
"Daddy ... ikut ... Kenzo mau ikut ...."
Kenzo terus merengek tak mau lepas dari gendongan Bara. Ia memeluk erat-erat sang ayah saat ia berpamitan akan pergi ke luar negeri. Selain Kenzo, ada Ratih dan Mikha serta kedua keponakan yang mengantar kepergian Bara di bandara.
"Sudah, Kenzo. Daddy kamu mau kerja, bukan mau main. Di rumah saja bareng Oma dan Aunty, main sama Eril dan Gisel. Kita mau main ke taman hiburan akhir pekan nanti. Kalau kamu ikut Daddy, nanti di sana ditinggal kerja!" Mikha berusaha membujuk keponakannya agar mau melepaskan kakanya. Sebagai adik, meskipun telah memiliki anak sendiri, ia juga sering direpotkan kakaknya membantu menjagakan Kenzo. Mikha sudah terbiasa menjaga tiga anak kecil sekaligus di rumah. Dia juga kasihan kepada kakaknya yang repot bekerja juga ditinggalkan oleh istrinya.
Perkataan Mikha cukup bisa menarik perhatian Kenzo. "Kita juga mau main bareng ke peternakan. Kenzo suka lihat kuda? Sapi? Kambing? Di sana ada semua ... kita juga bisa camping, bikin tenda."
"Aunty Mikha nggak bohong? Kenzo mau tidur di tenda!" Kenzo terlihat antusias.
"Oh, tentu! Kita nanti akan berkemah bersama bareng Oma Opa juga. Biar Daddy kerja sendiri kasihan, nggak diajak," ledek Mikha.
"Kenzo nggak jadi ikut Daddy, mau ikut Aunty Mikha saja!" Kenzo minta turun dari gendongan Bara. Ia langsung berlari memeluk Mikha. Wanita itu memang pawang yang cerdas untuk Kenzo. Eril yang iri ikut-ikutan memeluk ibunya, tidak mau kalah dengan Kenzo.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu. Ma, Bara berangkat, ya!" ucap Bara seraya mencium tangan ibunya dan memeluknya.
"Hati-hati," pesan sang ibu.
"Mikha, aku berangkat dulu, ya! Titip Kenzo," pamitnya kepada sang adik.
"Ya, jangan khawatir tentang Kenzo. Selesaikan saja urusanmu di sana dan cepat kembali. Jangan lupa bawa oleh-oleh untukku!" Mikha menuntut jatahnya.
"Beres ... Eril, Gisel, Om Bara berangkat dulu, ya ... main yang akur sama Kenzo." Ia mengusap kepala kedua keponakannya.
Mikha menariknya sebentar, mendekatkan mulut ke telinga Bara. "Cepat bikahi Thea, Kak! Retpot mengurus anakmu terus, tahu! Mama juga mengomel terus," bisiknya.
__ADS_1
Bara hanya tertawa mendengar keluhan adiknya. "Tas Gvcci cukup kan untuk menghilangkan capekmu?" Ia berusaha menyogok adiknya.
"Model terbaru ya, nanti aku kirimi gambarnya." Mikha mengulaskan senyuman lebar.
Sementara, di sudut lain, Retha mengenakan topi dan maskernya baru saja masuk melewati pemeriksaan pertama di pintu masuk bandara. Ia mengarahkan pandangan pada Bara yang sedang bercengkrama dengan keluarganya.
Entah mengapa tiba-tiba ada rasa sedih yang hinggap di hatinya. Retha sudah menjadi istri sah Bara, namun belum bisa menyapa keluarga Bara. Bahkan statusnya sebagai istri Bara sudah pasti tidak diketahui oleh mereka.
Matanya berkaca-kaca. Namun, ia mencoba menghela napas untuk menenangkan diri. Ia tidak boleh sedih dengan pilihan hidupnya sendiri. Menjadi istri sah Bara yang disembunyikan masih jauh lebih baik dari pada menjadi pelacvr atau pelayan klab malam yang sudah pernah ia rasakan. Mungkin status pernikahan mereka akan dipandang hanya untuk melegalkan pelacvran pribadi yang dilakukannya yaitu melayani Bara.
Bagi Retha sendiri, menikah dengan Bara merupakan bentuk tanggung jawab Bara terhadap dirinya. Selain mencukupi kebutuhannya, Bara juga menyanggupi untuk mengurus kehidupan ayahnya dan adiknya. Ia sudah sangat jauh beruntung dan tidak seharusnya mengeluh. Permasalahan ekonomi yang sebelumbya membuat dirinya menderita kini sudah hilang. Saatnya ia berbahagia menikmati pernikahannya.
Retha membawa koper dan tas jinjingnya ke area pemeriksaan barang. Selepas itu, ia menuju longue yang telah dipesan oleh Bara. Ini pertama kalinya Retha naik pesawat ke luar negeri menggunakan first class. Pernah dua kali ia naik pesawat untuk tujuan domestik.
"Sayang, kamu sudah menunggu lama?" ucap Bara yang baru datang. Lelaki itu langsung mengecup kening istrinya seraya duduk di sebelahnya.
"Buka masker dan topinya. Di sini sudah aman," ucap Bara.
Retha segera melakukan apa yang Bara mau. Ia sengaja menutupi wajahnya agar tidak ketahuan pergi bersama Bara ke bandara. Bara duduk bersebelahan dengan Retha di sofa, merangkul pinggangnya, seaya menyandarkan kepala di bahu wanita itu.
"Kamu senang, akhirnya kita bisa jalan-jalan berdua?" tanya Bara dengan seulas senyum.
"Senang," jawab Retha.
Bara mengerutkan dahinya. Ia merasa Retha tidak bersemangat menikmati perjalanan bulan madu mereka. Padahal, ia sudah menyiapkan hari itu dengan sebaik mungkin. "Kamu kenapa? Sepertinya tidak senang aku ajak liburan, Sayang? Apa ada yang kamu inginkan?"
__ADS_1
Bara merencanakan liburan untuk membuat istrinya bahagia. Jika istrinya tidak bahagia, maka ia merasa usahanya sia-sia. "Coba bilang, kenapa wajahmu murung?" Ia mencoba mencari tahu apa penyebab istrinya cemberut.
"Tidak apa-apa, Mas ... aku hanya merasa sedikit sedih tidak bisa ikut menyapa keluargamu," ucap Retha.
Bara terdiam sejenak mendengar keluhan istrinya. Ia tidak tahu jika ternyata sang istri juga sebenarnya ingin ikut berpamitan dengan ibu dan adiknya. Ia menarik tubuh Retha lebih erat ke dalam pelukannya. "Sabar ya, Sayang ... kalau waktunya sudah tepat, aku akan memperkenalkanmu kepada mereka. Kita bahagiakan diri kita dulu, jangan berpikir yang jauh-jauh."
"Iya, Mas. Aku tidak apa-apa. Tadi hanya sedikit iri melihatmu berpamitan kepada Kenzo juga. Aku ingin Kenzo ikut sebenarnya."
Bara tentu saja tidak mau. Ia ingat seminggu sebelum berangkat, Kenzo yang setiap malam minta menginap di apartemennya dengan Retha selalu membuatnya tidak punya kesempatan berdua dengan Retha. Sejak menikah ia kembali jadi anak kecil yang tidak mau kalah. Seminggu itu ia harus selalu memindahkan Retha secara diam-diam ke kamar. Ia tidak bisa mengulang percintaan mereka seperti saat malam pertama.
"Kalau mengajak Kenzo nanti kamu kerepotan. Tujuannya kan mau mengajakmu liburan, bukan untuk menjadikanmu mengasuh Kenzo. Nikmati saja, Sayang."
"Kamu ayah yang tidak perhatian ya, dengan anak! Suka banget nitipin anak ke orang tua!" Retha memberikan tabokan ringan ke lengan Bara.
"Itu sebenarnya mamaku yang memaksa, dia memang ingin dekat dengan cucunya ... bukan kemauanku," kilah Bara.
"Kelihatan banget kamu orang yang nggak mau ngalah! Masa sama anak sendiri cemburu."
"Siapa yang cemburu?" kilah Bara lagi.
"Setiap malam apa itu namanya kalau bukan cemburu? Aku tidur di sebelah Kenzo selalu dipindah ke sebelahmu."
"Itu bukan cemburu. Kenzo sudah biasa tidur sendiri. Nanti kalau kamu tidur di sampingnya, Kenzo tidak akan mandiri."
Perjalanan bulan madu mereka diiringi oleh perdebatan kecil di antara mereka.
__ADS_1