
Zack duduk memandangi wanita yang ada di hadapannya. Rasa kagum terhadap wanita itu masih belum pudar. Sesekali terbersit niat untuk membawanya kabur dari si suami. Toh dulu seharusnya wanita itu menjadi miliknya.
Saat Bara mengatakan padanya bahwa wanita yang berada di hadapannya kini merupakan istri Bara yang disembunyikan, ia benar-benar ingin menghajar Bara. Zack sudah berusaha mencari keberadaan Retha sampai seluruh klab malam dan rumah pr0stitusi ia datangi. Hasilnya nihil. Diam-diam wanita pujaannya telah dinikahi oleh sahabatnya sendiri.
Awal mendengar ia merasa lemas. Baru saja ia benar-benar bisa tertarik kepada seorang wanita tapi sudah disambar saja oleh Bara. Kalau saja Retha memilih dirinya ia yakin bisa menjadi lelaki yang setia.
Sementara, Retha merasa kikuk berhadapan dengan Zack, lelaki yang pernah ia temui di tempat Tante Sukma. Ia ingat betul lelaki itu yang telah membelinya untuk diajak ke luar kota. Tapi, lelaki itu pula yang membuat dirinya dipertemukan kembali dengan Bara yang kini menjadi suaminya.
"Kamu tidak perlu sungkan atau takut. Aku ini sahabatnya Bara, bisa kamu andalkan jika butuh bantuan," ucap Zack berusaha mencairkan situasi. "Aku juga tidak akan menceritakan kisah perkenalan kita dulu. Apalagi Bara sialan itu yang mengambilmu dariku," lanjutnya.
"Tapi, kalau kamu merasa ingin pergi darinya, aku siap menjadi tempat pelarianmu." Zack tipe orang yang sulit diajak serius. Ia masih juga berusaha melucu di hadapan Retha.
"Oh, iya. Harus aku sampaikan kepadamu, Silvia sudah tahu kalau kamu adalah istri kedua Bara. Wanita itu mungkin akan berusaha untuk mencelakaimu. Makanya aku datang ke sini menempatkan beberapa bodyguard untuk menjagamu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa mengadu pada bodyguard yang aku berikan. Atau hubungi aku secara langsung juga bisa."
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Retha.
"Katanya kamu sedang hamil?" tanya Zack.
Retha mengangguk.
"Si sialan itu pasti rajin bercocok tanam. Jadi ingin aku hajar lagi," gerutunya dengan nada lirih.
"Satu lagi yang harus kamu waspadai, seorang wanita bernama Thea. Kalau sampai ia menawarkan bantuan atau perkataan manis, tidak usah kamu dengarkan. Dia tidak sepenuhnya tulus karena masih ada dendam kepada Bara di masa lalu. Kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Zack.
Kali ini Retha menggeleng.
"Jangan sampai kamu bertemu dengannya. Pokoknya, kalau dia bilang hal aneh-aneh tentang Bara, tidak usah dipercaya."
__ADS_1
"Nona Retha, Nyonya sudah menunggu Anda di rumah."
Saat Zack dan Retha sedang sopir dari keluarga Atmaja datang menemui Retha. Ia disuruh menjemput Retha dan membawanya ke kediaman orang tua Bara.
"Ah, Pak Zack, sepertinya saya harus pamit sekarang. Soalnya Ibu Ratih meminta bertemu," ucapnya.
"Ngomong-ngomong, Tante Ratih bagaimana responnya terhadapmu?" tanya Zack ingin tahu.
Retha tersenyum kaku. "Saya tidak tahu. Tapi, selama ini biasa saja setelah tahu kalau saya jadi istri Mas Bara."
Zack mangguk-mangguk. Beda menantu, beda sikap juga yang Ratih tampilkan. Saat Silvia masih menjadi istri Bara, Ratih sering mengomel dengan keputusan putranya menikahi Silvia.
"Kalau begitu, pergilah! Pokoknya, seperti yang aku sampaikan, kamu harus hati-hati."
Retha mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi mengikuti sopir yang dikirim keluarga Atmaja. Salah seorang bodyguard yang Zack berikan menyertai mereka, dua orang lainnya berjaga-jaga di apartemen Retha.
Retha duduk di bangku belakang, sementara kedua lelaki itu duduk di depan. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan, mereka seperti sekumpulan orang yang masih kikuk satu sama lain. Bahkan Retha belum mengenal nama sopir dan penjaganya tersebut. Ia hanya menurut saja apa keinginan Bara.
"Bagaimana kondisi kehamilanmu? Apa kamu sudah pergi untuk cek ke dokter?" tanya Ratih.
Retha masih terlihat sungkan berhadapan dengan mertua dan adik iparnya.
"Jangan tegang begitu, kita nggak ada yang mau memakanku," canda Mikha.
Retha tersenyum. "Saya sudah memeriksakan kandungan minggu lalu, Bu. Kondisi janinnya juga baik," jawabnya.
"Panggil saja aku Mama seperti Bara. Kamu juga bukan orang lain lagi, melainkan menantuku," pinta Ratih.
__ADS_1
"Dan jangan bingung-bingung untuk memanggilku apa, panggil saja aku Mikha. Walaupun usiamu lebih muda dariku, tidak apa-apa panggil nama saja karena kamu istri kakakku."
Retha merasa lega. Ia mengira akan disuruh cerai secara paksa saat mendapat kabar sang mertua menyuruhnya datang ke rumah. Ternyata, perlakuan mereka tetap baik meskipun sudah tahu ia merupakan istri kedua Bara.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja," pinta Ratih.
Retha tercengang dengan permintaan sang mertua.
"Kamu sedang hamil muda, takutnya terjadi apa-apa tidak ada yang menjagamu di sana. Bara yang seharusnya mendampingimu juga masih ada di penjara." Ratih menghela napas. Ia terkadang merasa tidak paham dengan kemauan Bara. Padahal, jika ingin membebaskannya adalah perkara gampang. Tapi, putranya anak yang keras kepala, pantang pulang sebelum terbukti tidak bersalah.
"Ada Bi Darmi yang menemani di apartemen, Bu. Ah, maksudnya ... Mama." Retha terlihat canggung memanggil mertuanya.
"Bi Darmi kan sudah tua, kalau kamu ngidam kepingin seblak tengah malam, di sini banyak orang yang bisa kamu suruh," ucap Mikha.
Retha tertawa kecil. "Hari ini Mas Bara juga memberikan bodyguard untuk berjaga di sekitar apartemen. Mungkin nanti bisa menyuruh mereka."
"Nah kan, Ma ... Takutnya Silvia datang ke sana mencelakai Retha, Ma ... Biar Retha pindah ke sini saja," pinta Mikha.
"Kamu benar juga, Mikha. Wanita itu memang setengah gila, bisa berbuat hal yang tidak-tidak. Lebih baik kamu tinggal di sini saja."
"Oh, iya! Apartemen yang kamu tempati tidak disita polisi, ya?" tanya Mikha.
"Mas Bara memberikan apartemen itu atas namaku, jadi tidak disita polisi."
"Kamu yang sabar, Retha. Suamimu yang keras kepala itu memang sedang ditimpa musibah. Kamu tidak perlu khawatir, kalau semua masalah sudah mereda, Bara pasti akan bisa bangkit lagi." Ratih berusaha membesarkan hati Retha. Ia sendiri merasa mungkin tidak akan sanggup bertahan jika ditinggal suaminya yabmng terjerat kasus.
"Kamu bisa memakai ini untuk membeli segala keperluan sehari-hari." Ratih menyodorkan selembar kartu kredit ke hadapan Retha.
__ADS_1
"Ambil saja, Retha. Anggap saja kami menggantikan Bara melakukan kewajibannya memberikan nafkah kepadamu," ucap Mikha.
Retha begitu bahagia menerima perhatian yang begitu besar dari keluarga Bara. "Maaf, Ma. Bukannya tidak mau menerima niat baik Mama, tapi ... Saldo di rekening yang Mas Bara berikan saja masih utuh dan bingung mau digunakan untuk apa." Retha menyunggingkan senyuman kaku.