
"Maaf, Ma. Bukannya tidak mau menerima niat baik Mama, tapi ... Saldo di rekening yang Mas Bara berikan saja masih utuh dan bingung mau digunakan untuk apa." Retha menyunggingkan senyuman kaku.
Ratih dan Mikha saling berpandangan. Keduanya seakan sama-sama terkejut dengan sikap anggota baru di keluarga mereka itu. Kalau Silvia sudah pasti akan langsung disambar. Bahkan, wanita seperti Silvia tidak akan segan mengatakan semua keburukan suami di hadapan mertuanya agar sang mertua merasa bersalah.
"Memangnya kamu punya uang berapa di rekening yang Bara berikan?" tanya Ratih.
"Masih ada lima ratus juta lebih, Ma."
Ratih sampai tercengang mendengarnya. "Itu sedikit sekali ... Kamu bawa saja kartu kredit mama. Bebas mau kamu belikan apa saja sesuka kamu!" Ratih kembali memaksa Retha menerima pemberiannya. Ia tidak ingin istri Bara terlunta-lunta selama di penjara.
"Nanti saja, Ma. Kalau uangku sudah habis pasti akan minta." Retha masih menolaknya.
"Lima ratus juta itu buat beli satu tas juga kurang, Retha. Kakakku juga nggak tahu kapan akan bebas. Apalagi kamu sedang hamil, butuh banyak biaya untuk pemeriksaan kesehatan juga."
"Apa yang Mikha katakan itu benar. Walaupun Bara sedang susah, kamu jangan ikut-ikutan jadi susah."
"Aku tidak merasa susah, Ma. Semua sudah dicukupi oleh Mas Bara. Bahkan untuk kebutuhan dapur sudah dibayar langganan bahan masakan selama satu tahun ke pihak apartemen. Paling hanya perlu membeli kebutuhan-kebutuhan kecil saja yang tidak memerlukan banyak uang. Jadi, untuk beberapa bulan ke depan masih aman, Ma."
"Ya sudah terserah kamu saja. Mama juga berharap Bara segera bisa bebas karena Mama tahu dia pasti tidak bersalah."
"Oh, iya! Katanya nanti kamu mau menjenguk Kak Bara, kan?" tanya Mikha.
Retha mengangguk. "Kamu mau ikut?" tanya Retha.
"Tidak, aku harus menjemput anak-anak pulang sekolah nanti."
"Jangan lupa bawakan makanan kesukaan untuk Bara. Mama juga tidak bisa ikut, mau menemani Papa ke acara nanti malam."
"Sudah aku siapkan di meja makan tadi, Ma. Nanti biar Retha tinggal membawanya," ucap Mikha.
"Bara itu suka sekali ayam bakar madu dan sambal teri. Nanti kamu berikan kepadanya, ya!" pinta Ratih.
__ADS_1
"Iya, Ma."
"Aku juga sudah mengirimkan 100 box makanan untuk teman satu sel Kak Bara dan petugas penjaga, Ma," kata Mikha.
"Baguslah! Kalau tidak begitu nanti takutnya ada yang iri dengan Bara. Mama takut sendiri dengan kehidupan Bara di sana."
"Kak Bara memang orangnya nekad, Ma. Tidak peduli usaha yang sudah lima tahun lebih dirintis bisa hancur gara-gara keras kepalanya."
Retha tertegun mendengar perkataan Mikha. Biaya yang dikeluarkan untuk sekali menjenguk suaminya saja sangat fantastis. Sepertinya ia tidak akan mengatakan kepada mertuanya kalau mau berkunjung. Mereka pasti akan merasa kerepotan untuk mempersiapkan banyak hal. Padahal, kalau Retha datang sendiri, ia tidak perlu membawa macam-macam, hanya sekedar makanan untuk Bara seperti para pengunjung lainnya.
"Ah, Mama hampir lupa untuk memberikan ini untukmu." Ratih menyodorkan sebuah paper bag berukuran sedang kepada Retha.
"Apa ini, Ma?" tanya Retha.
"Buka saja!"
Retha menuruti kemauan ibu mertuanya. Di dalam paperbag tersebut ia menemukan berbagai kapsul yang entah untuk apa fungsinya.
"Kalau diajak main di kamar oleh Bara, bilang hati-hati saja, takutnya terjadi apa-apa dengan bayimu."
"Ihh ... Mama nggak perlu bilang seperti itu, Retha pasti sudah tahu!" seloroh Mikha.
Wajah Retha langsung memerah mendengar wejangan sang mertua. Apalagi adik iparnya juga menertawakan perbincangan mereka.
"Takutnya Bara kebablasan. Dia kan jarang ketemu istrinya."
"Hahaha ... Sudah, Retha. Jangan dengarkan Mama. Kalian lakukan saja apapun terserah kalian. Memang, Kak Bara bilang ingin minta kamar lagi. Paling nanti kamu datang ke sana dikurung lagi oleh Kakakku."
Retha berpamitan kepada sang mertua setelah perbincangan absurb tersebut berakhir. Ia membawa serta makanan yang telah disiapkan untuk Bara. Sopir dan bodyguard Retha kembali ikut mengantarkannya ke tempat Bara ditahan.
***
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu diam saja dan mengaku bersalah. Paling juga masa hukumanmu hanya enam bulan," ucap Tuan Rudy sembari menghisap cerutunya.
Bara hanya mengulaskan senyuman mendengarkan permintaan lelaki tua tersebut.
Tuan Rudy, ayah Thea sengaja menemui Bara di ruangan khusus untuk membahas kasus di proyek yang sedang mereka kerjakan. Ia ingin Bara menyerah pada kasus tersebut agar masalah cepat terselesaikan.
"Kenapa? Apa Anda terlibat dalam masalah ini?" tanya Bara.
"Darimana aku bisa terlibat sementara posisiku hanya seorang investor? Putriku juga mengurusi bagian pembangunan hotel dan restoran, tidak menyentuh ranah tentang pembebasan lahan. Aku hanya tidak ingin proyek terhenti lama dan mangkrak. Banyak orang yang akan dirugikan karena kekacauan ini."
"Kehilangan seluruh harta sudah menjadi resikomu sebagai seorang pengusaha. Itu hal yang wajar, apalagi kamu masih muda dan baru dalam dunia bisnis. Kesalahan anak buahmu merupakan tanggung jawabmu. Kamu bisa memulainya kembali dari awal."
"Aku juga bisa membantumu. Tentu saja kalau kamu mau menikah dengan putriku."
"Hahaha ...." Bara tak bisa menahan tawanya. Permintaan Tuan Rudy terdengar konyol. "Apa putri Anda benar-benar tidak ada yang mau? Kenapa harus menikah denganku?" tanyanya.
"Tidak ada lelaki lain yang sepertinya menarik di mata Thea. Dia sering membicarakan tentangmu. Sebagai ayah yang sangat menyayanginya, di usianya yang tak lagi muda, aku memang ingin dia segera menikah dengan lelaki pilihannya."
"Sebenarnya apa yang Anda harapkan dari sebuah pernikahan? Kenapa Anda menganggap seolah-olah pernikahan seperti sebuah bisnis?" Bara melemparkan tatapan seriusnya. Ia juga melirik ke arah empat orang bodyguard yang berdiri di belakang Tuan Rudy.
"Dalam hidup seorang pebisnis, apapun bisa dijadikan bisnis, sekalipun itu pernikahan."
"Tapi maaf, aku tidak tertarik," ucap Bara tegas.
Tuan Rudy menyeringai. Baru kali ini ada orang yang berani menolak keinginannya. "Kamu memang sepertinya menyukai jalan yang susah dilalui. Padahal aku baru saja menyarankan jalan tol kepadamu."
"Aku bisa mengatasi masalah ini sendiri. Aku bukan anak kecil yang sedikit-sedikit suka mengadu saat ada masalah kepada orang tuanya."
Tuan Rudy menghela napas. Ia berusaha untuk tetap bersikap tenang dan menjaga kewibawaannya. "Kamu terlalu polos pemikirannya. Untuk membuktikan kamu tidak bersalah, ada pihak lain yang harus dipersalahkan. Kita lihat saja apakah sampai akhir kamu akan bertahan dengan sikap keras kepalamu."
Tuan Rudy bersama para bodyguarnya meninggalkan Bara sendiri di ruangan tersebut. Kedatangan Tuan Rudy semakin memperkuat dugaan Bara akan keterlibatan lelaki tersebut dalam kasus yang menimpanya.
__ADS_1