Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Menginginkan Kehamilan


__ADS_3

"Jadi, suamimu masih belum mau diajak datang ke sini?" tanya Dokter Ester saat bertemu kembali dengan Citra.


Citra hanya bisa menggeleng. Hubungannya dengan sang suami masih saja kaku dan dingin. Ia nekad tetap datang kepada Dokter Ester untuk memeriksakan kondisi kesehatan alat reproduksinya. Jika memang ada masalah dengan itu, ia akan berusaha ikhlas menerimanya. Bahkan jika Yoga sampai menceraikannya karena alasan itu.


Yoga semakin tidak memperdulikannya. Selain tidak memberikan uang belanja, juga tidak mau tidur bersama dengannya lagi. Bahkan suaminya semakin jarang pulang. Seakan menyentuhnya merupakan sesuatu yang haram.


Ia sudah berusaha membuatkan sarapan agar Yoga berubah sikapnya. Tapi, lelaki itu tetap tidak mau memakan apa yang dia masakkan. Kalau ditanya, alasannya karena dirinya belum juga mau keluar dari pekerjaan. Yoga akan berbaikan dengan Citra jika sudah resmi keluar dari perusahaan.


Citra sendiri sudah berusaha meminta Hendry untuk mengeluarkannya dalam waktu dekat. Namun, karyawan pengganti belum didapatkan. Masalah pencocokkan berkas yang ada juga belum selesai. Paling tidak ia harus bertahan satu bulan lagi.


"Dokter periksa kondisi alat reproduksi saya saja, Dok. Mertua dan suami saya mencurigai jika saya mandul."


Dokter Ester geleng-geleng kepala. Ia heran masih ada orang dengan pemikiran kolot yang menyalahkan wanita jika belum bisa memiliki keturunan. "Apa kamu pernah haid?" tanyanya.


"Tentu saja, Dok. Setiap bulan saya mengalaminya. Bahkan siklusnya cukup teratur."


"Itu artinya kamu tidak mandul!" tegad Dokter Ester. "Orang mandul itu kalau memang wanita itu tidak memiliki rahim."


"Memangnya ada, Dok, wanita yang tidak memiliki rahim?" tanya Citra penasaran. Ia kira semua wanita tercipta sama, memiliki organ reproduksi yang sama.


"Tentu saja ada. Beberapa wanita lahir tanpa memiliki rahim. Mereka tidak bisa mengalami menstruasi dan tidak bisa hamil. Penyebabnya karena perkembangan mereka saat janin di dalam kandungan kurang baik sehingga rahim dan vag.ina terbentuk kurang sempurna."


"Tapi, kalau saya punya rahim, kenapa sangat sulit untuk mengalami kehamilan, Dok?"


"Ada banyak alasan untuk hal tersebut. Untuk memastikannya, harus dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Seharusnya suami juga ikut diperiksa, siapa tahu kualitas sp.erma yang dimiliki kurang bagus sehingga mempersulit terjadinya pembuahan."


"Suami saya hanya mau periksa setelah saya diperiksa dan kondisi alat reproduksi saya baik, Dok. Kalau memang bermasalah, dia tidak mau periksa karena sudah jelas saya yang punya kekurangan." Citra mengucapkannya dengan raut wajah yang tampak kecewa.


"Kamu harus sabar, ya! Saya yakin kamu pasti kuat!" Dokter Ester berusaha memberikan semangat.


"Jadi, kapan saya akan diperiksa, Dok? Apakah bisa langsung hari ini?" tanya Citra.


Dokter Ester membuka-buka catatan milik Citra. "Berdasarkan perhitungan masa suburmu, lebih baik kamu datang satu minggu lagi pas waktu masa subur. Kalau bisa juga ajak suami sekalian, siapa tahu dia berubah pikiran."

__ADS_1


Citra hanya tersenyum. Suaminya tidak akan berubah pikiran. Lelaki itu memang sangat keras kepala. "Baik, Dok. Akan saya usahakan."


"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, Ibu Citra bisa keluar."


Citra mengangguk. Ia bangkit meninggalkan bangkunya. "Saya permisi dulu, Dokter," pamitnya.


Citra keluar dari ruangan Dokter Ester. Tak lama setelah ia keluar, nama pasien lain dipanggil untuk masuk. Ia sangat iri setiap kali melihat perut-perut buncit ibu hamil yang duduk menunggu giliran di sana. Ia juga berharap bisa segera hamil.


Saat ia berjalan menuju area lobi, tanpa sengaja ia melihat Hendry juga berada di sana. Keduanya saling bertemu pandang dalam jarak sepuluh meter.


Mereka benar-benar sudah tidak saling bicara lagi di kantor. Hanya sesekali untuk urusan pekerjaan. Seharusnya Citra senang, namun perubahan sikap Hendry juga menjadi beban pikiran di otaknya.


Cukup lama mereka saling bertatapan dalam diam. Hingga akhirnya wanita cantik bernama Tatiana datang dan membuyarkan lamunan kedua orang itu. Citra melanjutkan langkahnya kuar dari lobi rumah sakit.


Hendry tersenyum kepada istrinya yang baru keluar dari toilet. Ia memeluk pinggang istrinya seraya mengajak berjalan menuju salah satu sofa di area lobi sembari menunggu orang yang mengajak mereka janjian ketemuan di sana.


"Hendry!" sapa Bara.


"Akhirnya kalian datang juga." Hendry memberikan pelukan kepada Bara.


"Hai, Retha," sapa Tatiana seraya melakukan cipika-cipiki dengan Retha.


"Hai, Tatiana. Kamu sudah selesai pemeriksaan?" tanya Retha.


Tatiana mengangguk.


"Bagaimana hasilnya?"


"Aku dan Hendry sama-sama tidak ada kendala untuk menjalani proses ini."


"Baguslah kalau begitu. Kami menantikan kabar bahagia dari kalian."


"Hahaha ... Jangan lupa bantu doa juga!" ucap Tatiana. "Ngomong-ngomong, kandunganmu sudah berapa bulan?"

__ADS_1


"Ini sudah lima bulan lebih, mendekati usia enam bulan."


"Tapi, belum terlalu kelihatan besar, ya. Ini seperti orang kekenyangan makan satu porsi bakso." Tatiana mengelus perut Retha yang masih kecil namun terasa keras saat dipegang.


"Kenapa kita malah jadi berdiri terus? Tatiana, ajak Retha duduk, kasihan dia sedang hamil," ucap Hendry.


Mereka akhirnya duduk bersama di sofa. Hendry sengaja meminta bertemu dengan Bara di sana karena tahu Retha akan cek kandungan di rumah sakit tersebut. Akhir-akhir ini Bara jadi sangat sulit dihubungi dan ditemui. Lelaki itu sepertinya sudah mulai standby sebagai calon ayah.


"Meskipun tidak bisa setiap hari datang ke perusahaan, setidaknya luangkan waktu untuk datang seminggu sekali, Bar!" protes Hendry. Bara sudah berjanji akan menjadi CEO bayangan untuknya. Lelaki itu benar-benar menjadi bayangan karena tidak pernah terlihat ke kantor.


"Aku selalu datang ke perusahaanmu, kok. Setiap minggu aku datang. Meskipun bisanya mampir sebentar saat Hari Minggu."


Hendry memutar malas matanya. Bagaimana bisa karyawan mengetahui kehadiran CEO di kantor kalau datangnya pas akhir pekan. Ia yang berniat meminta tolong malah semakin punya pekerjaan tambahan sebagai manajer sekaligus CEO di perusahaan.


"Ini! Mumpung kita bertemu, tolong tanda tangani semu dokumen ini." Hendry mengeluarkan setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Bara.


"Cowok atau cewek?" tanya Tatiana.


Selagi suami mereka membahas masalah bisnis, Tatiana dan Retha sibuk membahas hal lain.


"Ini cowok."


"Wah, kamu bakal punya dua anak cowok!" seru Tatiana antusias. "Bagaimana dengan Kenzo? Apa dia suka mau punya adik cowok?"


"Hem, dia sangat senang. Katanya semakin banyak anak-anak, semakin ramai. Soalnya dia juga sudah biasa main dengan kedua sepupunya di rumah nenek."


"Apa kamu sudah mulai mempersiapkan barang-barang untuk menyambut kelahiran bayinya?"


"Mau percaya atau tidak, aku tidak mempersiapkan apapun. Kakek neneknya yang sudah membelikan barang-barang untuk bayi di dalam perut ini."


"Serius? Senang sekali ... mereka pasti antusias untuk menyambut cucu baru mereka."


***

__ADS_1


__ADS_2