
"Terima kasih ya, Lis!" ucap Citra setelah turun dari motor Lilis.
"Besok mau bareng, nggak? Kalau mau aku jemput." Lilis menawarkan bantuan.
"Nanti aku kabari lagi, ya. Kalau Mas Yoga bisa mengantar, aku bareng Mas Yoga saja. Tapi, pulangnya tetap nebeng kamu, hehehe ...."
"Oke, siap ... aku pulang dulu, ya!" pamit Lilis.
"Hati-hati, Lis!" seru Citra melepas kepergian temannya. Ia melambaikan tangan sampai motor Lilis menghilang dari pandangannya.
Lilis merupakan rekan kerja Citra di perusahaan. Mereka kerap pulang bersama karena rumah yang searah. Keduanya sama-sama bekerja di PT Minasa Persada, perusahaan yang mengolah kepiting sebagai komoditi ekspor. Posisi Citra dan Lilis tidak terlalu tinggi, hanya sebagai staf HRD yang bertugas mengurus gaji karyawan dan mengatur pekerjaan mereka.
Setelah motor Lilis hilang dari pandangannya, ia berbalik membuka gerbang rumahnya dengan perasaan lega. Rasanya sangat lelah bekerja seharian dan ia ingin merebahkan diri sebentar sebelum menyambut kepulangan suaminya.
"Oh, akhirnya menantu sialan ini pulang juga!"
Baru membuka pintu rumah dan melangkah masuk, Citra sudah disambut oleh kehadiran ibu mertuanya, Yanti. Wanita paruh baya itu memasang muka masam melihat kepulangan Citra. Tangannya dilipat di dada dengan sapu di tangannya.
Citra hanya bisa menelan ludah. Sudah pasti ia akan dimarahi lagi. Memang, ini bukan pertama kalinya. Semenjak ia menikah dengan Yoga, semua hal yang dilakukannya selalu salah di mata ibu mertua. Ia harus menahan diri bersabar menerima ocehan demi mempertahankan rumah tangganya. Setelah hidup terpisah dari mertua, Citra masih sering mendapat kunjungan mendadak dari Yanti. Ada saja masalah yang membuat ia seolah-olah dalam posisi sangat bersalah dan tidak berguna dalam keluarga.
"Tiga tahun menikah masih tidak becus menjadi istri! Rumah berantakan, cucian piring menumpuk, kotoran di mana-mana ... dasar pemalas!" ucap Yanti dengan nada sinis.
Citra sudah punya firasat kondisi rumahnya akan dikomentari. Ia kesal kenapa suaminya harus memberikan kode akses rumahnya. Seharusnya hanya dia dan suami yang mengetahui kode akses rumah, sehingga tidak ada orang lain yang seenaknya saja bisa masuk ke dalam rumah tanpa seizin mereka, sekalipun itu ibu mertuanya sendiri. Citra juga ingin memiliki privasi.
__ADS_1
"Saya biasa membereskan setelah pulang kerja, Ibu. Maaf, ya ...." Sebagai menantu yang baik, sebisa mungkin ia tetap berbicara lembut kepada wanita yang telah berjasa melahirkan suaminya.
"Pekerjaan jadi alasan! Wanita lain juga bekerja, bukan hanya dirimu, tapi masih tetap bisa mengurusi rumah dengan baik." Yanti meremehkan Citra. "Kasihan sekali anakku harus menghabiskan uangnya untuk wanita sepertimu yang tidak becus mengurus rumah. Apalagi mengurus suami."
"Saya dan Mas Yoga sudah mendiskusikan hal ini, Bu. Dia juga tidak masalah kalau saya baru bisa membereskan rumah setelah pulang kerja. Kalau saya lelah, beli makanan juga tidak apa-apa."
Yoga merupakan suami yang baik untuk Citra. Lelaki itu penyabar dan mau mendengarkan keluhannya. Bahkan, rengekan Citra meminta pisah rumah akhirnya Yoga turuti demi kewarasan sang istri. Citra sebenarnya tidak membenci ibunya Yoga, hanya saja terkadang sikap yang ditunjukkan oleh sang mertua sangat menyakitkan hati.
"Enak ya, ungkang-ungkang kaki menghabiskan uang suami. Dasarnya pemalas ya pemalas saja ... mana sampai sekarang belum bisa memberikan Yoga anak. Jangan-jangan kamu mandul!"
Mungkin kata-kata hinaan lain lebih bisa Citra tahan. Namun, ketika dihina mandul, ia tidak kuat lagi. "Bu, saya dan Mas Yoga juga sudah berusaha dan berdoa supaya cepat hamil. Kalau Tuhan belum mengizinkan kami punya anak, saya bisa apa?" Air mata Citra jatuh berderai membasahi pipi.
"Tidak usah menangis! Kesannya aku sedang menganiayamu saja. Wanita belum bisa disebut sebagai seorang istri sejati kalau belum bisa melahirkan seorang anak."
"Setidaknya lahirkan seorang anak agar rumah ini tidak terlalu sepi. Kalau perlu, kamu berhenti kerja saja dan fokus untuk hamil. Lama-lama Yoga bisa bosan padamu kalau seperti ini terus."
"Iya, Bu." Air mata yang mengalir di pipi Citra semakin deras. Sudah lelah secara fisik, kini ia juga merasa lelah secara batin.
"Jangan hanya iya iya saja!" bentak Yanti. "Buktikan usahamu, berhenti kerja atau periksa ke dokter, bukan hanya menjawab iya! Dasar menantu mengesalkan!" Amarahnya makin meninggi.
Sejak awal dia memang tidak pernah setuju putranya menikah dengan Citra, gadis yatim piatu dan miskin. Asal-usulnya tidak begitu jelas karena tinggal di panti asuhan. Citra hanya beruntung karena dirinya berpendidikan, bisa berkuliah di kampus yang sama dengan putranya berkat beasiswa.
Yanti menginginkan Yoga setidaknya mendapat pendamping hidup yang sepadan. Keluarga mereka memang bukan keluarga yang sangat kaya, tapi tidak bisa juga disebut miskin. Mereka hidup sangat berkecukupan.
__ADS_1
"Aku membesarkan putraku untuk menjadi orang yang hebat, malah mendapatkan beban sepertimu. Gajinya yang lumayan banyak itu habis sia-sia untuk mengurus anak yatim piatu tidak jelas sepertimu. Muak aku melihat wajahmu."
"Saya masuk kamar dulu, Bu." Citra yang sudah tidak tahan dengan ocehan mertuanya memutuskan untuk berlari masuk ke dalam kamar.
"Dasar menantu tidak tahu diuntung!" gerutu Yanti. Ia melanjutkan kegiatannya menyapu ruang tengah yang kotor.
Penyesalan telah merestui Yoga untuk menikahi Citra selalu hadir di setiap kemarahannya. Ia sangat malu setiap kali disindir tetangga kalau Yoga belum juga punya anak setelah sekian lama menikah. Mereka menghina putranya yang dikatakan lemah dan letoy. Sebagai seorang ibu tentu saja ia merasa sakit hati.
Tidak ada ceritanya dari garis keturunan dia maupun suaminya yang mandul. Yanti anak kedua dari tiga bersaudara, sementara suaminya anak terakhir dari lima bersaudara. Yoga merupakan putra sulung dari tiga bersaudara, adik Yoga dua-duanya wanita.
"Aku yang sudah bersusah payah membesarkannya, Yoga malah harus susah payah mengurus wanita asing yang tidak ada hubungan darah. Keenakan selali jadi Citra. Bisa-bisa dia tambah manja dan ngelunjak kalau aku biarkan," gumam Yanti.
Ia meneruskan kegiatannya menyapu ruang tengah yang masih tampak kotor sambil menggerutu. Ia tak habis pikir kenapa Yoga tidak memarahi istrinya melihat kondisi rumah seberantakan itu. Istri yang tidak bisa mengurus rumah seharusnya ditinggalkan. Masih banyak wanita lain yang lebih cocok dengan Yoga anaknya yang ganteng dan sudah punya pekerjaan tetap.
***
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘
Judul : Pesona Istri yang Terabaikan
Author: The Biggest
__ADS_1