Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Tanggung Jawab


__ADS_3

Malam semakin larut, jam yang tergantung di dinding ruang tamu telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Hingga selarut ini, Yoga belum juga pulang ke rumah. Meskipun hubungan mereka sedang tidak baik, Citra tetap mengkhawatirkan suaminya. Ia takut terjadi apa-apa kepada Yoga. Ia sempat menelepon adik iparnya, katanya Yoga tidak sedang berada di rumah orang tuanya.


Kalaupun suaminya lembur, seharusnya pukul sepuluh malam sudah sampai rumah. Ini sudah lewat dari jam pulang. Beberapa kali ia mencoba menghubungi suaminya, namun tidak diangkat.


Ia merasa Yoga sangat kesal kepadanya karena tidak kunjung berhenti dari pekerjaan. Tentu saja ia mau patuh kepada suaminya, namun untuk memutuskan berhenti dari pekerjaan juga ada etikanya. Tidak mungkin ia berhenti seketika meninggalkan beban pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


Tak berapa lama kemudian, akhirnya masuk satu pesan dari suaminya. Ternyata malam ini Yoga harus lembur sampai pagi dan tidak bisa pulang. Ia sedikit merasa lega mendengar kabar tersebut.


Rumah yang ia bangun bersama dengan menyisihkan penghasilan, kini terasa dingin dan sunyi. Tidak seperti awal-awal pernikahan yang dipenuhi cinta. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Citra berharap kondisi keluarganya bisa kembali seperti semula.


***


"Hmm ...,"


Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar membangunkan tidur lelapnya. Kepalanya masih terasa berat akibat minuman beralkohol yang direguknya.


Saat hendak bangkit dari tidur, ia merasakan tangan seseorang yang melingkar di perutnya. Betapa kaget Yoga mendapati Ira tertidur di sampingnya. Bahkan, kondisi mereka tanpa berbusana. Tubuh mereka hanya tertutup oleh satu selimut yang sama.


Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Yoga menyadari dirinya telah melampaui batas. Semalam, ia telah bercinta dengan sahabatnya sendiri, Ira. Rasanya ia masih tidak percaya bisa melakukan hal semacam itu padahal ia sudah memiliki seorang istri.


'Apa kamu gila, Yoga! Dasar bodoh! Apa yang sudah kamu lakukan?' umpatnya dalam hati. 'Kalau aku ketahuan, apa nanti yang akan Citra katakan? Dia pasti akan sangat marah dan meninggalkanku!" ia merasa stres sendiri dengan pikirannya. Ada ketakutan jika Citra akan meninggalkannya.


"Uhh ... Yoga ... Kamu sudah bangun?" merasakan gerakan seseorang di sampingnya, Ira ikut terbangun. Ia duduk menyingkapkan selimut hingga bagian atas tubuhnya terlihat.


Yoga semakin frustasi melihatnya.


Ira yang menyadari dirinya tidak mengenakan pakaian, langsung menutupkan selimut malu-malu.

__ADS_1


"Semalam ...," ucap Ira dengan wajah memerah.


"Ira ... Bisa kita lupakan saja apa yang terjadi semalam?" pinta Yoga.


Rasa bahagia yang dirasakan Ira tiba-tiba sirna. Begitu mudahnya Yoga menyuruh dia melupakan apa yang terjadi semalam. Ia tidak akan mau. Semalam merupakan momen paling penting dalam hidupnya, di mana ia bisa tidur dengan lelaki yang sangat dicintainya.


"Semalam kita berdua pasti sangat mabuk sampai tidak sengaja membuat kesalahan." Yoga mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Apa katamu?" Ira berkata dengan bibir yang bergetar. "Semalam kita sudah melewatkan waktu bersama, kamu bilang itu bukan apa-apa dan aku harus melupakannya?" ia memasang ekspresi wajah yang sedih.


Yoga jadi tidak enak hati melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Ira.


"Semalam kita sama-sama menikmatinya, kamu sudah menyentuhku juga dan aku disuruh melupakannya? Kamu benar-benar tidak punya perasaan." Ira menangis tersedu-sedu, membuat Yoga semakin merasa bersalah.


Yoga menyentuh pundak Ira, mencoba menenangkannya. "Kamu kan tahu kalau aku sudah menikah, Ira."


"Bagaimanapun juga semalam kita telah melakukan hubungan seperti pasangan suami istri. Kamu tidak bisa mengabaikanku seenaknya," rengek Ira.


"Kamu sangat peduli dengan istrimu, tapi kamu sama sekali tidak peduli dengan sahabatmu. Hiks! Masa depanku juga sudah hancur, siapa lagi yang mau menikahiku. Huhuhu ...."


Yoga tidak tega dengan Ira. Bagaimanapun juga, semalam memang dirinya yang telah meniduri Ira. Ia tidak ingin disebut sebagai lelaki pengecut yang lepas dari tanggung jawab.


"Akan aku pikirkan untuk bertanggung jawab, Ira. Tapi, tidak bisa sekarang. Beri aku waktu untuk memberikan penjelasan kepada Citra nantinya."


"Kalau dia tidak terima kamu mau menikahiku bagaimana?" Ira merengut. Ia akan kembali bersabar, setidaknya dengan kejadian semalam ia bisa menjadi istri Yoga. Ia tahu Yoga tidak akan mudah untuk menceraikan Citra. Perlahan ia akan menyingkirkan wanita itu dari hati Yoga.


Yoga terdiam sejenak. "Aku pastikan dia akan menerima keputusanku."

__ADS_1


Ira begitu bahagia mendengarnya. Ia reflek memeluk Yoga dengan erat. Akhirnya, penantiannya selama ini berbuah manis. Yoga mulai luluh kepadanya.


"Yoga, terima kasih kamu telah menyelamatkan masa depanku," ucap Ira.


Yoga terlihat menghela napas. "Maafkan aku, Ira. Semalam aku sudah kelewatan kepadamu. Seharusnya aku tidak berbuat sejauh itu kepadamu." Ia terlihat menyesal.


Ira menatap Yoga seraya menggelengkan kepala. "Aku tidak menyesal karena orang itu adalah kamu. Apalagi sejak dulu aku sudah mencintaimu, Yoga."


Yoga hanya tersenyum. Di pikirannya sekarang penuh dengan Citra. Ia sempat menuduh istrinya berselingkuh dengan manajer itu. Kenyataannya, dia sendiri yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Bahkan, semalam mereka telah tidur bersama.


Ia berpikir untuk langsung berterus terang saja atas kekhilafan yang telah ia lakukan atau menundanya sampai waktu yang tepat. Bagaimanapun juga ia harus bertanggung jawab telah meniduri Ira.


"Yoga, kamu tidak perlu berpikir keras dulu tentang hal ini. Aku bisa menunggu. Kita juga bisa merahasiakan hal ini sampai kamu benar-benar siap mengungkapkannya kepada istrimu dan keluargamu. Aku hanya meminta kamu untuk terus peduli padaku, jangan campakan aku setelah malam ini, Yoga ...." Ira kembali memasang wajah memelas.


"Bagaimana bisa aku mencampakanmu? Kamu sahabatku dan aku sangat peduli padamu, Ira." Yoga mengecup kening Ira dengan penuh kasih sayang.


"Semalam itu ... Rasanya enak ternyata. Kalau aku mau lagi, apa kamu mau melakukannya lagi denganku?" rayu Ira dengan malu-malu seperti seorang wanita polos. "Kamu pasti sudah sering melakukannya dengan istrimu, kan? Aku juga ingin banyak melakukan yang seperti semalam denganmu."


Yoga tidak bisa berkata-kata. Ia tidak menyangka Ira bisa mengatakan hal semacam itu kepadanya.


"Kok tidak dijawab? Kamu tidak suka melakukannya denganku ya, Ga?" Ira tampak kecewa.


"Bukan seperti itu, Ra. Aku masih merasa bersalah karena semalam, tapi kamu malah mengatakan mau mengulangnya lagi."


"Tapi, aku benar-benar rela kalau itu kamu. Semalam merupakan tidur ternyamanku seumur hidup karena ada kamu."


Yoga meleleh dengan ucapan Ira. Apalagi wanita itu pandai bermanja kepadanya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita mandi dulu?" ajak Yoga. Meskipun sudah telat, ia akan tetap berangkat ke kantor.


"Mau melakukan lagi di kamar mandi?" rayu Ira sembari mengerlingkan matanya dengan nakal.


__ADS_2