikan perbuatannya. Ia mengecup dahi Retha sebagai tanda permintaan maaf.
Tak puas membuat istrinya setengah tel4njang, Bara kembali menarik lingerie Retha hingga lolos ke bawah. Kain segitiga yang tersisa juga tak luput dari tarikannya. Pemandangan indah tubuh sang istri membuatnya tidak sabaran. Ia turut melepaskan satu per satu pakaiannya di hadapan Retha, memamerkan tubuhnya yang gagah. Tak lupa miliknya juga telah berdiri sempurna untuk melaksanakan tugas rumah tangga.
Tanpa berbasa-basi lagi, Bara kembali memagut bibir Retha. Tangan kanannya mengarahkan miliknya ke pintu yang benar agar tidak tersesat. Ia semakin menggila saat merasakan miliknya perlahan memasuki rongga berdenyut yang mampu memijiti miliknya. Sensasinya membuat ia lupa diri dan terbang ke angkasa.
__ADS_1
Bara yang tadinya terlihat sangat mabuk entah kenapa sangat lihai memainkan miliknya hingga membuat Retha tak henti mengerang.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Bara di sela-sela aktivitasnya menggempur sang istri. "Jawab, Sayang ... aku ingin tahu," desaknya.
"Iya, Mas ... Uhhh ...." Retha terpaksa menjawab sembari menahan des4hannya. Bara selalu bisa memberinya kejutan. Lelaki itu bisa bermain sangat lembut, terkadang mesvm, juga bisa bermain sedikit kasar dari biasanya. Seakan hari ini bukanlah Bara yang biasanya.
"Aku akan membuatmu ketagihan, Sayang ... jangan pernah berusaha lari dariku," bisik Bara.
Retha sudah menggila. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang suaminya maksud. Gerakan yang Bara buat membuatnya kewalahan. Lelaki itu sangat pandai memainkan ritme permainan hingga sesekali dibuat merengek untuk bisa dipuaskan."
"Sayang, apa kamu mencintaiku?" Bara memeluk tubuh Retha yang masih menyatu dengannya.
"Mas Bara kenapa harus bertanya? Lanjutkan ...," rengeknya. Ia tak mau Bara menghentikan gerakannya sementara ia sebentar lagi akan mencapai pelepasan.
"Jawab dulu, Sayang. Aku tidak akan bergerak kalau kamu belum menjawabnya!" paksa Bara.
"Iya, Mas ... aku mencintaimu," jawab Retha. Ia merasa Bara menjadi sedikit aneh saat mabuk.
"Terima kasih, Sayang, sudah mencintai dan menerimaku. Jangan pernah meninggalkan aku, Retha ... apapun yang terjadi, bertahanlah di sisiku selamanya."
Bara kembali mencium bibir Retha. Ia gerakkan kembali miliknya hingga membuat sang istri menggelinj4ng hebat. Istrinya begitu puas mendapatkan pelepasannya sampai tubuhnya melemas tak berdaya.
Milik Bara masih berada di dalam belum terpuaskan. Perlahan ia membali menggerakkan miliknya menyusul pelepasan sang istri hingg tubuhnya limbung di samping Retha. Bara langsung tertidur setelah menyelesaikan sesi bercintanya yang lumayan membuat situasi menjadi panas.
Retha masih membuka mata. Dipandanginya sosok suami yang akhirnya tertidur pulas di sebelahnya. Ia semakin bertanya-tanya, ada apa dengan Bara sebenarnya?
__ADS_1