Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Menyesakkan


__ADS_3

"Dimana?" tanya Citra kepada Jaka saat ia telah sampai rumah sakit yabg dimaksud.


Jaka menggaruk-garuk kepalanya. Ia kira Lilis tidak akan mengatakan hal tersebut kepada Citra. Ia tidak enak sendiri jika memang hal itu bisa membuat rumah tangga orang berantakan.


"Cit ...."


"Bilang saja, Jaka. Kamu tidak perlu menasihati apa-apa." Citra sudah dalam kondisi yang sangat emosi. Dia tidak sabar untuk melabrak wanita tidak tahu malu itu.


"Mereka ada di bagian utara bangunan, Cit."


Setelah mendapatkan informasi dari Jaka, Citra lantas berjalan ke arah yang dimaksud. Fokus matanya mancari sosok suami dan wanita itu. Dalam pikirannya, ia sedang membayangkan hukuman apa yang pantas diterima oleh wanita itu.


Langkahnya terhenti saat saat menemukan mereka. Benar saja, Yoga sedang merangkul mesra Ira di sisinya. Lelaki itu bahkan tidak sudi lagi menyentuhnya. Bisa-bisanya Yoga justru bermesraan dengan wanita yang bukan siapa-siapa.


Darahnya seakan mendidih. Hasrat ingin membunuh tiba-tiba muncul.


Rumah tangganya menjadi kacau karena Yoga menuduhnya berselingkuh dengan manajernya. Nyatanya, sang suami sendiri yang membohonginya, berselingkuh dengan wanita yang selalu dibilang sahabat.


"Mas Yoga ...." Citra berusaha memanggil suaminya dengan lembut.


Sapaan Citra membuat Yoga dan Ira terperanjat kaget. Keduanya reflek melepaskan pelukan dan saling bergeser menjauh. Yoga terlihat sangat panik melihat Citra berada di sana. Ia seakan baru saja dipergoki tengah selingkuh.


"Citra, kamu sedang apa di sini?" tanya Yoga berusaha mengalihkan perhatian.


Tatapan Citra fokus pada Ira. Ia menatap wanita itu dengan penuh kebencian. Bahkan, tatapan Citra yang tajam membuat Ira ketakutan dan gugup.


"Dasar wanita murahan!" umpat Citra.


"Citra!" Yoga begitu kaget Citra bisa berkata kasar seperti itu, begitu pula dengan Ira.


Yoga berjalan mendekati istrinya, memegangi pundaknya agar sang istri sadar. Citra seperti sedang kesurupan. "Kamu salah paham, kita tidak sedang melakukan hal yang aneh-aneh. Aku hanya mengantar Ira karena dia tidak enak badan." ia berusaha memberi pengertian kepada Citra.


Citra tidak terima. Yoga, hanya melihatnya bersama Hendry saja langsung murka dan mendiamkannya sebulanan lebih. Saat ia melihat sendiri suaminya bersama wanita lain, Yoga menyuruhnya untuk tidak salah paham.


Citra mendorong Yoga agar menyingkir dari hadapannya. Ia berjalan lurus mendekati Ira seraya memberikan satu tamparan keras di pipi pelakor itu.


"Citra! Kamu apa-apaan!" bentak Yoga. Ia langsung menarik tangan Citra, mendorongnya agar menjauh dari Ira.


Beberapa orang yang ada di sana tampak memberikan perhatian atas keributan yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Ira memegang pipinya. Tamparan Citra masih terasa sakit di pipinya. Ia tidak menyangka kalau wanita seperri Citra bisa memiliki keberanian melabraknya secara langsung.


"Kenapa, Mas? Kamu mau membela wanita murahan itu?" Citra menatap Yoga dengan tatapan amarah.


"Dari mana kamu belajar untuk mengucapkan perkataan buruk seperti itu? Kamu hanya salah paham! Jangan bersikap seperti ini di depan umum, apa kamu tidak malu?" Yoga melirik ke sekeliling. Semakin banyak yang mengarahkan pandangan pada mereka.


"Malu? Bukankah kalian yang tidak tahu malu memamerkan kemesraan di tempat umum? Kalian punya hubungan apa sampai bisa saling rangkul dan pegangan tangan? Hubungan selingkuh?" sindir Citra.


Yoga memijat keningnya sendiri. "Citra, apa kamu sudah gila mau membahas kesalahpahaman ini di tempat umum? Kamu tahu sendiri kalau aku dan Ira sekedar sahabat."


Citra terkekeh. "Sahabat? Sahabat seperti apa yang bisa berciuman dan saling berpelukan?"


"Citra ...." Yoga berusaha menenangkan Citra. Ia tahu istrinya saat ini sedang sangat emosi.


Citra menepis tangan Yoga. Ia tidak sudi disentuh oleh Yoga.


Ira tidak bisa berkata-kata. Ia seakan sedang ditonton oleh banyak orang sebagai seorang selingkuhan.


"Kalau kamu memang tahu diri posisimu hanya sebagai sahabat suamiku, seharusnya kamu bisa menjaga batasan apa yang pantas dan tidak pantas." Citra kembali melontarkan umpatannya kepada Ira.


"Kamu seorang wanita, bisa-bisanya tidak ada rasa empati pada wanita lain. Tega-teganya kamu menghancurkan pernikahan kami!" Citra menaikkan nada bicaranya. Ia sudah lepas kendali dan ingin meluapkan segala emosinya.


"Apa kamu sedang membelanya, Mas?"


Yoga turut menjadi sasaran kemarahan Citra.


"Tidak, tentu saja aku membelamu. Ini hanya salah pabam saja," kilah Yoga.


"Kalau memang kamu membelaku, masih ingin mempertahankan pernikahan kita, tidak usah lagi berteman dengannya. Keluar dari pekerjaanmu seperti yang pernah kamu sarankan padaku. Apa Mas Yoga mau melakukannya?" Citra menatap serius kepada Yoga. Ia ingin tahu apa respon lelaki itu terhadap permintaannya.


"Baik, akan aku lakukan. Sebelumnya, kita pulang dan bicara berdua di rumah!"


Yoga menarik tangan Citra agar pergi mengikutinya. Ira ditinggalkan begitu saja di sana. Orang-orang yang mereka lewati sibuk berbisik-bisik, membahas kemungkinan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Yoga berjalan menunduk menahan malu saat membawa Citra bersamanya.


"Tunggu!" teriak Ira.


Saat hendak memasuki mobil, ternyata Ira membuntuti Yoga dan Citra di belakang. Keduanya urung menaiki mobil.


"Kamu pulang sendiri, Ira. Aku harus bicara dengan istriku dulu," ucap Yoga.

__ADS_1


Rasanya hati Ira tidak terima. Ia telah dipermalukan di depan umum, sekarang ingin ditinggalkan oleh Yoga begitu saja. Ia tidak rela Yoga berpaling darinya. Yoga seharusnya tegas memilihnya, bukan membela Citra.


"Kamu tega meninggalkan aku sendirian, Yoga?"


"Maksudmu apa? Kamu juga mau diantar pulang oleh suamiku? Memangnya kamu siapa? Dasar tidak tahu diri!" bentak Citra.


Citra benar-benar tidak mengerti jalan pikiran wanita tidak tahu malu itu. Seharusnya Ira bersyukur ia tidak melaporkan mereka ke polisi atas tuduhan perselingkuhan. Ia hanya meminta wanita itu menjauhi suaminya. Gelagat Ira yang aneh semakin memantapkan tuduhannya bahwa ada sesuatu di antara mereka.


"Kamu boleh membentak-bentak aku seperti itu. Tapi, asal kamu tahu, sekarang aku sedang hamil anak Yoga!"


"Ira, kamu apa-apaan?" Yoga kebingungan. Ira tidak seharusnya mengatakan hal tersebut sebelum waktunya. Semuanya jadi kacau.


Citra seketika membisu. Lidahnya terasa kelu saat wanita itu mengaku sedang hamil. Rasanya sulit dipercaya perselingkuhan mereka sudah berada pada tahap sejauh itu.


"Citra, ayo kita pulang saja!" Yoga memaksa Citra masuk mobilnya.


Citra tidak mau. Ia hanya mematung di tempatnya dengan air mata yang akhirnya meleleh di pipinya.


"Yoga, kamu tidak berniat mencampakan aku dan calon anakmu, kan? Seharusnya kamu bersyukur, aku bisa memberikan keturunan yang tidak bisa diberikan oleh wanita itu."


Dalam situasi yang rumit, Ira ikut menambah runyam situasi. Yoga tidak bisa berbuat apa-apa. Memang, tujuannya datang ke rumah sakit tersebut untuk memeriksakan kandungan Ira yang sudah berusia 7 minggu.


***



...Mas Yoga...



...Ira Swastika...



...Bara Atmaja...



...Miss Retha...

__ADS_1


__ADS_2