Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Wanita Asing di Rumah Mertua


__ADS_3

"Kok kamu mau buru-buru pergi? Katanya acara jam lima?" tanya Ira sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Yoga juga telah mandi dan mengenakan pakaian ganti yang lebih rapi. "Aku ada urusan sebentar dengan seseorang."


Ira menyelesaikan merapikan rambut. Ia bangkit dari tempatnya berjalan ke arah Yoga seraya memeluk lelaki itu dari belakang. Rasanya ia belum bisa jauh-jauh dari Yoga. "Tapi, aku masih mau bersamamu ...," rengeknya.


"Memang semalam masih kurang?"


"Masih ... Aku mau kamu di sini terus setiap hari."


"Aku sudah berapa hari menginap di rumahmu, Ira. Setidaknya hari ini aku pulang dulu. Mungkin hari rabu aku akan menginap lagi di sini."


"Ahhh ... Rabu terlalu lama!" rengek Ira lagi.


Yoga hanya mengembangkan senyum. "Aku pergi dulu, ya! Sampai jumpa besok," ucap Yoga seraya memberikan kecupan mesra di dahi Ira. Ia segera pergi setelah berpamitan.


Jam dua siang Yoga sudah pergi meninggalkan rumah Ira. Katanya acara di rumah Yoga jam lima, tapi lelaki itu buru-buru pergi karena ada urusan. Ira merasa sedikit kesal. Selain karena ditinggal pergi Yoga, juga karena wanita yang bernama Citra masih memiliki tempat di hati Yoga dan keluarga Yoga.


"Kapan sih wanita itu mati!" umpat Ira sembari menatap dirinya di depan cermin.


Usai mandi dan berdandan, ia merasa jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan Citra. Seharusnya Yoga fokus mencintainya saja dan melupakan wanita yang bahkan tidak bisa memberikan keturunan.


"Dasar wanita mandul!" gerutunya lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia jika masih bertahan dengan Yoga," ucapnya sembari menyeringai.


***


"Terima kasih, Pak!" Citra memberikan sejumlah yang kepada sopir taksi yang mengantarnya. Ia sengaja berhenti di depan pintu masuk perumahan mertuanya sesuai permintaan Yoga. Suaminya menyuruh dia menunggunya di sana agar bisa berpura-pura datang satu mobil dengannya.


Bagaimanapun juga, Yoga ikut menyembunyikan kondisi rumah tangga mereka dari keluarganya. Ia akan menampilkan kesan harmonis seperti biasa.


Citra menyebrang jalan saat menemukan mobil Yoga terparkir di sana. Ia langsung naik ke bagian kursi penumpang di samping sopir.

__ADS_1


"Kamu dari mana?" tanya Yoga.


"Ah, aku tadi siang ke panti asuhan sekalian datang ke sini pulangnya," ucap Citra seraya memasang sabuk pengaman.


Yoga menjalankan kembali mobilnya setelah Citra naik ke dalam. Hubungan mereka masih sangat kaku seperti biasa.


"Jangan sampai nanti keluargaku tahu apa yang terjadi di antara kita," ucap Yoga.


"Iya, Mas. Aku tidak akan bilang apa-apa."


Sesuai pengalaman Citra, tidak ada gunanya juga bercerita kepada mereka. Bukannya mendapat simpati, ia bisa terkena cemoohan. Ibu mertua dan iparnya hanya akan membela Yoga terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah.


Sesampainya di rumah Ibu Yanti, Citra dan Yoga berjalan bergandengan tangan memasuki halaman rumah.


"Oh, kalian sudah datang ...," sambut Ibu Yanti dengan wajah sumringah.


Wanita itu memeluk putranya dengan hangat. Sementara, ia hanya membiarkan Citra mencium tangannya dan kembali mengabaikannya.


"Siapa, Bu? Fira, kan? Atau Tanti sedang liburan di rumah."


"Aku mana bisa membantu Ibu, Mas. Anakku rewel kalau ditinggal." Fira turun dari lantai atas membawa seorang bayi yang berusia sekitar satu tahun lebih. Ia melirik sekilas ke arah Citra lalu membuang pangannya. "Pokoknya, di dapur ada bidadari baik hati," ucapnya.


Ibu Yanti ikut-ikutan memandang sinis ke arah Citra. Tentu saja Citra merasa dirinya sedang diperhatikan. Ia hanya berpura-pura tidak tahu untuk menenangkan hatinya. Baru datang saja ia sudah disambut dengan cara yang tidak baik.


"Tante ... Coba cicipi ini sebentar ...."


Tiba-tiba dari arah dapur muncul Ira mengenakan celemek sembari memegang sendok sayur. Citra dan Yoga terkejut, mereka benar-benar tidak tahu jika Ira ada di sana.


"Oh, Yoga akhirnya sudah pulang," ucap Ira sembari tersenyum. Wanita itu berjalan mendekati Ibu Yanti dan memintanya untuk mencicipi rasa masakannya.


"Ini enak sekali, Ira," puji Yanti.

__ADS_1


"Ira, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Yoga kaget.


"Memangnya kenapa, Yoga? Ira juga sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri, masa main tidak boleh. Ibu malah senang Ira mau main lagi ke rumah ini," sahut Ibu Yanti.


"Ira sekarang jadi makin cantik, ya! Pekerjaan juga mapan, sudah punya rumah dan mobil sendiri. Aku jadi iri." Fira ikut-ikutan memuji Ira.


"Tadi Ira memberikan Ibu dan Fira tas merk Ermes, Yoga. Dia baik sekali. Padahal menantuku sendiri saja belum pernah memberikan apa-apa untuk ibu mertuanya."


"Jangankan Ibu, anakku lahir saja tidak diberi kado apa-apa."


Baik Yanti maupun Fira sangat kompak menyindir Citra.


Ira tersenyum. Ia merasa telah menang karena berhasil memenangkan hati ibu dan adik Yoga.


Saat itu, seharusnya Citra menangis harga dirinya telah direndahkan. Seorang wanita asing yang tiba-tiba datang ke keluarga Yoga langsung mampu merebut perhatian dan kasih sayang mereka. Citra yang telah tiga tahun berusaha menjadi seorang istri yang sabar dan pengertian sama sekali tidak dihargai di sana.


Apa yang mertua dan iparnya ucapkan tidak benar sama sekali. Ia sering membelikan hadiah untuk mereka, meskipun mungkin nominalnya masih kalah jauh dari apa yang Ira berikan. Namun, setiap kali ia memberikan hadiah, mereka selalu bilang hadiah itu dari Yoga, bukan dari dirinya. Alasannya, ia menggunakan uang Yoga untuk membelinya. Padahal, menurut Citra, istri juga memiliki hak atas uang suami.


Yanti dan Fira seakan masih tidak terima jika Yoga menafkahi dirinya. Mereka berpikir untuk apa Yoga membuang-buang uang untuk anak orang lain. Padahal Citra sudah mengizinkan suaminya memberikan uang untuk ibu maupun saudara perempuannya. Ia sekedar diberi jatah bulanan oleh Yoga untuk membayar tagihan listrik dan air, serta biaya belanja kebutuhan sehari-hari.


"Ayo, kita makan malam sekarang saja. Kita cicipi bersama hasil masakan Ira, pasti enak banget!" ajak Yanti.


"Beruntung banget yang bisa menikahi Ira. Istri idaman, bisa kerja, masak juga jago."


"Saking pilih-pilihnya sampai sekarang belum menikah juga. Pasti selera Ira tinggi."


"Ibu bisa saja!" Ira tersipu malu mendengar pujian dari ibu Yoga.


Mereka berlima makan bersama dalam satu meja lingkar yang besar. Ayah Yoga dan suami Fira sedang berada di luar kota, sehingga tidak bisa turut serta. Tanti, anak bungsu keluarga itu juga ada di luar kota untuk berkuliah.


Suasana makan malam berlangsung penuh canda tawa riang, kecuali untuk Citra. Mereka lebih memilih mengajak Ira bicara. Keberadaan dirinya di sana seakan tidak dianggap. Bahkan, Yiga juga tidak melakukan apa-apa melihat istrinya diperlakukan demikian.

__ADS_1


__ADS_2