Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Bilik Asmara


__ADS_3

Besok jangan lupa nyumbang vote ya ... Biar author semangat up lebih dari satu bab 🤪





"Ma, tadi Kak Bara minta apa, sih?" tanya Mikha penasaran.


Setelah Bara berbisik kepada ibunya, Ratih langsung mengajak mereka untuk pergi meninggalkan retha dan Bara berdua di ruangan itu. Ratih mengajak suaminya menemui pihak lapas untuk membahas sesuatu. Mikha tidak ikut karena membantu suaminya mengurus ketiga anak yang sejak tadi membuat suaminya hampir mati kelelahan.


"Kakakmu menyuruh Mama memintakan kamar untuk mereka," ucap Ratih agak malu.


"Apa?" Saking tidak percayanya, Mikha sampai melotot dan ternganga. "Kak Bara minta bilik asmara ke Mama?" tanyanya sekali lagi.


"Sudah, jangan ditegaskan lagi!" Ratih berusaha berbicara dengan nada pelan.


Ia sendiri malu untuk membahasnya. Anak laki-lakinya memang sangat mengejutkan kelakuannya. Tanpa sungkan ia bilang ingin disediakan kamar karena kangen dengan istrinya. Ratih antara kaget dan ingin tertawa mendengar permintaan Bara. Atmaja ikut-ikutan tercengang saat Ratih memintanya menemani menghadap kepala lapas dan mengungkapkan keperluannya.


Putra mereka yang selalu terlihat berwibawa menunjukkan sisi lainnya sebagai seorang lelaki yang mencintai wanitanya. Benar-benar tidak bisa ditebak. Mereka penasaran seperti apa sosok Retha sebenarnya sampai putranya seperti orang gila.


"Anak laki-laki Mama yang satu itu diam-diam makal juga ya, Ma ... Gila sih Kak Bara berani minta yang seperti itu ke Mama. Ini sangat menggelikan. Hahaha ...." Mikha tidak bisa menghentikan tawanya. Baru kali ini ia mengetahui kakak bucin kepada istri. Padahal, selama menikah dengan Silvia tidak sampai seagresif itu kakaknya.


"Sudah, kamu jangan bahas lagi. Mama malu!"


"Iya, Ma ... Iya!" Mikha berusaha menghentikan tawanya.

__ADS_1


Pak Atmaja dan Aryo sibuk menuntun ketiga anak kecil yang mereka bawa tapi kedua wanita itu masih sibuk mengobrol berdua sembari berjalan di belakang.


"Jadi, apa Mama bisa menerima Retha sebagai menantu? Kita kan juga tidak tahu asal-usulnya seperti apa," kata Mikha.


"Mau bagaimana lagi? Kakakmu sudah terlanjur menikahinya. Dia juga sedang hamil anak kakakmu. Mama hanya berharap dia tidak seperti Silvia."


"Aku sering bertemu dia di sekolah Kenzo, Ma. Sepertinya dia seorang guru yang baik."


"Mama juga bisa menilainya seperti itu dari sikapnya. Apalagi Kenzo selalu menceritakan yang baik-baik dari sosok Retha."


"Aku bersyukur, Ma ... Kak Bara akhirnya bisa mencintai wanita lain. Mudah-mudahan saja Kak Bara dan Silvia jadi bercerai. Wanita itu cuma jadi benalu saja untuk Kak Bara. Kasihan Kak Bara waktu dulu masih susah sering direndahkan oleh Silvia. Sampai akhirnya ditinggalkan gara-gara harta."


"Mama harap Retha tidak kabur dengan kondisi Bara yang sedang terpuruk ini."


"Iya juga sih, Ma! Kalau wanita yang tidak kuat pasti akan pergi meninggalkan suaminya yang tengah terjerat kasus," kata Mikha. "Tapi, kenapa Kak Bara keras kepala, ya? Bukannya enak kalau pulang ke rumah dibebaskan Papa, malah minta asik-asik di penjara. Aneh banget Kak Bara."


"Oma ... Daddy nggak ikut pulang?" tanya Kenzo.


"Belum, Sayang. Kamu sabar dulu, nanti juga Daddy keluar."


"Katanya Daddy bukan orang jahat, kok masih di tempat polisi?"


"Mungkin Daddy kamu mau main catur dulu sama Pak Polisi, Kenzo. Biarkan saja, kamu kan masih ada Aunty dan Uncle, juga Oma Opa," sahut Mikha.


"Aku mau pulang, Aunty ... Mau ketemu Mommy!"


Mikha dan Ratih saling berpandangan.

__ADS_1


"Mommy sepertinya masih sibuk, Kenzo. Kalau sudah tidak sibuk pasti akan menjemputmu di rumah Oma."


"Kenapa sih Mommy sibuk lagi." Kenzo memasang wajah yang cemberut. Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan memiliki seorang ibu, namun Silvia masih kerap meninggalkannya. Padahal ia sudah sangat senang bisa memamerkan ibunya yang cantik dan ternyata masih menyayanginya. Teman-teman di sekolah kagum dengan ibunya dan menganggap Kenzo sebagai anak yang beruntung memiliki ayah yang tampan dan ibu yang cantik.


Rombongan keluarga Atmaja masuk ke dalam dua mobil. Pak Atmaja dan Ratih menaiki mobil keluarga, sementara Mikha dan anak-anak ikut mobil Aryo. Satu mobil yang dibawa dari rumah sengaja ditinggalkan di sana sesuai perintah Bara untuk mengantarkan Retha saat pulang nanti.


***


Retha duduk di atas ranjang dalam ruangan tertutup itu. Katanya, kamar tersebut merupakan fasilitas milik kepala lapas untuk menginap. Akan tetapi, hari ini tempat itu akan menjadi tempat memadu kasih bagi mereka berdua.


Retha saking malunya sampai lupa dengan kemarahannya. Ia seharusnya membenci Bara dan tidak mau berdekatan dengannya. Akan tetapi, Bara dengan entengnya meminta kepada orang tuanya untuk disediakan tempat tersebut.


Retha yang mendapat pesan dari sang ibu mertua untuk memperlakukan Bara dengan baik, tidak bisa menolak saat diajak masuk ke dalam. Ia menunggu Bara yang masih berada di dalam kamar mandi.


Klek!


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Bara keluar dengan rambut yang masih basah dengan dada terbuka dan selembar handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya saja. Retha malu sendiri melihat pemandangan tersebut dan memilih mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Hah ... Akhirnya bisa bertemu dengan istriku tersayang." Bara langsung duduk dan memeluk sang istri dengan tingkah manjanya. "Sehari kemarin terasa satu tahun untuk tidak bertemu denganmu."


Bara mencium pipi Rerha sembari memandangi wajahnya. Wanita itu tampak masih cemberut, pertanda kemarahannya belum reda. "Senyum dong ... cantiknya nanti hilang kalau murung begini."


Retha menghela napas. "Mas, kita sedang berada di lapas, loh ... Kenapa kamu santai sekali menghadapi persoalan ini?" tanya Retha kesal. Ia pikir seharusnya Bara fokus kepada kasusnya agar bisa segera keluar dari sana. Namun, sepertinya di manapun tempatnya, Bara selalu bersikap tenang dan menganggap tempat itu sebagai rumah sendiri.


"Aku tetap memikirkan hal itu, Sayang ... Tapi, sekarang aku tidak ingin membahasnya dulu. Aku ingin fokus kepadamu."


Bara memagut bibir Retha dengan lembut. Entah mengapa sentuhan yang ia lakukan seakan telah lama tidak ia rasakan. Padahal, mereka baru saja tidak bertemu selama satu hari.

__ADS_1


__ADS_2