
Edis berdiri mematung di depan pintu apartemen 137. Tempat tinggal Angga yang pernah ia datangi. Entah apa yang menuntun langkahnya ke sana, ia sampai membelikan makanan karena takut Angga sedang sakit seperti sebelumnya. Sepulang sekolah, ia memutuskan datang ke apartemen Angga berharap kekasihnya sudah pulang. Hingga saat ini Angga belum bisa dihubungi.
Dengan sedikit keraguan, ia menekan bel. Meskipun tahu kode masuk apartemen itu, rasanya tidak sopan jika dia membukanya begitu saja.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Edis sudah senang mengira Angga yang membukakan pintu untuknya. Senyum yang awalnya mengembang di bibir memudar saat melihat orang yang membukakan pintu ternyata bukan Angga.
Seorang lelaki dewasa berusia sekitar 30an tahun itu berdiri di depan pintu menatapnya heran. Dari wajahnya yang mirip dengan Angga, ia mengira lelaki itu adalah kakak Angga.
"Kamu siapa?" tanya Fabian sembari memandang seorang gadis muda di depan pintunya. Dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia seorang murid SMA.
"Ah, nama saya Edis, teman sekolah Kak Angga. Hari ini Kak Angga tidak masuk sekolah, apa dia sakit?"
Fabian terdiam. Setelah semalam kabur, putranya ternyata tidak masuk sekolah lagi. "Masuklah dulu. Kita bicara di dalam," ajak Fabian.
Edis mengikuti lelaki itu masuk ke dalam rumah. Ia memandangi seisi apartemen yang sebelumnya ia datangi, kondisinya terlihat rapi. Jauh berbeda saat ia pertama datang.
Fabian menatap heran ke arah Edis. "Angga tidak pernah mengajak satupun temannya datang ke rumah, apalagi teman wanita. Apa ... kamu sebenarnya pacar anakku?" tanyanya.
Edis membelalakkan mata. "A ... anak?" Ia terkejut lelaki itu menyebut Angga sebagai anaknya. Menurut Edis, lelaki itu masih terlihat sangat muda. Bahkan sekalipun telah menikah, seharusnya anaknya masih kecil. Sedangkan Angga telah menginjak masa remaja dan sebentar lagi dewasa.
Fabian tersenyum dengan respon kaget Edis. "Apa aku tidak terlihat seperti seorang ayah?" tanyanya.
Edis tersenyum kaku. "Menurut saya, Om kelihatan terlalu muda untuk memiliki anak sebesar Kak Angga," ucapnya jujur. Jika disejajarkan, Angga dan ayahnya mungkin akan dikira sebagai kakak beradik
"Dulu aku menikah muda dengan mamanya Angga. Kalau begitu perkenalkan, namaku Fabian, ayahnya Angga." Fabian mengembangkan senyum.
"Iya, Om. Nama saya Edis." Ia masih terkejut, niat hati ingin bertemu pacarnya malah bertemu dengan ayah pacarnya.
"Pertanyaanku belum kamu jawab."
Edis sampai lupa pertanyaan apa yang dimaksud oleh Fabian.
__ADS_1
"Kamu pacar Angga?" tanyanya secara gamblang.
Edis jadi salah tingkah ditanya seperti itu. Ia hanya mengangguk. "Ponsel Kak Angga tidak bisa dihubungi, saya jadi khawatir." Ia menunduk malu.
Fabian menghela napas. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan terhadap putranya. Kelakuannya sudah tidak bisa ia monitor.
"Angga itu seperti apa di sekolah? Apa dia selalu membuat keributan?" Pertanyaan Fabian seolah mencerminkan dirinya yang tidak mengenal putranya sama sekali.
"Kak Angga murid teladan di sekolah, Om. Dia anak yang cerdas, disiplin, aktif di organisasi dan ekskul bola."
Fabian tertawa. "Kamu jangan berbohong. Dia pasti sering dihukum guru. Semalam saja dia pulang dalam kondisi babak belur lalu kabur saat ingin aku nasihati."
Edis baru tahu jika Angga ternyata tidak pulang lagi. Artinya Angga tidak ada di rumah dan sia-sia dia datang ke sana. "Kak Angga biasanya baik, Om. Meskipun akhir-akhir ini memang sikapnya agak berubah."
Fabian mulai memikirkan untuk bisa kembali dekat dengan putranya. Ia sudah berusaha mengurangi kesibukan, namun sepertinya hal itu kurang berkualitas untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Angga.
"Om, sepertinya saya pulang sekarang saja, ya." pamit Edis. Ia tidak nyaman berlama-lama dengan ayah pacarnya. Rasanya sangat canggung.
"Sama-sama, Om," ucap Edis seraya bangkit dari duduknya.
"Ah! Tunggu!"
Fabian menghentikan Edis. Ia berlari ke arah ruang tengah, mengambil sebuah paperbag kecil dan menyerahkannya kepada Edis.
"Ini jam tangan untuk Angga. Siapa tahu dia akan mau menerimanya jika kamu yang memberikannya. Bulan lalu dia berulang tahun dan aku baru sempat membelikannya hadiah."
Edis menerima barang tersebut. "Permisi, Om," pamitnya.
Fabian mengantarkan Edis sampai ke depan pintu. Edis masih merasa canggung dengan pertemuannya dengan Angga.
Kekasihnya pernah mengatakan bahwa hubungannya dengan sang ayah kurang baik. Setelah ia bertemu sendiri dengan ayah Angga, ia rasa Fabian orang yang baik. Ia sebenarnya juga seorang ayah yang perhatian terhadap putranya. Cukup aneh kalau Angga menyebut ayahnya orang yang suka main perempuan, suka selingkuh. Atau mungkin Edis saja yang kurang bisa menilai orang lain dengan baik.
__ADS_1
Masalah antara Angga dengan ayahnya sepertinya cukup rumit. Ia sebagai orang luar tidak terlalu ingin ikut campur dengan urusan pribadinya. Namun, ia juga berharap Angga bisa menyelesaikan perselisihan dengan ayahnya secara baik.
"Aku pergi membawa satu tentengan, sekarang pulang membawa dua tentengan," gumam Edis dalam perjalanannya pulang menuju asrama. Tujuannya memang untuk bertemu Angga. Karen tidak bisa bertemu, ia memilih untuk pulang saja.
'Sepertinya aku tidak akan bisa menemuinya sebelum ia memutuskan untuk menemuiku sendiri.'
'Kenapa dia tidak memberi kabar sama sekali? Kalaupun tidak mau aku hubungi, setidaknya dia menghubungiku sekali.'
Perasaan Edis resah gara-gara Angga. Ia terus menggerutu di dalam hatinya.
"Hai, cewek ...."
Kesadaran Edis kembali saat ada yang seperti memanggilnya. Ada seorang pemuda tak dikenal tersenyum ke arahnya. Penampilannya yang seperti preman membuatnya merinding. Ia melirik ke kanan kiri, ternyata ia sedang melewati gang sepi.
"Boleh kenalan, nggak?" tanyanya.
Edis tersenyum kaku. Ia ingin sekali kabur menghindar dari orang seperti itu. "Maaf ya, Kak. Aku sudah punya pacar," ucapnya dengan harapan pemuda itu mau pergi.
"Kamu bilang punya pacar cuma untuk alasan kan supaya aku tidak mengajakmu kenalan?" pemuda itu makin mendekat. Menyeramkan.
"Maaf ya, Mas ... aku tidak tertarik berkenalan karena memang sudah punya pacar."
"Sombong banget, sih!" pemuda itu terus maju mendekati Edis, membuat Edis merasa takut. Orang seperti itu cenderung nekad jika merasa ditolak kasar.
"Tolong, ya! Aku ...."
Kata-kata Edis terpotong saat ada yang datang di belakangnya. Ia sangat kaget melihat Angga dengan tatapan menyeramkan serta wajah penuh luka tiba-tiba hadir di sampingnya. Tatapan penuh kebencian dan hasrat ingin membunuh itu mampu menciutkan nyali siapa saja yang melihatnya.
"Kalau kamu tidak mau aku pukul, menyingkir sekarang juga!" ancamnya. Pemuda yang berusaha menggoda Edis langsung kabur begitu saja.
Kini, giliran Edis yang rasanya bahagia sekaligus kesal dengan kehadiran Angga. "Kamu jahat banget sih, sejak semalam tidak mengabariku!" Edis melayangkan pukulan ke lengan Angga sebagai pelampiasan kemarahannya. "Kamu tidak tahu apa ada orang yang sangat mengkhawatirkanmu?" gerutunya.
__ADS_1