Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Manajer Gila


__ADS_3

"Mas, mungkin beberapa hari ini aku akan pulang larut," ucap Citra sembari menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.


Yoga yang telah selesai berdandan dan mengenakan dasi menghampiri sang istri. Diberikannya kecupan mesra sembari memegangi pundak Citra. "Kok tumben ada lembur segala di kantormu? Apa sedang ada masalah?" tanya Yoga. Istrinya bekerja di bagian HRD yang mengurusi penggajian karyawan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang merupakan hal yang sensitif. Ia takut ada masalah dengan tanggung jawab istrinya.


"Tidak, Mas. Kantorku sedang ada perombakan jajaran kepemimpinan. Beberapa karyawan bahkan manajer ada yang diganti. CEO perusahaan dipegang orang baru, divisiku juga mendapatkan manajer baru. Makanya aku dan staf lain cukup sibuk menyediakan dokumen-dokumen yang diminta." Citra tampak menghela napas. Mendapatkan manajer yang merupakan teman lama bukannya membuat senang malah semakin membuat susah.


"Apa perlu aku jemput setiap pulang? Tapi, aku juga kadang harus lembur," tanya Yoga.


"Tidak usah, Mas. Aku bisa pulang dengan Lilis."


"Kayaknya kamu harus belajar berani bawa motor sendiri. Jadi, kamu tidak perlu terus tergantung dengan Lilis," usul Yoga.


Sebenarnya Citra sudah bisa mengendarai sepeda motor untuk jarak yang dekat. Akan tetapi, kalau harus pergi ke tempat kerja dengan motor, melewati jalanan yang sangat padat kendaraan, ia belum memiliki keberanian. Motor di rumah hanya ia gunakan untuk berkendara di jalanan yang relatif sepi dan jarak dekat saja.


"Lilis sudah seperti saudaraku sendiri, Mas. Dia juga tidak keberatan aku menumpang padanya. Aku juga sering mengisi bensinnya kok, Mas."


"Aku sebenarnya ingin kamu di rumah saja, Sayang. Sudah waktunya kita fokus memikirkan untuk memiliki anak," ucap Yoga.


Citra menjadi murung membahas tentang keturunan lagi. "Mas, bagaimana kalau kita periksa ke rumah sakit bersama? Sekalian konsultasi supaya bisa cepat punya anak," rayu Citra.


Ia sangat berharap sang suami bisa diajak kerjasama. Hingga saat ini belum ada perubahan dalam hubungan mereka. Sang suami masih saja egois hanya memikirkan kesenangannya sendiri tanpa memikirkan rasa trauma setiap kali ia diajak berhubungan. Setiap kali ia ingin berpendapat, Yoga tak pernah mau mendengarkannya.


"Bukankah cukup kamu saja yang periksa? Orang yang akan hamil itu kamu, bukan aku. Kamu ini ada-ada saja." Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya.


Usai bersiap-siap mereka berangkat ke tempat kerja bersama. Yoga akan lebih dulu mengantar sang istri sebelum berangkat ke kantornya sendiri.


Jarak kantor Citra dari rumah lebih dekat, hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari rumah. Sementara, tempat kerja Yoga lebih jauh lagi bisa memakan waktu lebih dari satu jam perjalanan.

__ADS_1


Citra mencium tangan suaminya sebelum turun dari mobil. Ia melambaikan tangan hingga mobil milik suaminya pergi. Ia memandangi jam tangan miliknya, masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum jam kerja dimulai. Ada kesempatan untuk menikmati sarapan pagi sebelum memulai aktivitas.


Saat hendak menuju ke arah kantin di lantai dasar, ia berpapasan dengan orang yang menyebalkan, manajer barunya. Perasaannya seketika buruk ketika bertemu dengan lelaki sombong dan songong yang sok keren itu.


"Oh, kamu pagi juga ya datang ke kantor," sapa Hendry.


Citra hanya tersenyum sekilas dan tetap berjalan ke arah kantin. Anehnya, Hendry malah berjalan di sampingnya menuju ke arah yang sama dengannnya. Saat ia berusaha mempercepat langkah, Hendry juga melakukan hal yang sama.


Citra berhenti sejenak, diikuti oleh Hendry. Ia menatap tajam ke arah Hendry. Sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan dibuntuti oleh lelaki itu.


"Jangan ke-PD-an dulu, aku juga mau ke kantin, bukan mau membuntutimu!"


Sebelum Citra menanyakannya, Hendry sudah lebih dulu menepis isi pikirannya. Ia hanya menghela napas, melanjutkan berjalan ke arah kantin. Ia biarkan saja Hendry yang terus mengikutinya.


Ia heran sendiri dengan lelaki itu. Hendry sendiri yang bilang agar dia tidak sok kenal selama berada di kantor. Ia tidak boleh menceritakan bahwa mereka pernah satu sekolahan. Citra juga merasa tidak perlu melakukan hal semacam itu. Baginya, tidak ada manfaat juga bercerita tentang Hendry kepada orang-orang. Ia malah ingin Hendry pergi saja dari perusahaan. Sayangnya, Hendry merupakan CEO sekaligus pemilik yang asli di perusahaannya.


"Porsi makan kamu sedikit juga, ya! Makan itu yang banyak, supaya bertenaga."


Citra kembali terusik. Baru saja ia menyuapkan makanan, tanpa permisi Hendry duduk satu meja dengannya. Selera makannya benar-benar hilang. Hendry seperti penguntit yang tidak ada hentinya mengganggu.


Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling. Beberapa orang menatap ke arah mereka sembari berbisik-bisik. Ia sudah tahu apa yang sekiranya mereka bicarakan. Mereka menganggap Citra sedang dalam pengawasan dan terancam terkena PHK. Memang, sebelum memecat karyawannya, Hendry biasanya mendekati dulu orang yang akan dipecatnya.


"Apa kamu biasa berangkat pagi ke kantor? Ini pertama kalinya aku datang lebih pagi. Ternyata karyawan di sini banyak yang rajin juga."


Citra meneruskan makan, mencoba mengabaikan komentar Hendry. Ia bisa pingsan bekerja kalau pagi ini tidak mengisi perutnya. Apalagi hari ini ia memastikan kerja lembur sampai larut malam.


"Aku sudah melakukan pemangkasan dan penggantian karyawan besar-besaran. Sebelumnya terima kasih untukmu dan staf HRD yang sudah membantu. Tugasku jadi lebih ringan untuk melakukan perubahan di perusahaan ini."

__ADS_1


Hendry mengerutka dahi. Sejak tadi ia bicara sendiri dan Citra tidak mau meladeninya. "Kamu menganggap aku patung, ya? Sejak tadi aku ajak bicara diam terus," protes Hendry sembari menikmati steak pesanannya.


Citra melotot.


"Wah, baru kali ini ada karyawan yang berani melotot padaku. Kamu memang agak-agak, ya ...." Hendry tertawa. "Mentang-mentang kamu kenal aku, sampai berani melotot padaku?"


"Sebelumnya maaf, mau Bapak apa, ya? Katanya saya tidak boleh sok kenal dengan Anda. Tapi, kenapa sekarang Bapak ada di hadapan saya?" tanya Citra dengan tegas.


"Itu kan aturan untukmu. Kalau aku, bebas mau dekat dengan siapa saja," jawab Hendry dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. "Aku sudah biasa dekat dengan semua orang. Selama ini tidak ada masalah apa-apa."


"Silakan dekat dengan yang lain, Pak! Kalau bisa jangan dekati saya!" ketus Citra.


"Hahaha ... Kenapa? Kamu takut jatuh cinta kalau sering-sering bertemu denganku?" ledek Hendry.


"Terserah Bapak saja!"


Citra menahan emosinya sendiri. Memang benar lelaki itu masih saja gila seperti dulu. Bahkan, di usianya yang sudah tidak muda lagi, sikap menyebalkannya masih bertahan.


Citra jadi teringat pertemuan pertamanya dengan seorang Hendry. Pertemuan yang tidak bisa dilupakan dan sangat membekas. Ia juga pernah dibuat kesal oleh kakak kelasnya itu dulu.


***


Sembari menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya. Pasti seru loh ceritanya 😘


Judul: Super God System: Healer


Author: Covievy

__ADS_1



__ADS_2