
"Citra!"
Seruan Lilis membuat Citra kaget. "Ada apa, Lis?" tanya Citra.
"Dari tadi aku ajak ngobrol, kamu nggak dengerin sama sekali, ya?" protes Lilis.
Citra memang tidak tahu apa yang Lilis tadi katakan padanya. Pikirannya sedang ruwet seperti kabel yang berantakan. Ada banyak hal yang dipikirkan, terutama ucapan mertuanya semalam.
"Kamu ada masalah apa? Tidak biasanya seperti ini. Bahkan tadi kamu sempat dimarahi bos karena salah memberikan laporan."
"Ah, iya. Mungkin aku hanya kelelahan saja, Lis. Aku memang sedang kurang fokus," kilahnya. Citra memang tipe wanita yang lebih memilih menyimpan masalahnya sendiri. Ia tidak mau merepotkan orang lain dengan permasalah hidupnya.
Saat jam istirahat kerja ia sengaja mengajak Lilis untuk makan berdua di kafe. Tujuannya ingin membahas hal-hal menyenangkan agar pikirannya bisa dialihkan ke hal lain dari pada terus protes pada permasalahan yang menimpanya. Akan tetapi, ia sendiri malah yang lebih banyak melamun. Otomatis Lilis merasa sia-sia sudah mengeluarkan banyak energi untuk nyerocos hal-hal random dari a sampai z tapi Citra tidak tahu sama sekali apa yang sedang mereka bahas.
"Tidak usah bohong, Cit. Aku tahu kalau kamu sedang ada masalah. Cerita saja padaku, Cit ... kita kan sudah lama berteman," bujuk Lilis.
"Aku baik-baik saja, Lis. Memangnya aku bisa punya masalah apa? Kamu ada-ada saja." Citra kembali berkilah.
"Waktu semalam kamu mengabari mau berangkat kerja denganku, aku sudah ada feeling pasti kamu sedang ada apa-apa."
Tebakan Lilis memang benar. Semalam ia sangat marah kepada Yoga, suaminya. Yoga memang lelaki yang sangat baik, ketulusan cintanya tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, lelaki itu tidak bisa tegas dalam menyikapi suatu masalah. Contohnya semalam. Itu bukan pertama kali Citra berselisih dengan mertuanya.
Seharusnya Yoga sudah tahu kalau dia sudah sangat berusaha keras untuk menghormati ibu mertua seperti orang tua sendiri. Ia selalu berusaha untuk bersikap sopan dan sabar menghadapi sikap mertuanya. Namun, ia seakan menutup mata akan hal tersebut. Dalam pandangan Yoga, permasalahan mereka akan selesai begitu saja esok hari.
Kalau bisa memilih, Citra ingin hidup berdua dengan suaminya jauh dari keluarga mertuanya. Baik ibu mertua maupun ipar, tak ada yang menyukainya. Memang, sejak awal ia sudah dianggap sebagai orang yang berusaha menguasai Yoga, anak kesayangan keluarga.
__ADS_1
Kata-kata kasar yang sejak dulu dilontarkan kepadanya berusaha ia abaikan. Gaji suaminya yang terbilang lumayan, selain diberikan kepada dirinya, juga diberikan kepada ibu mertua dan adik iparnya dengan jumlah yang lebih besar daripada yang ia terima.
Bahkan uang yang ia terima dari sang suami seakan dirinya hanya sebagai tempat singgah sementara, karena uang-uang itu akan segera habis untuk memenuhi segala keperluan mereka sehari-hari. Citra tidak terlalu mempermasalahlan hal itu karena dia juga memiliki gaji sendiri dari hasil pekerjaannya, meskipun besarnya tidak seberapa.
Hal yang menyakitkan yaitu ketika ibu mertua menuduh ia suka menghabiskan uang suami. Padahal ia lebih banyak membeli sesuatu dengan uangnya sendiri juga. Sudah mandiri bisa cari uang sendiri, masih juga dicurigai. Ditambah lagi ia masih belum juga hamil, semakin membuat posisinya terlihat tidak berguna di mata mertua.
"Cit ...."
"Mertuaku bilang mau mencarikan istri kedua untuk Mas Yoga kalau aku tidak bisa hamil, Lis," ucap Citra spontan.
Lilis sampai tercengang mendengarnya. "Apa!" Ia tidak pernah mendapat cerita apapun dari Citra. Ia kira temannya itu baik-baik saja dalam berumah tangga selama ini. "Jangan bercanda kamu, Cit ...."
"Aku serius, Lis. Untuk apa aku bercanda." Hari ini menjadi momen pertama Citra bisa terbuka tentang kehidupannya kepada orang lain.
Lilis yang berharap mendapat curhatan dari temannya, kini malah bingung sendiri ingin memberikan respon apa. "Apa mertuamu sudah gila? Kalian juga baru 3 tahun menikah, masih bisa mengusahakannya." Lilis tidak percaya ada mertua modelan seperti itu.
Lilis ingin terkekeh mendengar alasan tak masuk akal untuk membenci seseorang. Tidak ada orang yang berharap lahir dalam kondisi yatim piatu apalagi sampai tinggal di panti asuhan. Kalay anak bisa memilih, mungkin semua anak akan request bisa terlahir sebagai anak orang kaya. "Lalu, apa tanggapan suamimu?" tanyanya.
"Dia netral. Tidak sepenuhnya memihak aku ataupun memihak mertuaku."
"Menurutku itu bukan netral, tapi takut bersikap tegas. Kalau memang dia mencintaimu, seharusnya dia berani tegas membelamu di depan ibunya sendiri."
Citra menghela napas. Ia meminum jus jeruk yang ada di hadapannya agar pikirannya bisa lebih dingin.
"Apa mungkin suamimu itu tipe anak mama, ya? Masa mau menurut saja kalau ibunya menyuruh sesuatu."
__ADS_1
"Suamiku sangat berbakti kepada orang tuanya, Lis. Itu sikap yang sangat baik daripada anak yang suka membentak orang tuanya."
"Aku tahu, tapi ... jangan lupa kalau dia sudah menikahimu. Itu artinya dia punya tanggung jawab besar untuk membahagiakanmu."
Citra menikah dengan harapan bisa mendapatkan kehangatan dalam keluarga. Sudah sangat lama ia tak merasakan yang namanya kasih sayang orang tua. Sejak kecil dia sudah tinggal di panti asuhan. Ketika masuk ke dalam keluarga Yoga, dia malah dianggap sebagai beban.
"Sepertinya jalan satu-satunya aku harus bisa hamil, Lis. Mungkin setelah aku hamil ibu mertuaku akan langsung menyayangiku," ucap Citra.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, Cit. Semakin kamu merasa terbebani untuk memiliki seorang anak, kamu akan semakin tertekan dan stres dengan keinginanmu itu. Padahal, diberi atau tidak diberi keturunan adalah mutlak kehendak Tuhan yang tak bisa ditolak."
"Aku juga kadang heran, Lis. Pasangan yang sudah lama menikah banyak yang belum dikaruniai anak. Sementara, bocil anak SMP SMA yang baru belajar cinta-cintaan, sekali coba langsung berhasil," guman Citra.
"Mungkin tujuannya sebagai bahan perenungan dan pertimbangan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan perkembangan putra putrinya."
"Hah ... pusing sekali aku." Citra merebahkan kepalanya di atas meja.
"Untuk memastikan kesehatan alat reproduksimu, memang ada baiknya kalau kamu memeriksakan diri ke dokter. Mudah-mudahan kamu bisa segera hamil."
Citra mengembangkan senyum. "Terima kasih, Lis. Kamu sudah mau mendengarkan ocehanku." Beban yang ada di hati Citra seakan berkurang setelah berbincang-bincang dengan Lilis. Ia jadi merasa punya teman untuk berbagi.
"Kalau ada masalah apapun, jangan sungkan untuk cerita padaku, Cit. Aku janji akan menyimpan semua rahasia yang kamu ceritakan."
"Makasih, Lis. Kamu bukan siapa-siapa tapi sangat peduli denganku." Citra jadi terbaru memiliki teman seperti Lilis.
***
__ADS_1
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘