
"Ibu Hana ...." Dengan mata berkaca-kaca, Citra memeluk wanita yang telah ia anggap sebagai orang tua sendiri.
Ibu Hana mengelus punggung Citra. Anak asuhnya itu baru saja menyelesaikan proses pernikahan dan pencatatannya dengan Hendry. Citra ingin berpamitan karena Hendry memintanya ikut pindah ke tempat tinggal Hendry.
"Citra, Ibu yakin Hendry lelaki yang baik dan bisa membahagiakanmu," ucap Ibu Hana.
Beberapa hari sebelumnya, Citra mengungkapkan kegundahan hatinya krpada Ibu Hana. Ia tidak yakin dengan keputusannya untuk menerima Hendry sebagai suaminya. Ia takut pernikahannya akan berakhir sama dengan sebelumnya.
Citra baru saja mulai menata hati setelah perceraian. Kabar kehamilan yang terjadi dengan cara di luar nalar membuatnya benar-benar terkejut. Demi bayi yang kini ada di kandungannya, ia terpaksa menerima lamaran Hendry.
Orang mungkin akan memandangnya sebagai wanita yang cepat move on. Kenyataannya, ia menikah tanpa rasa cinta. Ia bahkan seperti tidak percaya lagi dengan istilah cinta antara lelaki dan wanita.
Rasanya berat meninggalkan panti asuhan itu. Apalagi ia harus tinggal bersama orang yang menyebalkan sekaligus atasan di tempatnya bekerja.
"Mantan suamimu saja sudah mendapatkan kebahagiaannya, kamu juga harus meraih kebahagiaanmu sendiri. Dengan kehamilanmu, kamu sudah membuktikan bahwa dirimu tidak serendah yang mereka pernah katakan. Apalagi sekarang kamu mendapatkan seorang lelaki yang menurut Ibu jauh lebih baik dari Yoga."
Apa yang Ibu Hana katakan ada benarnya. Bahkan sebelum surat perceraian mereka keluar, Yoga lebih dulu menggelar prosesi pernikahan megah dengan Ira. Pesta yang lebih mewah dari pestanya dulu, seakan pernikahan Yoga yang kedua mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Ia hanya bisa melihat potret-potret yang dibagikan Fira di akun media sosial dengan perasaan hancur.
Citra merasa saatnya sekarang berpaling dari masa lalu yang kelam dan menyakitkan. Perselingkuhan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dimaafkan.
Ibu Hana menggenggam tangan Citra, meyakinkannya agar percaya diri. "Kamu pasti bisa melewati semua ini," ucapnya.
"Aku pasti akan kangen dengan suasana di sini, Bu. Rasanya aku sudah nyaman tinggal di sini," kata Citra.
"Kalau sudah terbiasa, kamu pasti akan betah tinggal bersama Hendry. Dari luar saja dia sudah kelihatan lelaki yang baik dan bertanggung jawab."
Citra menghela napas mendengar ucapan Ibu Hana. Menurutnya, boro-boro Hendry itu baik. Yang ada lelaki itu orang yang suka merepotkannya.
Akhirnya, Citra berpamitan dengan Ibu Hana dan anak-anak penghuni panti. Ia meraih tangan Hendry, lelaki yang akan membawanya pergi.
Di dalam mobil, ia masih merasa canggung berdekatan dengan lelaki yang tidak disangka kini telah menjadi suaminya. Lelaki yang selalu menyebalkan baik di masa lalu maupun di masa sekarang, akan menjadi teman satu rumahnya.
__ADS_1
"Kapanpun kamu merindukan tempat ini beritahu aku. Nanti akan aku antarkan kamu ke sini lagi," ucap Hendry seraya menyalakan mesin mobilnya.
Lelaki itu seakan bisa membaca pikirannya bahwa ia masih merasa berat meninggalkan tempat itu.
"Kamu kelihatannya takut begitu mau aku ajak pindah ke rumahku? Kamu jangan khawatir, aku tidak akan menerkammu, aku ini suamimu, bukan harimau," kata Hendry yang sempat melirik ke arah Citra sembari mengemudikan mobilnya.
Mendengar kata-kata Hendry, Citra malah makin takut. Menikah dengan Hendry saja masih belum bisa ia percaya, apalagi sekarang mereka akan tinggal bersama sebagai sepasang suami istri.
"Ah, iya. Berhubung kita pengantin baru, bagaimana kalau kita ambil cuti 2 minggu? Kamu mau aku ajak bulan madu ke mana?" tanya Hendry.
"Pak, jangan lupa kalau kita menikah bukan karena saling mencintai. Mana ada pakai acara bulan madu segala," kata Citra mengingatkan.
Hendry menyunggingkan senyum. Wanita di sebelahnya masih saja terlihat kaku. Ia bahkan sampai harus meminta bantuan Ibu Hana untuk meyakinkan Citra menerima lamarannya.
"Bulan madu tidak harus melakukan hubungan suami istri, kan? Kamu takut sekali kalau mengarah pada hal semacam itu."
Citra bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal semacam itu.
"Kamu mungkin ingin jalan-jalan ke suatu tempat, aku hanya ingin berusaha membuatmu senang. Katanya kalau seorang ibu merasa bahagia, maka anak yang ada di dalam kandungannya juga akan ikut merasa bahagia. Masa kamu hamil masih memikirkan mantan suamimu, padahal ayah dari bayi itu ada di sisimu," protes Hendry.
"Nah ... Kita sudah menikah tapi kamu masih memanggilku 'Pak'? Atasan dan bawaban hanya berlaku di kantor, Citra."
Citra terdiam sesaat. "Lalu saya harus memanggil Bapak apa?" tanyanya.
Hendry tersenyum. "Kamu tentukan saja sendiri. Nanti kalau aku yang minta, memangnya kamu mau menurutinya?"
"Silakan saja Bapak katakan mau saya panggil apa?" Citra terlihat pasrah dengan kemauan Hendry.
"Kalau begitu panggil aku 'Sayang'!" tegas Hendry.
Citra tercengang dengan kemauan Hendry.
__ADS_1
"Kenapa? Katanya terserah aku."
"Apa itu ... Tidak terlalu aneh?" tanya Citra.
"Aneh dari mana? Bukankah pasangan suami istri pasti memberikan panggilan yang romantis? Mari kita membiasakan untuk saling memanggil 'sayang' mulai dari sekarang." Hendry tersenyum lebar.
Setelah satu jam, mobil yang Hendry kendarai sampai di sebuah gedung apartemen yang terkenal cukup mewah di kota itu. Hendry menggandeng tangan Citra dengan mesra memasuki lift yang akan mengantarkan mereka langsung ke unit apartemen.
Saat pintu lift terbuka, Citra langsung bisa melihat unit apartemen yang nantinya akan menjadi tempat tinggal mereka. Apartemen tersebut memiliki space yang sangat luas bahkan lebih luas dan lebih mewah dari rumahnya dulu. Segala fasilitas telah tersedia dan tertata rapi.
"Apa kamu suka?" tanya Hendry.
Citra hanya mengangguk.
"Biar aku antar ke kamar, siapa tahu kamu ingin beristirahat."
Hendry kembali menarik tangan Citra agar mengikutinya menuju ke arah kamar. Lagi-lagi Citra dibuat terkesima dengan ukuran kamar super luas seperti lapangan futsal.
"Apa kamu juga menyukai kamar kita?" tanya Hendry.
Citra menoleh ke arah Hendry dengan tatapan heran. "Kamar kita?"
"Kamu tidak suka?" tanya Hendry lagi.
"Bapak kan sudah sepakat kalau tidak akan ada hubungan fisik di antara kita."
"Ya, tentu saja. Tapi baru ada satu kamar di apartemen ini," kata Hendry. "Lagipula kamu juga tahu sendiri apa penyakitku. Tidak usah khawatir untuk tidur denganku," lanjutnya.
Hendry mendudukkan Citra di atas ranjang. "Beristirahatlah! Aku mau mandi sebentar," pamitnya seraya berjalan ke arah kamar mandi.
Citra menghela napas. Rasanya masih tidak percaya kalau dia sudah menikah lagi. "Apa ini mimpi?" gumannya.
__ADS_1
Malam telah cukup larut. Rasa kantuk sudah mendera dirinya. Ia tatap ranjang besar yang katanya akan menjadi tempat tidur dia dan Hendry. Ada rasa ragu untuk merebahkan diri di sana, apalagi kalau Hendry melanggar kesepakatan mereka.
Namun, rasa kantuk lebih menguasainya. Ia tak tahan lagi untuk merebahkan diri dan memejamkan mata di sana. Malam ini menjadi malam pertamanya tidur di sana.