Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Di Antara Tiga Wanita


__ADS_3

Tubuh Silvia merasa bergetar ketika Thea terus mengintimidasinya. Thea memang salah satu orang yang paling mengerti sifat aslinya sejak lama. Wanita itu pasti sangat dendam kepadanya karena ia pernah bercerita yang tidak-tidak tentang Thea sampai Bara ikut membenci wanita itu.


"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Rangga? Kenapa kamu tidak mepet kepadanya lagi malah mepet sugar daddy ke luar negeri?" sindir Thea. Ia mengulaskan lipstik kembali pada bibirnya.


Silvia memilih dia. Ia tahu Thea bukan lawan yang mudah untuk dihadapi. Selain anak orang kaya, Thea memegang banyak rahasianya.


Thea melirik sekilas ke arah Silvia. Ia sangat puas melihat ekspresi wajah yang pasrah setiap kali ia menyindirnya. "Kamu pasti heran aku banyak tahu tentangmu, ya? Pergaulanku luas dan temanku ada di mana-mana."


"Jangan samakan aku dengan Bara. Sebenarnya dia bisa saja tahu tentangmu, namun karena kebodohan dan cinta butanya itu, ia tidak mau menganggapmu sebagai wanita tercela. Entah kebaikan apa yang pernah kamu lakukan sampai Bara terus memperlakukanmu dengan sangat baik." Thea mengulaskan senyum seringai.


"Kamu sebenarnya mau apa sih, Thea. Masalah kita kan sudah lama berlalu," ujar Silvia dengan nada lemas. Ia yang dulu memiliki kepercayaan begitu tinggi dan berani kini tak punya nyali menghadapi Thea.


"Mauku cuma satu, sih ... melihatmu sengsara seperti ini. Biar kamu tahu rasanya menjadi orang yang tersakiti seperti temanku dulu. Pokoknya hati-hati jika berurusan denganku." Thea pergi meninggalkan Silvia begitu saja setelah mengatakan hal tersebut.


"Hah!" Silvia memukulkan tangannya ke kaca. Ia hrran dengan hidupnya sendiri yang tak pernah bahagia. Semakin ia kejar kebahagiaan, semakin menjauh hal yang ia harapkan itu.


Terkadang muncul rasa penyesalan kenapa ia harus meninggalkan Bara. Dia lelaki yang terlalu baik dan tak pantas ia sakiti. Entah mengapa dulu dia tega mengkhianatinya dan sekarang berharap untuk bisa kembali. Namun, ia sudah bertekad kali ini ia akan benar-benar bertaubat menjadi seorang istri yang baik.


Silvia merapikan dandanannya. Ia menata perasaannya agar tetap tampak sebagai wanits yang ceria. Ia tidak mau sampai Bara tahu perasaannya yang sebenarnya.


Silvia keluar dari toilet. Ia berniat kembali le restoran tempat Bara dan Kenzo menunggunya. Sampai di sana, ia kembali dibuat tertegun. Ada Thea dan Ratih di sana bersama Bara dan Kenzo.


"Eh, itu Silvia sudah datang," ucap Thea dengan santainya.

__ADS_1


Silvia melihat wanita itu tersenyum begitu puas kepdanya. Ia tahu Thea sedang berusaha menjatuhkan kembali dirinya di hadapan anak, suami, dan ibu mertua. Namun, bukan Silvia kalau mau mundur. Meskipun tahu perkumpulan itu akan menghasilkan perbincangan yang tidak menyenangkan, ia tidak akan mundur. Dengan langkah percaya diri, ia berjalan mendekati mereka dan duduk di samping Kenzo.


"Halo, Thea ... Mama ...," sapanya.


Thea hanya senyum-senyum melihat betapa handal akting yang Silvia tunjukkan. Sementara, Ratih tidak menganggap bahwa Silvia ada di sana.


"Kalau boleh tahu, kenapa Thea ada di sini?" sindir Silvia.


"Aku yang mengajaknya," sahut Ratih.


"Kenapa, Silvia? Kamu tidak suka aku di sini? Pasti mengganggu momen kebersamaan kalian, ya ... aku juga sebenarnya tidak enak dengan kalian. Tapi, Tante Ratih bilang tidak apa-apa mengajakku ke sini."


"Mommy ... suapin Kenzo!"


Silvia mengangkat Kenzo dan mendudukkan putranya di pangkuan. Ia suapi secara perlahan spagetti yang sedang dimakan oleh putranya. Anak itu memang ada-ada saja. Tadi minta sushi, yang ia makan malah spagetti. Pasti saat ia di toilet, Bara memesankan itu di tempat sebelah.


"Kamu harus menegaskan pembahasan kita sebelumnya, Bara ...," ujar Ratih.


"Mama tidak lihat di sini ada Kenzo? Lagi pula aku tidak tertarik dengan pembahasan apapun. Aku sudah dewasa, Ma ... apapun yang aku putuskan, itu sudah merupakan hasil pemikiran mendalam."


"Sudahlah, Tante ... mungkin Bara memang tidak menyukai Thea. Apalagi Silvia sekarang sudah kembali. Bara pasti akan lebih memilihnya." Thea berbicara dengan nada manjanya seakan ingin memperlihatkan kedekatannya dengan wanita paruh baya itu.


"Aku sampai heran ada wanita tidak tahu diri dan tidak punya muka kembali pada anak dan suami yang sudah ditinggalkannya," sindir Ratih.

__ADS_1


"Bagaimanapun juga keputusan berada di tangan Mas Bara. Apapun yang kalian katakan, tidak akan mengubah jalan pikiranku. Apalagi Kenzo begitu menyambut baik kepulanganku," ucap Silvia dengan santainya. Ia berani melawan kedua wanita itu.


Thea kembali ingin tertawa. Silvia benar-benar tidak kapok dengan perilakunya. Ia semakin bersemangat ingin melihat seberapa lama wanita itu akan bertahan di sisi Bara.


"Bara, kamu tidak meninjau proyek yang ada di luar kota lagi? Sekarang aku yang menggantikan ayahku mengurusi proyek kerjasama dengan perusahaanmu dan perusahaan Zack."


Thea mencoba mengalihkan topik pembahasan. Kalau Silvia sudah memakai Kenzo sebagai alasan, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kenzo juga sepertinya tidak mau dekat dengannya. Oleh karena itu, ia lebih memilih membahas tentang bisnis.


"Aku sudah menyerahkannya kepada sekertarisku. Zack juga membantu melaporkan progres pembangunan di sana. Jadi, aku bisa fokus mengurus pekerjaan di kota ini."


"Hati-hati, Bar. Namanya bisnis tidak boleh terlalu percaya dengan orang lain sekalipun itu orang kepercayaanmu. Kalau ada waktu, usahakan cek sendiri kondisi di lapangan. Aku berkata seperti ini karena khawatir dengan dirimu," ucap Thea.


"Dengarkan ucapan Thea, Bara ... orang terdekat juga terkadang bisa berkhianat. Kamu juga pernah merasakannya sendiri, kan?" Ratih membali menyindir Silvia.


Bara mengulaskan senyum. Ia heran sendiri kalau wanita berkumpul pembahasannya hanya saling sindir. Padahal, ia mempunyai wanita pilihannya sendiri, bukan Silvia maupun Thea. Memikirkan tentang hal itu, Bara membali teringat kepada Retha yang masih ada di rumah. Ia melihat jam, ternyata tanpa terasa sudah sore. Terlalu sibuk mengikuti Kenzo sampai membuat ia lupa mengabari Retha.


"Silvia, Kenzo, kita pulang sekarang!" pinta Bara seraya bangkit dari duduknya dengan terburu-buru. Silvia sampai kebingungan karena tangannya ditarik agar ikut berdiri. Padahal, makanan Kenzo juga belum habis.


Ratih ikut tercengang dengan kelakuan putranya. "Bara, kamu tidak sopan sekali meninggalkan mama dan Thea!" keluhnya.


"Maaf, Ma. Kalian tidak sedang bertamu di rumahku, ini tempat makan umum. Kasihan yang sedang menunggu mendapatkan tempat duduk kalau terlalu lama kita mengobrol di sini."


Bara menarik paks tangan Silvia agar pergi dengannya. Setelah dari sana, ia akan mengantarkan mereka pulang ke apartemen. Lalu, ia akan kembali menemui Retha untuk meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2