Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Cemburu


__ADS_3

"Aku ingin dalam minggu ini area ruang terbuka yang berada di dekat pantai sudah mulai dikerjakan," ucap Bara kepada sekertarisnya.


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan."


"Zack, kamu awasi pembangunan hotel. Selidiki juga kejadian kecelakaan waktu itu. Apa memang ada yang ingin mencelakai aku atau ayahmu."


"Oke, Bar. Serahkan saja semuanya padaku." Zack menepuk dadanya dengan sombong.


"Bara menoleh ke sekeliling mencari keberadaan Retha. Wanita itu tidak terlihat ada di sana padahal sudah ia ingatkan agar tidak kemana-mana.


"Sepertinya asisten Anda sedang pergi, Pak. Apa saya saja yang mengantar Anda kembali ke hotel?" tanya Pak Rona.


"Retha ada di sebelah sana, Bar!" seru Zack sembari menunjuk ke sudut seberang.


Terbersit rasa kesal di hati Bara mengingat perintahnya diabaikan begitu saja oleh wanita itu. Bahkan, ia tampak sedang tertawa bahagia bersama seorang lelaki di sampingnya. Keduanya terlihat memiliki kedekatan sampai bisa saling berpegangan tangan.


"Ternyata Retha sudah punya pacar, ya? Pacarnya cleaning service?"


Bara melonggarkan dasinya secara kasar. Tiba-tiba udara di sekitarnya terasa sangat panas. Kali ini ia sangat marah, sudah berbaik hati menolong wanita itu, hanya memberikan tugas sederhana, tapi malah orangnya sibuk pacaran sampai ia diabaikan.


"Retha!" teriak Zack.


Retha yang mendengar seruan Zack langsung menoleh. Terlihat ia buru-buru berlari menghampiri Bara. Saking asyiknya ngobrol dengan teman lama ia sampai lupa tugasnya.


"Maaf, Pak." ucap Retha dengan raut wajah sungkan. Ia segera menggantikan posisi Zack untuk mendorong Bara.


"Pak Rona, Zack, aku pulang duluan," pamit Bara yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Oke, Bar. Laporan yang kamu minta nanti akan aku kirim ke emailmu. Istirahat yang banyak!"


Retha mendorong kursi roda Bara. Ia menundukkan kepala kepada kedua lelaki itu seraya berpamitan. Ia jadi tidak enak hati karena telat kembali ke posisinya ketika Bara telah selesai melakukan rapatnya.

__ADS_1


Selama perjalanan dari kantor ke hotel yang letaknya bersebelahan, Bara tak mengatakan apapun. Dia hanya diam membiarkan Retha mendorong kursi rodanya samlai akhirnya mereka kembali ke kamar hotel.


"Apa Bapak marah? Saya sebenarnya tidak pergi kemana-mana selama Bapak rapat." Retha menutup kembali pintu kamar hotel.


Saat berbalik, Bara sudah turun dari kursi rodanya, berdiri menggunakan tongkat penyangganya. Tatapan matanya menyiratkan kemarahan, diamnya menjadi begitu menyeramkan untuk Retha.


Retha tersenyum kaku, bingung ingin mengatakan apa kepada bosnya. Ia tahu Bara sedang marah dan penjelasan apapun sepertinya akan percuma. "Tadi ... saya bertemu dengan teman SMP saya, Pak. Kami hanya ngobrol sebentar karena sudah lama tidak bertemu," ucapnya.


"Kelihatannya dulu kalian akrab, ya?" tanya Bara.


"Bisa dibilang begitu, Pak. Kami pernah saling menyukai, tapi tidak sampai pacaran. Kami hanya berteman sampai lulus sekolah karena saya harus pindah."


"Dulu dia banyak membantu saat saya ada kesulitan di sekolah. Waktu tadi bertemu dengannya lagi, saya sangat senang bisa mengucapkan terima kasih secara langsung."


Bara berbalik meninggalkan Retha seolah ia tidak tertarik lagi untuk mendengarkan cerita wanita itu.


"Bapak mau berbaring di ranjang? Biar saya bantu!" cepat-cepat Retha bergerak memegangi tangan bara.


Brak!


"Apa karena kondisiku seperti ini kamu jadi bisa bersikap seenaknya?" tanyanya dengan sorot mata penuh amarah.


Retha cukup shok. Kedua tangannya ditahan begitu kuat oleh Bara. "Mm maksud Bapak apa?" ia mencoba berkelit.


"Apa menunggu satu jam terlalu lama untukmu?" Bara kembali menekankan pertanyaannya.


"Saya minta maaf, Pak. Kalau membuat Bapak marah." Melihat raut kemarahan di wajah Bara membuatnya takut.


"Saya tidak membayarmu untuk bernostalgia dengan cinta pertamamu!" bentak Bara seakan kemarahannya terluapkan semua.


Melihat wanita yang terbaring di bawahnya semakin membuatnya emosi. Apalagi mengingat momen wanita itu bisa tertawa lepas dengan cinta pertamanya. Hatinya terasa sakit melihatnya dekat dengan lelaki lain. Seketika keegoisannya mengusai, ingin memiliki wanita itu seutuhnya.

__ADS_1


"Pak!" Retha berusaha menghindar saat Bara berusaha mencium bibirnya.


Lelaki itu tiba-tiba memilik kekuatan yang sangat besar sampai ia merasa tidak berdaya di bawah tubuhnya. Kedua tangannya ditahan dengan kuat sementara bibir hangat lelaki itu mulai menyisir area pipi dan lehernya dengan penuh n4fsu.


"Hngg ... Pak!" Retha menahan sakitnya gigitan yang diberikan Bara di area lehernya. Ia tidak menyangka lelaki yang selalu bersikap biasa bisa berbuat agresif padanya.


"Aku tidak peduli kamu mau punya gebetan atau pacar. Selama seminggu ini saya sudah membayarmu dan kamu harus mematuhi perintah saya." Bara kembali menatapnya tajam menandakan keseriusan ucapannya.


Lelaki itu kembali mendaratkan ciuman di bibirnya. Kali ini Retha tidak menolak karena takut Bara akan semakin marah. Ia hanya berusaha mengikuti setiap kecupan yang diberikan kepadanya. Retha tak memiliki pengalaman berciuman sebelumnya. Bahkan hanya dengan ciuman itu napasnya sampai tersengal-sengal.


Semakin lama ciuman yang Bara berikan kian mendalam. Ketika lidah mereka mulai bertautan, ada gelayar aneh yang mulai menjalar di dalam tubuhnya. Seakan ia ikut terlena dengan ciumannya. Retha juga merasakan pergerakan tangan Bara yang mulai mengusap area perutnya. Rabaan lembut itu semakin naik hingga masuk ke dalam pembungkus dadanya. Ia masih berusaha mentolerir perbuatan Bara yang semakin berlebihan. Hingga akhirnya ia merasa tidak kuat untuk menahannya.


Bruk!


"Ah!" pekik Bara yang baru saja terjatuh dari atas kasur akibat didorong oleh Retha. Tangannya yang baru mulai sembuh kembali terasa sakit.


Retha membelalakkan mata. Reflek ia turun membantu Bara yang kesakitan di bawah.


"Bukankah ini yang kamu mau? Kamu ingin saya celaka dan tidak sembuh-sembuh, kan?" Bara menepis tanga Retha yang hendak membantunya.


"Itu karena Bapak yang keterlaluan memegang-megang saya," protes Retha. Ia masih merinding mengingat p4yud4ranya diraba-raba.


"Bukankah kamu di sini memang untuk menyenangkan orang yang bersedia membayarmu?"


Retha menundukkan kepalanya. "Bapak kenapa sih? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan kalau pekerjaan saya tidak akan seperti itu?"


"Benar! Saya yang mengatakannya seperti itu. Tapi, apa kamu mendengarkanku? Apa yang saya minta dan apa yang kamu lakukan? Perintah sesederhana itu saja kamu menyepelekannya? Apa mungkin kamu berharap benar-benar melayani saya seperti tujuan awalmu datang ke sini?"


"Pak ...." Retha berusaha merajuk. Bara seharusnya bukan orang yang egois seperti itu. Dia tahu Bara orang yang baik. Entah mengapa hanya karena masalah sepele seperti itu bisa mengubahnya menjadi angkuh dan pemaksa.


"Sepertinya memang kamu sedang menunggu ketegasan saya dalam bersikap. Pulanglah sekarang ke rumahmu!" usir Bara.

__ADS_1


Retha menjadi cemas. Jika Bara marah, ia pasti akan melaporkannya kepada pihak yayasan. Artinya, dia harus siap sebagai seorang pengangguran.


*****


__ADS_2