Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Side Job


__ADS_3

"Sumpah, Bar ... pergi dulu dari sini. Kita bicara nanti saja." Zack berbicara dengan suara berat menahan hasratnya yang semakin meninggi.


Bara semakin fokus menatap kelakuan aneh temannya itu. Wajah Zack terlihat memerah dan napasnya terengah-engah. "Kamu mau ber4k?" tanyanya.


Zack menahan tawa. Di saat serius seperti itu, Bara malah mengajukan pertanyaan yang konyol. "Terserah kamu lah, Bar! Yang penting kamu cepat keluar dari ruanganku."


"Oke." Bara mengalah. Ia bangkit dari kursinya. "Aku pulang dulu," ucapnya.


"Euh ... hah ...."


Suara yang Zack ciptakan menghentikan langkah Bara. Ia buru-buru berbalik dan menghampiri Zack kembali. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat ada seorang wanita yang bersembunyi di bawah kolong meja Zack.


"Oi! Kenapa kamu kembali lagi?" Zack antara kesal dan malu sudah dipergoki oleh Bara.


Bara mengalihkan pandangannya. Ia tak menyangka Zack bisa melakukan hal itu di kantor. "Seperti tidak ada tempat lain saja, Zack. Minimal pulang dulu ke apartemen."


"Nanggung, Bar. Sebentar lagi juga selesai. Pergi sana! Jangan ganggu keasyikan orang!"


"Aku laporkan ke ayahmu baru tahu rasa kamu."


"Aduh, terserahlah! Sudah kepalang basah aku tidak bisa berhenti. Bilang saja kalau kamu iri, sialan!"


"Parah!"


"Jangan lupa nanti malam datang ke klab! Aku tunggu kamu di sana!" di sela-sela kenikmatannya, Zack masih sempat memberikan pesan untuk Bara.


Bara geleng-geleng kepala. Ia akhirnya memilih keluar dari ruang kerja Zack. Lelaki itu menang benar-benar gila, melakukan hal semacam itu di tempat yang tidak semestinya.


Ia mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Pak Diman, apakah Kenzo sudah dijemput?" Bara menghubungi sopirnya.


"Saya sudah ada di depan sekolahnya, Pak. Sebentar lagi Den Kenzo keluar."

__ADS_1


"Nanti, antarkan saja ke rumah Kakek Neneknya karena saya akan kerja lembur sampai malam."


"Baik, Pak."


Bara kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya. Setelah dari perusahaan ayah Zack, ia masih harus kembali ke perusahaannya mengurusi pekerjaan yang belum ia selesaikan.


***


Retha mengenakan penutup hoodie miliknya saat keluar dari kamar Tiur. Tak lupa masker juga ia pakai agar wajahnya tidak kelihatan. Sore hari setelah pulang mengajar, ia masih harus bekerja di klab malam sebagai pelayan demi mencukupi kebutuhannya.


Retha berusaha keras menutupi identitas aslinya dari siapapun, terutama orang-orang yang tinggal di kontrakan Tiur. Mengingat dia memiliki dua pekerjaan yang sangat bertolak belakang, sebagai pengajar di sekolah swasta dan pelayan di klab malam. Bahkan saat akan berangkat sekolah, ia akan menggunakan pakaian seragamnya di sekolah agar tidak ketahuan.


"Tumben agak telat datangnya," tegur Ranu, salah satu rekan kerjanya.


"Tadi aku ada urusan sebentar. Apakah semua ruangan sudah dibersihkan?" Retha datang terlambat karena mampir ke asrama adiknya yang mengatakan kehabisan uang. Meskipun ia sendiri sedang kesulitan, demi kebutuhan sang adik ia rela mengusahakannya. Ia ingin mempertahankan adiknya agar bisa tetap sekolah setidaknya sampai lulus kuliah seperti dirinya.


"Sudah beres semua. Kamu langsung ganti pakaian saja karena tempat ini juga akan segera dibuka." Ranu mengambil beberapa botol anggur dari gudang untuk dipajang di area bar.


Retha masuk ke dalam ruang ganti, melepaskan pakaian yang dikenakan untuk beralih memakai seragam khusus. Bentuk seragamnya seperti pakaian maid dengan potongan rok yang sangat pendek dan bagian atas model tanktop dengan tali spageti yang melingkar di pundak.


Sebenarnya, gaji sebagai guru bisa dikatakan cukup jika untuk biaya hidup dia dan adiknya. Semua jadi kacau karena ayahnya yang tidak henti membuat masalah. Suka judi dan mabuk-mabukan serta berhutang pada rentenir. Terkadang ia ingin ayahnya mati saja dari pada membebani hidupnya. Namun, saat kembali mengingat jasa-jasa sang ayah saat ia kecil, Retha jadi tidak tega.


Retha memasang bando kelinci di wajahnya. Ia juga mengenakan topeng berwarna senada sebagai pelengkap akhir penampilannya.


"Retha, kalau sudah siap langsung keluar, ya! Sudah ada banyak pesanan yang harus diantar," ucap Susan yang melongok dari balik pintu.


"Iya."


Retha sampai heran, tempat hiburan malam itu selalu ramai oleh pengunjung. Bahkan, ini belum lama setelah dibuka tapi tamu sudah berdatangan. Apakah kebanyakan orang terlalu stres sampai membutuhkan hiburan setiap malam?


Retha menghampiri area dapur. Ia mendengarkan penjelasan dari petugas yang mengurusi pesanan pelanggan untuk mengantarkan makanan ke meja yang mana.


Selain menjual minuman beralkohol, di sana juga bisa memesan mulai dari snack sampai makanan berat. Konsep klab malam tempatnya bekerja memang mengusung tema klab resto. Tidak semua yang datang di sana untuk mabuk, terkadang hanya ingin menikmati live music sembari makan-makan.

__ADS_1


Suara musik kencang langsung terdengar keras ketika Retha memasuki aula utama tempat para pengunjung berada. Lampu kelap-kelip menambah semarak suasana malam. Bagi yang tidak terbiasa di tempat seperti itu pasti tidak akan merasa nyaman saking bisingnya.


Mendapat godaan dari tamu yang datang sudah menjadi hal yang biasa. Retha mengabaikan apapun dan hanya fokus bekerja. Memang resikonya bekerja di tempat seperti itu mengenakan pakaian yang minim pasti akan dianggap sebagai wanita gampangan. Namun, sampai saat ini ia tidak tertarik untuk menjual diri.


"Selamat malam, tenderloin steak, kepiting asam manis, yakitori dan tonkatsunya sudah siap dinikmati," ucap Retha seraya meletakkan satu per satu piring di atas meja pengunjung. Keempat lelaki itu tak melepaskan pandangan dari wanita yang sedang melayani mereka.


"Nona, dimana champagne-nya?" tanya salah seorang di antara mereka.


"Sebentar lagi akan diantar oleh pelayan lain," jawab Retha dengan senyum ramahnya.


"Nona, apa aku bisa memesanmu?" tanya lelaki lain yang sejak tadi memandang Retha dengan tatapannya yang lekat.


"Wah, kamu jangan sembarangan begitu, itu tidak sopan ...." lelaki yang lain berusaha menasihati agar temannya tidak mengganggu Retha.


"Dia sangat lucu memakai pakaian ini. Aku jadi ingin mengajaknya tidur bersama," godanya.


Retha hanya tersenyum. Bukan sekali ini saja dia mendapatkan pelanggan yang sedikit nakal dan berani menawar dirinya. "Maaf, Tuan. Jika Anda ingin mendapatkan teman kencan, bisa hubungi langsung manajer kami. Saya hanya sebatas bekerja sebagai pelayan." Retha berusaha menolak dengan sopan.


"Kalau aku tawari uang yang banyak, apa kamu masih mau menolak?" lelaki itu tampak tidak menyerah dan terus berusaha membujuk Retha.


"Nona, kamu pergi saja. Abaikan dia!" perintah lelaki yang lain.


"Kenapa? Bukankah ia bekerja di sini juga karena butuh uang yang banyak? Aku bisa memberikan lebih banyak."


Retha memilih pergi dari sana sebelum perbincangannya berlanjut. Ia mengelus dada dan menghela napas saat terbebas dari tugasnya.


❤❤❤❤❤



Mampir ke sini juga, ya ... jangan lupa beri like dan komen 😘


**IG: Momoy D***andelion*

__ADS_1


**FB: Momoy D***andelion*


__ADS_2